Bensin Tembus USD3,9, Warga AS Beralih Ke Mobil Listrik

Author: Qoo Media

Lonjakan harga bensin di Amerika Serikat kembali mengubah perilaku konsumen otomotif. Harga rata-rata bensin nasional kini mencapai USD3,90 per galon, naik sekitar 30 persen dan menjadi level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir, sehingga minat terhadap mobil listrik ikut meningkat tajam.

Kenaikan itu terjadi di tengah gejolak pasar energi global setelah tensi geopolitik di Timur Tengah memanas. Situasi tersebut membuat banyak pembeli mobil di AS mulai menghitung ulang biaya kepemilikan kendaraan, terutama karena harga bahan bakar langsung terasa setiap kali pengisian di SPBU.

Lonjakan minat ke kendaraan listrik

Data dari platform pembelian mobil CarEdge menunjukkan pencarian kendaraan listrik naik 20 persen dalam tiga pekan sejak konflik memanas. Justin Fischer, analis otomotif CarEdge, mengatakan kenaikan itu muncul sangat cepat setelah kabar perang menyebar.

“Dalam waktu 48 jam setelah perang dimulai, terjadi lonjakan. Ini berhubungan langsung dengan berita tersebut,” kata Fischer, dikutip KabarBursa.com.

Ia menilai tren ini bisa bertahan bila harga bensin tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Menurut dia, tekanan biaya bahan bakar membuat konsumen lebih serius mempertimbangkan EV sebagai solusi penghematan jangka panjang.

Bensin mahal, keputusan beli ikut berubah

Edmunds juga mencatat pola serupa di pasar AS. Kepala wawasan Edmunds, Jessica Caldwell, menyebut harga bensin kini menjadi faktor yang sangat menentukan dalam proses pembelian kendaraan.

“Bensin bukanlah sesuatu yang bisa Anda hindari, itu ada di depan mata. Anda melihat biayanya setiap kali mengisi bensin,” ujar Caldwell.

Kondisi ini mendorong sebagian konsumen menimbang mobil listrik, meski banyak yang masih berhati-hati karena jaringan pengisian daya belum merata. Bagi keluarga yang mobilnya dipakai harian, selisih biaya pengisian bahan bakar menjadi pertimbangan yang semakin sulit diabaikan.

Faktor yang masih menahan adopsi EV di AS

Walau minat naik, pasar mobil listrik di AS belum bergerak secepat China atau beberapa negara maju lain. Salah satu penghambat utamanya adalah infrastruktur pengisian daya yang belum cukup luas, ditambah arah kebijakan yang berubah-ubah.

Sejumlah kebijakan kendaraan listrik pada era Joe Biden juga mulai dihapus di bawah pemerintahan Trump, termasuk insentif EV dan pelonggaran regulasi efisiensi bahan bakar. Kondisi ini kembali membuat produsen lebih nyaman mengandalkan SUV dan truk pikap berbahan bakar fosil yang masih lebih menguntungkan secara bisnis.

Beberapa merek seperti Ford, Nissan, dan Honda bahkan dilaporkan mengurangi atau menghentikan lini EV tertentu di pasar AS. Di sisi lain, tekanan harga bensin tetap membuka peluang bagi kendaraan listrik bekas yang kini lebih terjangkau bagi banyak pembeli.

Pilihan kendaraan yang semakin dilirik konsumen

Perubahan preferensi konsumen saat ini dapat dirangkum dalam tiga arah utama berikut.

  1. Mobil listrik baru, untuk pembeli yang siap beralih penuh dari bensin.
  2. Mobil listrik bekas, untuk konsumen yang ingin biaya lebih rendah dengan harga lebih terjangkau.
  3. Mobil hybrid, untuk pembeli yang belum siap masuk ke EV penuh tetapi ingin mengurangi konsumsi bensin.

Caldwell menyebut mobil listrik bekas kini menjadi opsi menarik, terutama bagi konsumen berpenghasilan rendah yang terdampak langsung oleh kenaikan harga BBM. Ia mengatakan mobil listrik bekas yang layak bisa ditemukan di bawah USD25.000, termasuk sejumlah model seperti Tesla, Chevrolet Equinox EV, dan Nissan Leaf.

Selain EV, mobil hybrid juga diperkirakan mendapat dorongan permintaan. Fischer menilai model seperti Toyota Camry dan Toyota RAV4 akan makin diminati karena menawarkan efisiensi tanpa langsung bergantung penuh pada jaringan charging.

Peta pasar yang masih berubah

Secara keseluruhan, pangsa pasar EV di AS masih terbatas. Tahun lalu, kendaraan listrik hanya menyumbang 7,8 persen dari total penjualan mobil, bahkan sedikit turun dibanding tahun sebelumnya.

Namun, arah global menunjukkan tren yang berbeda karena satu dari lima mobil baru yang terjual di dunia kini merupakan EV. Norwegia bahkan menunjukkan pergeseran yang jauh lebih cepat, dengan penjualan mobil bensin nyaris hilang dan hanya tujuh unit terjual pada Januari lalu.

Jessica Caldwell menilai produsen mobil AS memahami bahwa EV adalah strategi jangka panjang, tetapi mereka juga masih bisa meraih keuntungan cepat dari SUV dan truk pikap. Tantangan terbesar bagi industri otomotif Negeri Paman Sam tetap datang dari dominasi China dalam produksi massal EV dan ketidakpastian kebijakan domestik yang belum stabil.

Terbaru