Etanol Di Bensin Tak Bikin Mesin Loyo, Ahli Ungkap Batas Aman Sebenarnya

Pencampuran etanol ke dalam bensin kembali jadi sorotan karena kebijakan ini dinilai bisa membantu menekan ketergantungan pada impor bahan bakar sekaligus mendukung transisi energi. Di sisi lain, muncul kekhawatiran dari sebagian pemilik kendaraan bahwa bensin campuran etanol akan membuat mesin terasa loyo, boros, atau turun tenaganya.

Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, kekhawatiran itu tidak terlalu beralasan jika etanol dipakai dalam kadar rendah. Ia menjelaskan bahwa kandungan energi etanol sekitar 28 megajoule per kilogram, sementara bensin sekitar 40 megajoule per kilogram, sehingga campuran etanol 3 sampai 5 persen hanya menurunkan energi sekitar 1 persen.

Dampak ke mesin nyaris tak terasa

Tri menyebut penurunan energi sebesar itu praktis tidak akan terasa dalam pemakaian harian. Akselerasi, top speed, dan konsumsi bahan bakar tetap berada dalam rentang yang sangat mirip dengan bensin murni.

Secara teknis, selisih 1 persen termasuk sangat kecil dalam konteks penggunaan kendaraan sehari-hari. Pada kondisi jalan normal, pengemudi umumnya tidak akan bisa membedakan apakah mesin memakai bensin biasa atau bensin yang sudah dicampur etanol dengan kadar rendah.

Hal ini juga sejalan dengan standar internasional World Wide Fuel Charter. Standar itu masih memberi toleransi penurunan performa hingga 2 persen, sehingga campuran etanol dalam kadar rendah masih dianggap aman dari sisi performa.

Berapa kadar etanol yang masih aman?

Dalam penjelasan yang disampaikan Tri, kendaraan yang sudah mengikuti regulasi emisi terbaru umumnya masih dapat menerima bensin campuran etanol hingga sekitar 10 persen. Pada level itu, risiko gangguan pada performa maupun keandalan mesin masih tergolong kecil untuk kendaraan yang memang dirancang kompatibel.

Berikut gambaran sederhananya:

  1. Etanol 3–5 persen: Penurunan energi sekitar 1 persen dan nyaris tidak terasa saat dipakai berkendara.
  2. Etanol hingga 10 persen: Umumnya masih bisa diterima kendaraan modern yang sesuai regulasi emisi terbaru.
  3. Etanol pada kendaraan lama: Perlu perhatian khusus karena ada risiko pada material tertentu.

Kendaraan lama perlu lebih hati-hati

Masalah justru bisa muncul pada kendaraan yang lebih tua atau yang komponennya belum dirancang untuk bahan bakar beretanol. Tri mengingatkan bahwa material berbahan karet alami dapat mengalami swelling atau pembengkakan jika sering terpapar etanol.

Selain itu, logam yang tidak tahan korosi juga berpotensi lebih cepat rusak. Karena itu, penggunaan bensin bercampur etanol pada kendaraan lama perlu mempertimbangkan kondisi komponen, usia kendaraan, dan spesifikasi material pada sistem bahan bakar.

Risiko ini tidak berarti semua kendaraan lama langsung bermasalah. Namun, pemilik kendaraan perlu memperhatikan apakah pabrikan pernah merekomendasikan penggunaan bahan bakar beretanol dan sampai batas berapa kadar campurannya aman.

Mengapa etanol tetap didorong?

Dari sisi kebijakan, etanol dianggap punya nilai strategis karena bisa menjadi bagian dari energi terbarukan. Pengembangan bioetanol juga dinilai dapat membantu mengurangi impor bensin, yang selama ini ikut membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga minyak global.

Dorongan ini sejalan dengan upaya pemerintah memperluas pemanfaatan energi bersih dan membangun bauran energi yang lebih beragam. Selama penerapannya disiapkan dengan baik, etanol berpeluang menjadi solusi jangka panjang tanpa mengorbankan kinerja kendaraan.

Agar tidak menimbulkan masalah di lapangan, sosialisasi kepada pengguna kendaraan dan kesiapan teknis menjadi sangat penting. Informasi soal kompatibilitas produk, batas campuran, dan karakter kendaraan perlu disampaikan secara jelas supaya masyarakat bisa menyesuaikan pemakaian BBM dengan aman dan tepat.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button