Presiden Prabowo Subianto menyoroti arah baru konsumsi energi di Indonesia dengan pernyataan yang menempatkan kendaraan listrik sebagai pilihan masa depan, sementara bensin bisa menjadi mahal dan hanya terjangkau kelompok tertentu. Ia menilai lonjakan harga BBM dapat terjadi jika konflik geopolitik terus memengaruhi pasar minyak dunia.
Dalam penjelasannya, Prabowo menekankan bahwa transisi ke kendaraan listrik bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga soal ketahanan ekonomi nasional. Ia menyampaikan bahwa pemerintah ingin mendorong perubahan besar agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada bahan bakar fosil.
BBM Dinilai Semakin Tidak Menentu
Prabowo menyebut skenario harga BBM yang melonjak tajam bisa membuat bensin menjadi barang mahal. Ia bahkan mengatakan kendaraan berbahan bakar fosil pada akhirnya mungkin lebih banyak dipakai oleh kelompok berpenghasilan tinggi, seperti pemilik mobil super mewah.
“Jadi nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferrari, silakan lu pakai bensin, lu bayar aja harga dunia. Mau 200 dolar, lu orang kaya kok,” kata Prabowo dalam tayangan YouTube yang dikutip CNN Indonesia.
Pernyataan itu menggambarkan arah kebijakan yang ingin menekan konsumsi BBM dan mempercepat adopsi energi bersih. Pemerintah juga mendorong masyarakat agar mulai beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai untuk mengurangi beban biaya harian.
Simulasi Penghematan: Biaya Naik Motor Disebut Tinggal 20 Persen
Prabowo juga mengklaim pemerintah telah membuat simulasi penggunaan kendaraan listrik. Hasil simulasi itu disebut menunjukkan pengeluaran pengguna motor listrik bisa turun signifikan, bahkan tinggal sekitar 20 persen dari biaya sebelumnya.
“Kami sudah bikin simulasi, ternyata yang naik motor kalau pakai listrik pengeluaran tinggal 20 persen, seperlima. Jadi ini our game changer,” ujarnya.
Klaim penghematan itu menjadi salah satu argumen utama pemerintah dalam memperluas ekosistem kendaraan listrik. Dari sisi konsumen, biaya operasional yang lebih rendah memang menjadi daya tarik utama, terutama bagi pengguna sepeda motor yang jumlahnya sangat besar di Indonesia.
Langkah Pemerintah Percepat Konversi Motor
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menjelaskan bahwa pemerintah sedang menyiapkan konversi bertahap kendaraan berbahan bakar bensin menjadi kendaraan listrik. Fokus awalnya adalah sepeda motor, karena jumlahnya mencapai sekitar 120 juta unit di Indonesia.
Bahlil mengatakan program konversi sudah berjalan beberapa tahun terakhir. Setiap tahun, sekitar 200 ribu sepeda motor dikonversi dari bensin menjadi motor listrik.
Berikut poin penting dari kebijakan yang disorot pemerintah:
- Target awal diarahkan ke sepeda motor karena populasinya paling besar.
- Pemerintah ingin konversi dilakukan bertahap agar tidak membebani masyarakat.
- Biaya konversi disebut mulai turun karena teknologi makin murah.
- Skema dukungan sedang disiapkan agar program lebih mudah diakses.
Bahlil juga menyebut biaya konversi kini berpotensi berada di kisaran 5-6 juta rupiah karena perkembangan teknologi. Ia menegaskan pemerintah ingin hadir untuk mengurangi beban masyarakat dalam proses transisi ini.
Dorongan EV Jadi Bagian dari Transisi Energi Nasional
Arah kebijakan ini memperlihatkan bahwa pemerintah melihat kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang. Selain mengurangi ketergantungan pada impor BBM, percepatan adopsi EV juga dapat membantu menekan dampak gejolak harga minyak global.
Di sisi lain, transisi ini tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, mulai dari stasiun pengisian daya, ekosistem baterai, hingga regulasi yang memberi kepastian bagi produsen dan konsumen. Tanpa itu, percepatan adopsi kendaraan listrik bisa berjalan lebih lambat dari target.
Pernyataan Prabowo tentang bensin untuk orang kaya menegaskan pesan politik dan ekonomi yang kuat, yakni masa depan mobilitas Indonesia diarahkan ke listrik. Dengan jumlah motor yang sangat besar dan simulasi penghematan yang diklaim signifikan, pemerintah kini menempatkan kendaraan listrik sebagai salah satu instrumen utama untuk menghadapi risiko mahalnya BBM di masa depan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnnindonesia.com