Harga Minyak Dunia Meledak, Dealer Mobil Listrik Kebanjiran Pesanan di Banyak Negara

Lonjakan harga minyak dunia mulai mengubah perilaku konsumen otomotif di sejumlah negara Asia Pasifik. Di tengah ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dealer mobil listrik dilaporkan kebanjiran pesanan karena pembeli mencari kendaraan yang lebih hemat biaya operasional.

Perubahan ini terlihat nyata di Filipina, Vietnam, Thailand, hingga Selandia Baru. Kenaikan harga energi membuat banyak pemilik mobil berbahan bakar bensin dan diesel meninjau ulang pengeluaran harian mereka, lalu beralih ke kendaraan listrik sebagai opsi yang dinilai lebih efisien.

Harga minyak mendorong perubahan pasar

Kenaikan harga minyak mentah global biasanya langsung memukul biaya transportasi rumah tangga. Saat harga bahan bakar naik, biaya penggunaan mobil konvensional ikut membengkak dan mendorong konsumen mencari alternatif yang lebih stabil.

Artikel referensi Suara.com mencatat ketegangan Iran-AS-Israel sebagai pemicu sentimen pasar energi global. Risiko gangguan distribusi, termasuk pada jalur strategis seperti Selat Hormuz, ikut menambah kekhawatiran bahwa harga bahan bakar bisa bergerak lebih tinggi dan tidak menentu.

Chief Economist Asian Development Bank, Albert Park, menilai kondisi seperti ini kerap mempercepat transisi ke kendaraan listrik. Ia menyebut tingginya harga minyak menciptakan insentif ekonomi yang kuat untuk mempercepat perpindahan ke transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Dealer mobil listrik mulai kewalahan melayani permintaan

Di Filipina, dealer BYD melaporkan lonjakan pesanan dalam waktu singkat. Tenaga penjual BYD, Matthew Dominique Poh, mengatakan ia menerima pesanan setara satu bulan hanya dalam dua pekan terakhir.

Poh menyebut alasan utama konsumen cukup jelas. “Konsumen mengganti kendaraan mereka dengan mobil listrik karena kenaikan harga minyak,” ujarnya, seperti dikutip pada Rabu, 25 Maret 2026.

Di Hanoi, Vietnam, efeknya bahkan lebih kuat. Dealer VinFast sampai menambah jumlah staf karena kunjungan konsumen meningkat hingga empat kali lipat sejak konflik mulai memicu gejolak di pasar energi.

Penjualan VinFast disebut mencapai 250 unit hanya dalam tiga minggu. Rata-rata penjualan hariannya menyentuh 80 unit, atau sekitar dua kali lipat dibanding rata-rata penjualan harian pada 2025.

Salah satu pembeli, Lai The Manh Linh, menukar Toyota Vios miliknya dengan VinFast 5. Ia mengatakan alasan ekonomi menjadi faktor utama keputusan tersebut karena mobil listrik dinilai mampu memangkas biaya penggunaan harian secara signifikan.

Tren meluas ke beberapa negara

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Asia Tenggara. Di Selandia Baru, penjualan BYD dilaporkan melonjak hingga empat kali lipat dibanding periode normal.

Di Bangkok, Thailand, tiga dealer MG juga merasakan kenaikan permintaan. Besarnya peningkatan disebut mencapai sekitar 20 persen sejak konflik di Timur Tengah memicu tekanan pada pasar energi global.

Data tersebut menunjukkan bahwa respons konsumen terhadap harga minyak tidak lagi bersifat lokal. Saat biaya bahan bakar naik, pasar kendaraan listrik di berbagai negara bergerak hampir bersamaan karena alasan yang sama, yakni efisiensi pengeluaran.

Mengapa mobil listrik makin menarik saat harga minyak naik

Ada beberapa faktor yang membuat mobil listrik lebih diminati ketika harga minyak melambung. Faktor-faktor ini bukan hanya soal tren, tetapi juga hitungan ekonomi yang lebih mudah dirasakan konsumen.

  1. Biaya energi per kilometer cenderung lebih rendah dibanding bensin.
  2. Pengeluaran rutin lebih mudah diprediksi saat tarif listrik relatif stabil.
  3. Perawatan kendaraan listrik umumnya lebih sederhana karena komponen bergerak lebih sedikit.
  4. Kekhawatiran terhadap fluktuasi harga BBM mendorong konsumen mencari kepastian biaya transportasi.

Di banyak pasar, keputusan membeli mobil listrik kini tidak semata didorong isu lingkungan. Pertimbangan penghematan jangka menengah justru menjadi alasan yang lebih konkret bagi pembeli ritel.

Dampaknya pada transisi energi global

Kondisi ini memperlihatkan bahwa transisi menuju kendaraan rendah emisi tidak hanya digerakkan regulasi pemerintah. Gejolak harga energi fosil juga dapat menjadi pendorong yang sangat kuat di sisi permintaan.

Menurut data yang dikutip dalam referensi, penggunaan kendaraan listrik secara global telah membantu mengurangi konsumsi minyak sekitar 2,3 juta barel per hari pada tahun lalu. Angka itu menunjukkan bahwa adopsi EV mulai memberi dampak nyata terhadap kebutuhan bahan bakar dunia.

Meski begitu, transisi ini masih menghadapi tantangan besar. Infrastruktur pengisian daya, kesiapan jaringan listrik, harga awal kendaraan, dan distribusi model yang merata tetap menjadi faktor penting yang menentukan seberapa cepat lonjakan minat ini bisa berubah menjadi pertumbuhan pasar yang berkelanjutan.

Di sisi lain, produsen otomotif asal China diperkirakan berada dalam posisi menguntungkan jika tren ini berlanjut. Merek seperti BYD dan MG sudah lebih agresif memperluas jaringan serta menawarkan pilihan model yang kompetitif, sehingga kenaikan harga minyak dunia bisa menjadi momentum baru bagi percepatan penjualan mobil listrik di banyak negara.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.suara.com
Exit mobile version