
Perjalanan mudik dengan mobil listrik dari Tangerang Selatan ke Cirebon menjadi sorotan setelah seorang pengguna mengaku tidak perlu mengisi daya sama sekali di tengah kemacetan arus mudik. Rute ini ditempuh saat rest area di jalur tol padat, bahkan beberapa titik dilaporkan penuh hingga akses masuknya ikut tersendat.
Cerita tersebut viral karena menampilkan dua hal yang dicari banyak pemudik: efisiensi biaya dan ketahanan baterai. Dalam perjalanan lebih dari 200 kilometer itu, biaya energi disebut hanya sekitar Rp50 ribu dengan sisa baterai yang masih cukup besar saat mendekati tujuan.
Rest area padat, pengisian justru dihindari
Menurut data dari artikel referensi, perjalanan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dari kawasan Tangerang Selatan saat arus mudik sedang tinggi. Hampir seluruh rest area di sepanjang tol dipadati kendaraan, dan sejumlah lokasi sempat ditutup karena kapasitas penuh.
Kondisi itu membuat akses menuju SPKLU menjadi tantangan utama, bukan semata ketersediaan unit pengisian. Antrean untuk masuk rest area disebut bisa memakan waktu hingga satu jam, sehingga pengemudi memilih tidak mengecas selama perjalanan.
Strategi yang dipakai justru sederhana, yakni keluar tol untuk beristirahat. Langkah ini dinilai lebih efisien dibanding menunggu antrean panjang di dalam rest area yang berisiko menambah waktu tempuh.
Artikel referensi juga menyebut keputusan keluar tol tidak memberi dampak signifikan pada biaya perjalanan, terutama pada ruas seperti Cipali yang menerapkan tarif berdasarkan jarak tempuh. Bagi pengguna kendaraan listrik, pendekatan ini bisa menjadi alternatif saat fasilitas pendukung di rest area sedang penuh.
Baterai masih aman sampai tujuan
Mobil yang digunakan dalam perjalanan ini adalah Jaecoo J5. Kendaraan berangkat dengan kapasitas baterai sekitar 90 persen dan tiba di area tujuan dengan sisa sekitar 44 persen.
Artinya, untuk perjalanan lebih dari 200 kilometer, konsumsi baterainya hanya sekitar setengah dari kapasitas awal. Data ini memperkuat anggapan bahwa mobil listrik dengan baterai yang cukup dan gaya berkendara efisien dapat menempuh antarkota tanpa harus selalu bergantung pada pengisian di tengah jalan.
Biaya energi yang disebut sekitar Rp50 ribu juga menjadi perhatian publik. Angka itu memperlihatkan potensi efisiensi mobil listrik untuk perjalanan mudik, terutama bila dibandingkan dengan kondisi lalu lintas padat yang biasanya ikut meningkatkan konsumsi bahan bakar pada kendaraan konvensional.
Catatan penting bagi pemudik mobil listrik
Ada beberapa pelajaran yang bisa dibaca dari pengalaman ini. Poin berikut paling relevan bagi pengguna EV saat mudik:
- Berangkat dengan baterai tinggi agar fleksibel saat rest area penuh.
- Pantau kepadatan rest area, bukan hanya lokasi SPKLU.
- Pertimbangkan keluar tol untuk istirahat jika antrean terlalu panjang.
- Hitung jarak tempuh realistis sesuai sisa baterai dan kondisi lalu lintas.
Secara umum, kisah ini menunjukkan bahwa tantangan mudik mobil listrik tidak selalu ada pada kemampuan mobilnya. Dalam banyak kasus, hambatan terbesar justru terletak pada akses menuju titik pengisian saat volume kendaraan meningkat tajam di jalur utama.









