BAIC Kembangkan Baterai Sodium-Ion, Full 11 Menit dan Lithium Mulai Terdesak?

BAIC tengah menarik perhatian industri otomotif listrik lewat pengembangan baterai sodium-ion yang diklaim bisa terisi penuh hanya dalam sekitar 11 menit. Teknologi ini muncul sebagai salah satu kandidat penting untuk menjawab dua kebutuhan utama kendaraan listrik, yakni waktu isi daya yang lebih singkat dan biaya produksi yang lebih efisien.

Laporan ArenaEV yang dikutip Liputan6 menyebut baterai tersebut memakai teknologi pengisian cepat 4C. Artinya, baterai dapat menerima daya dengan laju yang jauh lebih tinggi dibandingkan baterai konvensional pada banyak mobil listrik saat ini.

Pengisian cepat jadi sorotan utama

Dalam uji konsep yang dibahas, BAIC menyebut baterainya bisa diisi dari kondisi rendah hingga penuh dalam waktu sekitar 11 menit. Angka itu langsung menempatkan sodium-ion sebagai teknologi yang patut diperhitungkan, terutama di segmen kendaraan listrik yang menuntut efisiensi waktu.

Kecepatan isi daya seperti ini penting karena masih ada kekhawatiran luas soal lamanya waktu pengisian mobil listrik. Jika prosesnya bisa dipangkas mendekati durasi pengisian bahan bakar, adopsi kendaraan listrik berpeluang bergerak lebih cepat di pasar yang masih sensitif terhadap kenyamanan pengguna.

Kepadatan energi mulai kompetitif

Selain cepat, prototipe baterai BAIC juga disebut memiliki densitas energi sekitar 170 Wh/kg. Nilai itu memang belum menyalip seluruh baterai lithium-ion, tetapi sudah dinilai mulai mendekati performa di kelas tertentu.

Kepadatan energi menjadi salah satu penentu utama karena berhubungan langsung dengan jarak tempuh dan efisiensi penyimpanan daya. Semakin tinggi angkanya, semakin besar energi yang bisa disimpan dalam bobot yang sama.

Berikut poin penting dari teknologi yang dikembangkan BAIC:

  1. Menggunakan baterai sodium-ion, bukan lithium-ion.
  2. Mendukung pengisian cepat 4C.
  3. Diklaim penuh dalam sekitar 11 menit.
  4. Memiliki densitas energi sekitar 170 Wh/kg.
  5. Memakai sel berbentuk prismatik untuk efisiensi ruang.

Mengapa sodium-ion mulai dilirik

Sodium-ion mendapat perhatian karena bahan bakunya lebih melimpah dibanding lithium. Kondisi ini membuka peluang biaya produksi yang lebih rendah dan rantai pasok yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Teknologi ini juga dianggap lebih ramah lingkungan karena tidak bergantung pada material langka seperti lithium atau kobalt. Dalam konteks industri otomotif global, faktor ini penting karena produsen kini tidak hanya mengejar performa, tetapi juga keamanan pasokan dan keberlanjutan bahan baku.

Masih ada tantangan sebelum masuk produksi massal

Meski menjanjikan, sodium-ion tetap memiliki tantangan teknis. Salah satu kelemahan yang selama ini melekat pada teknologi ini adalah densitas energinya yang cenderung lebih rendah dibanding lithium-ion.

Itulah sebabnya perkembangan BAIC dinilai penting karena berusaha memperkecil jarak performa tersebut. Jika efisiensi dan stabilitasnya terus membaik, sodium-ion dapat masuk ke lebih banyak skenario penggunaan, termasuk kendaraan listrik harian yang membutuhkan kombinasi jarak tempuh, ketahanan, dan waktu isi daya cepat.

Posisi BAIC dalam persaingan baterai kendaraan listrik

Langkah BAIC memperlihatkan bahwa persaingan baterai kendaraan listrik tidak lagi hanya berpusat pada lithium-ion. Industri kini mulai membuka ruang bagi alternatif lain yang lebih murah, lebih mudah dipasok, dan tetap kompetitif dari sisi performa.

Dalam tahap pengembangan seperti ini, tantangan berikutnya bukan hanya membuktikan keunggulan di laboratorium, tetapi juga menjaga konsistensi saat diproduksi dalam skala besar. Jika itu berhasil, baterai sodium-ion berpotensi menjadi pilihan penting untuk mobil listrik masa depan yang lebih cepat diisi dan lebih efisien digunakan.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.liputan6.com
Exit mobile version