Cerita Polisi Setut Avanza Mogok di Tol Cipali, Lebih dari 3 Km dengan Satu Kaki

Arus mudik di Tol Cikopo-Palimanan diwarnai peristiwa yang menarik perhatian publik. Sebuah Toyota Avanza milik pemudik mogok di ruas Tol Cipali, lalu dievakuasi dengan cara tidak biasa oleh petugas kepolisian menggunakan motor gede dinas.

Peristiwa itu menjadi sorotan setelah videonya diunggah akun resmi Satlantas Polres Purwakarta. Dalam rekaman tersebut, mobil melaju perlahan di lajur kiri sementara seorang polisi lalu lintas menopang dan mendorong kendaraan itu dengan kaki kanan dari atas moge.

Evakuasi darurat di tengah arus mudik

Berdasarkan keterangan dalam unggahan yang beredar, aksi itu dilakukan hingga lebih dari 3 kilometer sampai kendaraan berhasil keluar dari ruas tol. Situasi tersebut terjadi di tengah arus kendaraan pemudik yang padat, sehingga penanganan cepat menjadi penting untuk mencegah gangguan lalu lintas yang lebih besar.

Pemudik yang berada di dalam mobil terdengar menyampaikan terima kasih setelah sampai di area aman. Dalam video, ia menyebut bantuan itu dilakukan sejauh “tiga kilo atau empat kilo”, menggambarkan jarak evakuasi yang cukup panjang untuk ukuran penanganan darurat di jalan tol.

Cara evakuasi ini terbilang tidak lazim. Teknik stut lebih sering dikenal antar sepeda motor, sedangkan dalam kasus ini petugas mendorong sebuah mobil dengan bertumpu pada bagian bumper belakang kendaraan.

Bagaimana polisi melakukan stut pada mobil mogok

Dari tayangan yang beredar, petugas terlihat menjaga laju motor tetap stabil sambil menyalurkan dorongan melalui kaki. Posisi kaki ditempatkan pada sisi bumper kanan belakang mobil agar tenaga dari motor bisa membantu mobil bergerak perlahan.

Secara teknis, tindakan seperti ini membutuhkan kontrol yang sangat presisi. Motor harus tetap seimbang, pengendara harus menjaga arah, dan dorongan harus konsisten agar mobil tidak oleng atau berhenti mendadak di tengah jalur.

Penggunaan motor gede dinas dinilai berperan besar dalam proses itu. Motor jenis ini memiliki torsi besar yang membantu menciptakan momentum awal ketika mobil dalam posisi diam atau sulit bergerak.

Saat momentum sudah terbentuk, mobil lebih mudah menggelinding menuju lokasi aman. Dalam konteks jalan tol, memindahkan kendaraan mogok secepat mungkin dari lajur aktif memang menjadi prioritas untuk mengurangi risiko tabrakan dari belakang.

Alasan kendaraan mogok di tol harus segera dipinggirkan

Mobil yang berhenti di jalan tol berisiko memicu kecelakaan beruntun. Pengemudi lain sering kali melaju dalam kecepatan tinggi, sehingga kendaraan yang mendadak diam di lajur dapat menjadi titik bahaya.

Karena itu, langkah darurat biasanya diarahkan pada dua tujuan utama. Pertama, melindungi penumpang dan pengguna jalan lain, kedua, memindahkan kendaraan ke bahu jalan atau keluar tol agar penanganan lanjutan bisa dilakukan dengan lebih aman.

Setelah keluar dari ruas tol, petugas disebut langsung membantu memeriksa kendaraan pemudik tersebut. Tindakan ini menunjukkan bahwa evakuasi bukan hanya memindahkan mobil, tetapi juga memastikan pengguna jalan mendapat pertolongan awal.

Dipuji publik, tetapi tetap berisiko tinggi

Aksi polisi itu menuai banyak apresiasi karena dinilai sigap membantu pemudik yang kesulitan. Di tengah kepadatan arus mudik, respons cepat seperti ini sering dianggap krusial untuk mencegah antrean panjang dan potensi kecelakaan.

Namun, dari sisi keselamatan berkendara, teknik stut semacam itu tidak disarankan untuk dilakukan masyarakat umum. Risiko kehilangan keseimbangan sangat besar, terlebih jika kendaraan yang didorong adalah mobil dengan bobot jauh lebih berat daripada sepeda motor.

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, pernah mengingatkan bahwa mendorong kendaraan dengan satu kaki sangat mudah memicu hilang kendali. Menurut dia, kondisi itu bisa berujung pada kecelakaan jika pengendara tidak memiliki kemampuan, pengalaman, dan dukungan kendaraan yang memadai.

Berikut beberapa risiko utama dari teknik stut pada mobil mogok:

  1. Motor mudah limbung saat tenaga dorong disalurkan lewat satu kaki.
  2. Jarak pengereman menjadi lebih sulit diprediksi.
  3. Mobil yang didorong bisa berubah arah secara tiba-tiba.
  4. Pengendara lain dapat kaget karena melihat manuver tidak biasa di lajur jalan.
  5. Potensi tabrakan meningkat jika kondisi lalu lintas ramai.

Apa yang sebaiknya dilakukan pengendara saat mobil mogok di tol

Pengemudi yang mengalami mogok di jalan tol perlu mengutamakan prosedur keselamatan standar. Langkah cepat dan tepat jauh lebih aman dibanding mencoba penanganan sendiri yang berisiko.

Langkah dasar yang umum dianjurkan adalah sebagai berikut:

  1. Nyalakan lampu hazard untuk memberi tanda darurat.
  2. Arahkan kendaraan ke bahu jalan jika masih memungkinkan.
  3. Pasang segitiga pengaman pada jarak aman di belakang kendaraan.
  4. Hubungi petugas tol atau layanan derek resmi.
  5. Evakuasi penumpang ke tempat aman di luar kendaraan jika situasi memungkinkan.

Peristiwa Avanza mogok yang di-stut polisi di Tol Cipali memperlihatkan sisi sigap petugas saat menghadapi kondisi darurat di lapangan. Di saat yang sama, kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan kendaraan mogok di jalan tol harus tetap mengutamakan keselamatan, prosedur resmi, dan bantuan petugas yang berwenang.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com

Berita Terkait

Back to top button