
BMW mulai menyiapkan sistem baru yang memungkinkan iX3 dan i3 merekam momen-momen kritis di jalan, lalu mengirimkannya ke perusahaan untuk membantu pengembangan fitur bantuan berkendara. Sistem ini berjalan di BMW Operating System X dan hanya aktif jika pengemudi memberi persetujuan saat proses awal pengaturan kendaraan.
Program tersebut menargetkan situasi yang benar-benar penting, bukan rekaman terus-menerus sepanjang perjalanan. BMW menyebut data yang dikumpulkan bisa berasal dari kejadian seperti pengereman keras, manuver menghindar mendadak, intervensi pengereman darurat, hingga hampir tabrakan saat berpindah jalur.
Cara kerja sistem perekaman BMW
BMW menegaskan bahwa pengambilan data berlangsung berbasis peristiwa. Artinya, mobil tidak terus mengunggah video, melainkan hanya menyimpan cuplikan saat sistem mendeteksi kondisi tertentu yang dianggap relevan untuk pengembangan teknologi.
Daftar situasi yang bisa memicu perekaman antara lain:
- Pengereman keras.
- Manuver menghindar mendadak.
- Intervensi automatic emergency braking.
- Hampir tabrakan saat lane change.
Dalam kondisi itu, mobil dapat merekam gambar dari kamera eksterior dan menggabungkannya dengan data kecepatan, sudut kemudi, arah kendaraan, serta pembacaan sensor lain. BMW menilai data nyata dari jalan raya jauh lebih berguna dibanding simulasi karena sistem bantuan berkendara bisa belajar dari perilaku pengemudi sebenarnya.
Persetujuan pengemudi jadi syarat utama
BMW USA memberi penjelasan bahwa setiap kendaraan yang menjalankan Operating System X akan meminta persetujuan tertulis dari pengemudi untuk memakai fitur seperti geolokasi, mikrofon, dan kamera. Pihak perusahaan juga menekankan bahwa persetujuan itu sepenuhnya berada di tangan pengemudi dan bisa dicabut kapan saja.
Pendekatan ini penting karena menyangkut privasi, apalagi data yang dikumpulkan termasuk video dari luar kendaraan. BMW mengatakan program ini dibuat sesuai regulasi perlindungan data yang berlaku dan bersifat opt-in, sehingga fitur tidak aktif tanpa izin pengguna.
Data yang diklaim sudah dianonimkan
BMW menyebut nomor pelat kendaraan akan dianonimkan sebelum data keluar dari mobil, selama secara teknis memungkinkan. Perusahaan juga mengatakan wajah akan diburamkan dan identitas kendaraan di server akan dihapus secara otomatis setelah data diterima.
Langkah itu dimaksudkan agar rekaman tidak bisa ditelusuri kembali ke pengemudi tertentu. BMW juga menegaskan bahwa data tersebut tidak dipakai untuk mengidentifikasi pengguna jalan satu per satu, melainkan untuk meningkatkan kinerja sistem keselamatan aktif seperti cross-traffic warning, lane-change assist, Highway Assist, dan City Assist.
Strategi BMW mengejar pengembangan sistem bantuan berkendara
BMW bukan merek pertama yang memanfaatkan data dunia nyata dari kendaraan pelanggan. Tesla sudah lebih dulu menjalankan pendekatan serupa selama bertahun-tahun, meski praktik itu sempat memicu sorotan besar soal privasi setelah muncul laporan bahwa karyawan bisa melihat momen tertentu di dalam mobil pelanggan.
Dalam kasus BMW, perusahaan berusaha menempatkan batas yang lebih jelas. Sistem hanya menyimpan cuplikan dari kejadian tertentu di jalan dan tidak memantau setiap saat, sehingga fokusnya berada pada peningkatan fitur keselamatan dan bukan pada pengawasan menyeluruh.
Apa yang akan berubah di iX3 dan i3
Fitur ini debut di iX3 dan akan hadir di i3, lalu menyusul ke model BMW future yang memakai Operating System X. BMW juga menyebut program ini akan diperluas bertahap ke kawasan European Economic Area, sementara hasil pengembangan dari data tersebut bisa dikirim kembali ke kendaraan melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air.
Jika tersebar luas, pendekatan ini bisa membuat mobil masa depan BMW belajar langsung dari situasi yang paling berisiko di jalan raya. Pada saat yang sama, keberhasilannya tetap bergantung pada satu faktor utama: seberapa besar kepercayaan pengemudi untuk mengizinkan mobil merekam dan mengirimkan potongan video dari “momen terburuk” mereka di jalan.
Source: www.carscoops.com








