Krisis bahan bakar minyak di Malaysia mulai memunculkan penyesuaian kebijakan subsidi, terutama untuk bensin Ron 95 yang selama ini menjadi salah satu bahan bakar paling banyak digunakan masyarakat. Pemerintah setempat kini membatasi sementara kuota bulanan dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan, dengan kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 April mendatang.
Langkah ini diumumkan di tengah kekhawatiran atas tekanan pasokan energi di kawasan Asia Tenggara, yang ikut terdampak situasi geopolitik di Timur Tengah. Meski ada pembatasan, pemerintah Malaysia menegaskan pasokan tetap mencukupi dan stabil untuk mayoritas pengguna yang berhak menerima subsidi.
Subsidi Ron 95 Tetap Berjalan, Tapi Kuota Dipangkas
Program subsidi bahan bakar Malaysia, Budi Madani Ron 95 atau Budi95, tetap menjadi penopang utama harga BBM bagi masyarakat. Dalam skema ini, harga Ron 95 dijual seharga 1,99 ringgit per liter, sehingga tarifnya masih jauh lebih rendah dibanding harga pasar.
Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim, yang juga memegang jabatan Menteri Keuangan, menyebut 90 persen pengguna bensin Ron 95 tidak akan terdampak oleh pemangkasan kuota tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan lebih diarahkan untuk menekan potensi penyalahgunaan, bukan mengurangi akses masyarakat umum secara luas.
Data dari Sekretaris Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Malaysia, Datuk Johan Mahmood Merican, memperkuat alasan itu. Ia menyampaikan bahwa 90 persen penerima Budi95 sebenarnya menggunakan kurang dari 200 liter per bulan.
Siapa yang Masih Mendapat Kuota Lebih Besar
Kebijakan baru ini tetap memberi ruang bagi kelompok tertentu yang membutuhkan BBM dalam jumlah lebih besar untuk operasional harian. Pengemudi e-hailing yang memenuhi syarat masih akan mendapat batas penggunaan hingga 800 liter per bulan.
Berikut ringkasan kuota yang disebut dalam kebijakan tersebut:
- Pengguna umum Ron 95: 200 liter per bulan.
- Pengemudi e-hailing yang memenuhi syarat: 800 liter per bulan.
- Harga subsidi Ron 95: 1,99 ringgit per liter.
Pembatasan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah Malaysia ingin menjaga subsidi tetap tepat sasaran. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga menunjukkan adanya upaya penyesuaian fiskal di tengah tekanan harga energi dan kebutuhan pengendalian belanja negara.
Pembatasan Juga Berlaku pada Solar di Malaysia Timur
Tidak hanya bensin Ron 95, pembatasan juga menyentuh distribusi diesel di Sabah dan Sarawak. Harga eceran solar di dua wilayah itu tetap di level RM 2,15 per liter, tetapi pemerintah menerapkan batas pembelian sementara untuk mencegah penyelundupan dan kebocoran subsidi.
Aturan pembelian diesel di Malaysia Timur dibedakan menurut jenis kendaraan. Mobil pribadi dan kendaraan komersial ringan hanya boleh membeli hingga 50 liter per transaksi, sementara angkutan umum darat dan kendaraan barang dengan bobot maksimal tiga ton dibatasi hingga 100 liter per transaksi.
Kendaraan dengan bobot lebih dari tiga ton masih diberi ruang lebih besar, yakni maksimal 150 liter per pembelian. Pemerintah juga menyatakan penegakan hukum akan diperketat agar kebijakan ini tidak mudah disalahgunakan.
Dampak ke Pengguna dan Sektor Transportasi
Pembatasan kuota BBM ini dapat memengaruhi pola konsumsi kendaraan pribadi, layanan transportasi daring, hingga rantai distribusi barang di wilayah tertentu. Namun, pemerintah Malaysia menekankan bahwa kebijakan ini dirancang untuk mempertahankan stabilitas pasokan dan mencegah gangguan yang lebih luas.
Di tengah situasi energi yang sensitif, keputusan membatasi subsidi kerap menjadi pilihan untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen dan keberlanjutan anggaran negara. Malaysia kini berada pada fase menjaga ketersediaan BBM tetap aman sambil menutup celah penyalahgunaan yang berisiko memperbesar beban subsidi.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa kebijakan energi di kawasan semakin dipengaruhi faktor eksternal, termasuk ketidakpastian geopolitik dan tekanan harga minyak global. Pemerintah Malaysia kini berupaya memastikan subsidi tetap dinikmati kelompok yang berhak, tanpa memicu kelangkaan atau kebocoran distribusi di lapangan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.liputan6.com








