Pantauan di sejumlah SPBU sepanjang jalur Wonogiri–Solo menunjukkan aktivitas pengisian BBM masih berjalan normal meski isu kenaikan harga BBM per April beredar di masyarakat. Antrean kendaraan memang muncul, tetapi hanya pada jam-jam tertentu saat arus kendaraan meningkat.
Dari pantauan di lapangan, kepadatan paling sering terlihat pada waktu berangkat dan pulang aktivitas, terutama pagi serta sore hari. Di luar periode itu, kondisi SPBU cenderung lengang dan tidak menunjukkan lonjakan antrean yang berarti.
SPBU yang Dipantau di Jalur Wonogiri–Solo
Pantauan dilakukan di beberapa titik sepanjang rute dari Wonogiri menuju Solo. Lokasi yang terlihat antara lain SPBU Pokoh Wonogiri, SPBU Pertamina Brumbung Wonogiri, SPBU Pertamina Selogiri Wonogiri, SPBU Jombor Sukoharjo, SPBU Begajah Sukoharjo, SPBU Kepuh Sukoharjo, SPBU Telukan Sukoharjo, SPBU COCO Pertamina Solo Baru, SPBU Pertamina Veteran Surakarta, hingga SPBU Bhayangkara Laweyan Surakarta.
Pada sejumlah titik itu, kendaraan masih datang bergantian untuk mengisi bahan bakar tanpa tanda kepadatan ekstrem sepanjang hari. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kabar yang beredar belum memicu kepanikan massal di lapangan.
Antrean Muncul di Jam Sibuk
Sejumlah pengendara menyebut antrean tidak terjadi terus-menerus, melainkan mengikuti pola mobilitas harian warga. Jam sibuk sekolah dan kantor menjadi waktu paling rawan karena banyak kendaraan berhenti hampir bersamaan di SPBU.
Dita, salah satu pengendara yang ditemui saat antre di wilayah Wonogiri, mengatakan bahwa kepadatan biasanya hanya terasa pada waktu tertentu. “Biasanya antrean di jam tertentu kayak jam berangkat dan pulang sekolah atau kantor gitu, kalau siang nggak terlalu ramai karena kadang panas,” ujarnya.
Pola ini sejalan dengan kebiasaan lalu lintas di jalur penghubung antarwilayah yang ramai dipakai pekerja dan pelajar. Ketika arus kendaraan menurun, antrean di SPBU ikut berkurang dan pelayanan kembali lancar.
Pilihan BBM Masih Didominasi Pertalite
Di tengah isu kenaikan harga BBM, sebagian pengendara tetap memilih jenis bahan bakar yang selama ini mereka gunakan. Pertalite masih jadi pilihan utama karena dianggap lebih terjangkau untuk kebutuhan harian.
Dita mengaku tetap memakai Pertalite sehingga isu kenaikan harga Pertamax tidak terlalu memengaruhi kebiasaannya. Ia menilai kebutuhan kendaraan sehari-hari lebih ditentukan oleh efisiensi biaya, bukan sekadar kabar harga jenis BBM lain.
Hal serupa disampaikan Joko, pengendara lain yang juga ditemui di lokasi. Ia mengatakan tidak terlalu terpengaruh oleh isu kenaikan harga Pertamax hingga Rp 5.000 per liter karena tidak menggunakan BBM tersebut.
“Tidak terlalu terpengaruh, karena saya pakainya Pertalite untuk kendaraan sehari-hari,” kata Joko.
Fakta Lapangan yang Terlihat di SPBU
Berdasarkan pantauan di sepanjang koridor Wonogiri–Solo, beberapa pola utama dapat dirangkum sebagai berikut.
- Antrean muncul terutama pada pagi dan sore hari.
- Di luar jam sibuk, SPBU relatif normal dan tidak padat.
- Pengguna kendaraan harian masih dominan memilih Pertalite.
- Isu kenaikan harga Pertamax belum berdampak besar pada aktivitas pengisian BBM di lapangan.
Kondisi ini menggambarkan bahwa masyarakat masih menjalankan aktivitas seperti biasa meski informasi soal harga BBM terus diperbincangkan. Di jalur Wonogiri–Solo, dinamika antrean lebih dipengaruhi jam mobilitas daripada kepanikan pembelian BBM.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com








