Perang Iran Dorong Warga Kabur Dari BBM, Papan SPBU ‘BUY BYD’ Jadi Simbolnya?

Ketegangan perang Iran vs AS-Israel ternyata ikut mengubah perilaku belanja kendaraan di sejumlah negara. Kenaikan harga minyak mentah dunia membuat banyak konsumen melirik mobil listrik sebagai pilihan yang lebih aman dari gejolak biaya energi.

Fenomena itu semakin ramai setelah beredar foto viral papan SPBU di Selandia Baru yang menampilkan tulisan “BUY BYD” alih-alih harga BBM. Meski jelas merupakan sindiran, unggahan tersebut menangkap kekhawatiran publik terhadap harga bahan bakar yang terus berfluktuasi dan mendorong pertanyaan yang sama: apakah konflik geopolitik ini benar-benar mempercepat peralihan ke kendaraan listrik?

Harga minyak naik, minat ke mobil listrik ikut terdorong

Lonjakan harga minyak biasanya membuat biaya operasional kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel naik lebih cepat. Dalam situasi seperti itu, mobil listrik kerap terlihat lebih menarik karena biaya pengisian daya umumnya lebih stabil dibanding membeli BBM di SPBU.

Di Filipina, efek ini terlihat jelas pada penjualan BYD. Dikutip dari The Japan Times, seorang tenaga penjual BYD bernama Matthew Dominique Poh mengatakan bahwa dalam dua pekan ia mampu membukukan pesanan setara pencapaian satu bulan penuh.

Poh menjelaskan bahwa banyak konsumen memilih beralih karena khawatir dengan kenaikan harga minyak. “Konsumen beramai-ramai mengganti kendaraan lama mereka dengan mobil baterai murni semata-mata karena pusing melihat kenaikan harga minyak,” ujarnya.

Viral papan SPBU “BUY BYD” di Selandia Baru

Foto yang beredar dari akun X CarNewsChina memperlihatkan layar digital SPBU BP di Selandia Baru yang diubah menjadi pesan “BUY BYD” dengan huruf hijau terang. Mengacu pada konteks unggahan itu, pesan tersebut bukan pengumuman resmi perusahaan, melainkan bentuk satire yang menyindir mahalnya harga bahan bakar.

Namun, sindiran itu terasa relevan karena pasar mobil listrik memang sedang menikmati momentum. Penjualan BYD di Selandia Baru dilaporkan melonjak hingga empat kali lipat dari kondisi normal sejak konflik di Timur Tengah memanas.

Berikut gambaran sederhananya:

  1. Harga minyak naik karena ketegangan geopolitik.
  2. Konsumen mulai menghitung ulang biaya mobilitas harian.
  3. Mobil listrik muncul sebagai alternatif yang dianggap lebih efisien.
  4. Merek seperti BYD ikut panen permintaan di beberapa pasar.

VinFast juga ikut kecipratan momentum

Fenomena serupa terjadi di Vietnam. Dealer VinFast di Hanoi disebut mengalami lonjakan kunjungan hingga empat kali lipat, sehingga showroom harus menambah staf untuk melayani calon pembeli.

Nguyen Hoang Tu Anh, perwakilan dealer VinFast, mengatakan pihaknya mampu menjual 250 unit dalam tiga minggu sejak perang Iran memanas. Ia juga menyebut penjualan harian kini mencapai sekitar 80 unit, atau dua kali lipat dibanding rata-rata harian pada awal tahun.

Salah satu pembeli, Lai The Manh Linh, mengaku menukar Toyota Vios berbahan bakar bensinnya dengan VinFast VF 5. Ia menilai kendaraan listrik membantu pengeluaran rumah tangga menjadi lebih hemat.

Krisis energi dan dorongan transisi hijau

Chief Economist Asian Development Bank, Albert Park, menilai harga minyak yang tinggi memang dapat mempercepat transisi ke kendaraan listrik. Menurutnya, lonjakan harga energi menciptakan insentif ekonomi yang kuat bagi konsumen untuk beralih ke transportasi rendah emisi.

Data yang disebut dalam laporan itu juga menunjukkan dampak yang lebih luas. Secara global, penggunaan kendaraan listrik sepanjang tahun lalu diklaim telah memangkas konsumsi setara 2,3 juta barel minyak per hari.

Meski begitu, para pengamat menilai efek ini perlu didukung kebijakan jangka panjang agar tidak berhenti sebagai reaksi sesaat. Infrastruktur pengisian daya masih menjadi tantangan besar, terutama di banyak negara berkembang yang baru mulai membangun ekosistem kendaraan listrik.

Faktor yang membuat mobil listrik makin dilirik

  1. Biaya energi lebih mudah diprediksi dibanding BBM.
  2. Konsumen ingin mengurangi risiko dari fluktuasi harga minyak.
  3. Produsen besar seperti BYD menawarkan pilihan model yang makin beragam.
  4. Pemerintah di banyak negara mulai mendorong transisi kendaraan bebas emisi.
  5. Infrastruktur charging station terus berkembang, meski belum merata.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, pasar otomotif justru memperlihatkan arah baru. Lonjakan minat terhadap mobil listrik di Filipina, Vietnam, dan Selandia Baru memperlihatkan bahwa perang dan mahalnya energi bisa menjadi pemicu perubahan perilaku konsumen, sekaligus memperkuat posisi merek-merek EV yang sigap menangkap momentum.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button