Pada masa mobil dan truk masih didominasi mesin pembakaran internal, banyak insinyur pada era itu percaya mesin diesel sedang menuju akhir. Sebagian industri bahkan melihat turbin gas sebagai penerus alami, karena teknologi ini sudah teruji di pesawat tempur dan dinilai lebih modern untuk kendaraan berat.
International Harvester termasuk perusahaan besar yang ikut percaya pada skenario itu. Alih-alih mengembangkan turbin dari nol, perusahaan ini mengambil langkah cepat dengan membeli Solar Aircraft Co. pada 1960, perusahaan yang sudah puluhan tahun membuat turbin gas untuk aplikasi stasioner dan maritim, dengan total sekitar 10 juta jam operasi kolektif di lini produknya.
Langkah berani International Harvester
Strategi International Harvester berbeda dari para pesaingnya seperti Ford, GM, Mack, Kenworth, Freightliner, dan Chrysler yang juga mengejar mimpi serupa. IH memilih memanfaatkan pengalaman Solar untuk mempercepat pengembangan mesin turbin guna diadaptasi ke kendaraan niaga dan alat berat.
Pendekatan itu tampak masuk akal di atas kertas, karena turbin menjanjikan konstruksi lebih sederhana, bobot lebih ringan, dan putaran kerja yang sangat tinggi. Namun, penerapan di dunia nyata justru memperlihatkan masalah besar yang sulit diatasi.
Traktor HT-341 jadi ujian awal
Eksperimen pertama IH adalah memasang mesin Solar pada sebuah traktor pertanian bernama HT-341. Prototipe ini mencuri perhatian publik karena dianggap futuristis, tetapi hasil uji pakainya jauh dari harapan.
Mesinnya bising, rumit, dan boros bahan bakar. IH akhirnya menghentikan proyek itu pada 1967, tetapi perusahaan belum sepenuhnya mundur dari ide menumbangkan diesel.
Turbostar, truk masa depan yang tak jadi masa depan
Pada tahun yang sama, IH mulai mengembangkan truk semi bertenaga turbin yang kemudian dikenal sebagai Turbostar. Model ini tampil ke publik pada 11 Januari 1968 dan memakai basis CO-4000 cabover dengan konfigurasi 6×4, yang juga dipasarkan IH dengan nama TranStar.
Secara visual, perubahan pada bodi tidak terlalu ekstrem. Gril dibuat lebih kecil, tinggi kendaraan sedikit dinaikkan, dan lampu depan ganda dipasang, tetapi daya tarik utama ada di balik kabin.
Spesifikasi yang terlihat menjanjikan
Solar B-series turbine yang dipasang di Turbostar punya bobot sekitar 1.585 pound, hanya sekitar separuh dari diesel sekelas pada masa itu. Mesin ini menghasilkan 300 tenaga kuda, berputar hingga 34.000 rpm di bagian internal, lalu diturunkan menjadi 4.000 rpm pada poros keluaran.
IH juga menambahkan recuperator khusus untuk menangkap panas buang dan menggunakannya kembali demi meningkatkan efisiensi bahan bakar. Karena turbin bekerja cukup dingin, sistem radiator tidak dibutuhkan, dan transmisi standar 10 percepatan diganti menjadi lima percepatan.
- Bobot mesin lebih ringan daripada diesel sekelasnya.
- Komponen pendingin utama bisa dihilangkan.
- Tenaga puncak dan putaran mesin terlihat sangat impresif.
- IH mempromosikannya sebagai “Truck of the Future”.
Masalah yang membuat industri ragu
Meski menawarkan banyak keunggulan teknis, turbin gas tetap sulit menandingi diesel dalam penggunaan harian. Diesel terus berkembang menjadi lebih ringan, lebih murah, dan lebih bertenaga, sementara biaya operasional turbin tetap tinggi dan konsumsi bahan bakarnya tidak sehemat yang diharapkan.
Bagi pengemudi truk, kepraktisan jauh lebih penting daripada inovasi yang terdengar revolusioner. Mereka membutuhkan mesin yang mudah dipakai, mudah dirawat, dan terbukti andal, bukan teknologi baru yang masih penuh tanda tanya.
Mengapa proyek itu gagal menumbangkan diesel
Kegagalan IH bukan semata-mata karena desainnya buruk. Masalah utamanya ada pada kombinasi faktor pasar, efisiensi, dan perkembangan teknologi mesin diesel yang justru bergerak lebih cepat dari perkiraan pendukung turbin.
Berikut faktor yang paling menentukan:
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Konsumsi bahan bakar tinggi | Biaya operasional naik |
| Teknologi belum matang untuk pasar massal | Risiko pemakaian harian tinggi |
| Diesel terus membaik | Keunggulan turbin cepat habis |
| Operator truk lebih konservatif | Adopsi pasar sangat lambat |
Akhirnya, International Harvester menarik steker proyek tersebut. Turbin memang tidak pernah menjadi pengganti diesel di truk niaga, tetapi Solar tidak benar-benar tenggelam karena perusahaan itu kemudian menemukan tempat yang nyaman di operasi ladang minyak, sektor yang memang membutuhkan mesin kuat dan tahan kerja berat.
