Kecelakaan lalu lintas tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menggerus kondisi keuangan keluarga dalam waktu sangat cepat. Dalam hitung-hitungan ekonomi, satu insiden di jalan bisa memicu biaya medis, kehilangan pendapatan, dan pengeluaran darurat yang membuat rumah tangga jatuh ke jurang kemiskinan.
Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano, menyebut beban ekonomi kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai lebih dari Rp 3 triliun. Angka itu dihitung dari data Korlantas Polri yang diolah RSA, dengan catatan 158.508 kejadian kecelakaan, 24.296 korban meninggal dunia, 19.311 luka berat, dan 195.271 luka ringan.
Biaya yang Tidak Terlihat di Jalan Raya
Kerugian akibat kecelakaan sering kali hanya dilihat dari kerusakan kendaraan atau nilai material di lokasi kejadian. Padahal, beban terbesar justru muncul setelahnya, saat keluarga harus membayar pemakaman, perawatan rumah sakit, obat-obatan, dan kehilangan penghasilan.
Rio menjelaskan bahwa kerugian material tercatat Rp 314 miliar, namun biaya nyata jauh lebih besar ketika seluruh komponen dihitung. RSA memperkirakan biaya pemakaman korban meninggal sekitar Rp 243 miliar, biaya pengobatan luka berat sekitar Rp 386 miliar, dan luka ringan sekitar Rp 293 miliar, dengan total lebih dari Rp 1,2 triliun.
Produktivitas yang Hilang Jadi Beban Ekonomi
Dampak kecelakaan tidak berhenti pada biaya langsung. RSA juga menghitung hilangnya sekitar 2,8 juta hari kerja atau lebih dari 22 juta jam kerja, yang setara dengan potensi kehilangan produksi sekitar Rp 1,8 triliun.
Perhitungan ini menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas bukan hanya persoalan keselamatan, tetapi juga pukulan terhadap produktivitas nasional. Saat korban tidak bisa bekerja, perusahaan kehilangan tenaga, keluarga kehilangan pemasukan, dan ekonomi lokal ikut melambat.
Berikut ringkasan komponen beban ekonomi yang disebut RSA:
| Komponen | Nilai Perkiraan |
|---|---|
| Kerugian material | Rp 314 miliar |
| Biaya pemakaman | Rp 243 miliar |
| Biaya pengobatan luka berat | Rp 386 miliar |
| Biaya pengobatan luka ringan | Rp 293 miliar |
| Kehilangan produksi | Rp 1,8 triliun |
| Total beban ekonomi | Melampaui Rp 3 triliun |
Satu Kecelakaan Bisa Mengguncang Keuangan Keluarga
RSA mengingatkan bahwa dampak ekonomi paling berat sering dirasakan rumah tangga berpendapatan pas-pasan. Dengan rata-rata pendapatan pekerja sekitar Rp 3,33 juta per bulan dan garis kemiskinan rumah tangga di kisaran Rp 3 juta per bulan, ruang aman finansial masyarakat sangat tipis.
Dalam situasi itu, satu kecelakaan saja dapat mengacaukan arus kas keluarga. Bila korban adalah tulang punggung keluarga, luka ringan bisa memicu kehilangan pendapatan sekitar Rp 1 juta, sementara luka berat dapat menghilangkan Rp 8 juta sampai Rp 11 juta.
Jika korban meninggal dunia, keluarga berpotensi kehilangan sekitar Rp 40 juta dalam satu tahun pertama karena sumber nafkah terputus. Angka ini belum termasuk biaya tambahan lain seperti transportasi ke rumah sakit, perawatan lanjutan, atau pinjaman darurat yang sering dipakai keluarga untuk bertahan.
Dorongan ke Jurang Kemiskinan
Analisis RSA juga memperkirakan sekitar 37 ribu hingga 66 ribu orang bisa terdorong masuk ke kemiskinan setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas. Dalam skenario yang lebih luas, jumlah itu bisa mendekati 140 ribu orang, meski angka tersebut disebut sebagai pendekatan sosial-ekonomi dan bukan statistik resmi.
Temuan itu sejalan dengan pandangan global bahwa kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu penyebab utama hilangnya produktivitas di negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga pernah menempatkan keselamatan jalan sebagai isu kesehatan publik dan ekonomi yang serius.
Mengapa Anggaran Keselamatan Jalan Jadi Penting
RSA menilai investasi pada keselamatan jalan lebih murah dibanding menanggung kerugian berulang dari kecelakaan. Karena itu, anggaran perlu diarahkan ke perbaikan infrastruktur yang aman, standar keselamatan kendaraan, layanan darurat, trauma center, dan pengawasan berbasis teknologi.
Fokus lain ada pada kendaraan roda dua yang mendominasi kecelakaan. Penguatan perlindungan bagi pengendara motor dinilai penting karena kelompok ini paling rentan mengalami cedera berat, kehilangan pendapatan, dan beban biaya yang sulit ditanggung keluarga.
Tanpa intervensi yang sistemik, kecelakaan lalu lintas akan terus menciptakan siklus yang sama, yakni korban jiwa, biaya besar, dan keluarga yang makin rapuh secara ekonomi. Dalam hitungan yang paling sederhana, keselamatan jalan bukan hanya soal tertib berlalu lintas, tetapi juga soal menjaga pendapatan rumah tangga agar tidak jatuh ke bawah garis miskin.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com






