BBM Naik Bikin Mobil Listrik Makin Moncer, Pengamat Beberkan Hitung-Hitungannya

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM dinilai bisa menjadi katalis kuat bagi pasar mobil listrik di Indonesia. Di tengah ketidakpastian pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah dan potensi mahalnya energi fosil, kendaraan listrik diperkirakan makin menarik bagi konsumen yang mulai menghitung biaya penggunaan jangka panjang.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai arah pasar battery electric vehicle atau BEV pada 2026 cenderung semakin cerah. Ia menyebut selisih biaya operasional antara mobil listrik dan mobil berbahan bakar bensin akan semakin terlihat ketika harga minyak dunia terus naik.

Biaya penggunaan jadi alasan utama

Yannes menjelaskan, masyarakat kini makin sadar bahwa biaya harian mobil listrik jauh lebih rendah dibanding mobil ICE atau internal combustion engine. Dengan skema pengisian daya di rumah, biaya EV disebut hanya sekitar Rp200-300 per kilometer, sedangkan mobil bensin dengan kelas tenaga sebanding bisa mencapai Rp800-1.200 per kilometer.

Perbedaan itu membuat banyak calon pembeli mulai melihat mobil bukan hanya dari harga beli awal. Mereka juga mempertimbangkan total cost of ownership atau TCO, yakni seluruh biaya yang muncul selama kendaraan dipakai, termasuk energi, perawatan, dan penggunaan harian.

Dalam hitungan tahunan, selisihnya juga terlihat jelas. Dengan asumsi jarak tempuh 30 kilometer per hari, biaya operasional mobil listrik berada di kisaran Rp2,2 juta hingga Rp3,8 juta per tahun.

Sebagai perbandingan, mobil bensin dengan konsumsi Pertalite bisa menghabiskan Rp8,8 juta hingga Rp13 juta per tahun untuk jarak yang sama. Jika jarak tempuh harian makin jauh, selisih hematnya akan makin besar.

Data penjualan menunjukkan tren naik

Minat pasar terhadap kendaraan listrik juga tercermin dari data penjualan. Sepanjang 2025, penjualan mobil listrik menembus 103.931 unit dan menyumbang lebih dari 12 persen dari wholesales nasional, yakni distribusi dari pabrik ke dealer.

Mengacu pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, permintaan mobil listrik pada 2025 naik 141 persen dibanding 2024. Pada 2024, wholesales mobil listrik tercatat 43.188 unit.

Tren itu berlanjut pada awal 2026. Pengiriman mobil listrik ke dealer pada periode Januari-Februari naik 189,2 persen menjadi 22.508 unit dibanding periode yang sama pada 2025.

Proyeksi pangsa pasar BEV

Berdasarkan analisis Yannes, pangsa pasar BEV di Indonesia berpotensi menembus 18 hingga 25 persen sepanjang 2026. Ia menilai kenaikan harga BBM dan ketidakstabilan harga minyak bisa menjadi pendorong alami perpindahan konsumen ke mobil listrik.

Berikut faktor yang disebut mendukung pertumbuhan BEV:

  1. Harga energi fosil yang cenderung naik.
  2. Ketidakpastian pasokan minyak akibat konflik geopolitik.
  3. Biaya operasional harian BEV yang lebih murah.
  4. Konsumen makin memahami TCO dalam kepemilikan mobil.

Tantangan masih membayangi

Meski prospeknya positif, pasar mobil listrik masih menghadapi sejumlah hambatan. Yannes menyebut infrastruktur pengisian daya atau SPKLU belum merata di banyak daerah.

Ia juga mengingatkan bahwa harga BEV masih relatif tinggi setelah hilangnya insentif pembelian. Kondisi itu membuat keputusan pembelian tetap bergantung pada daya beli konsumen dan kesiapan ekosistem pendukung.

Di sisi lain, pola pikir pembeli mobil di Indonesia mulai berubah. Saat harga BBM bergerak naik dan biaya operasional menjadi pertimbangan utama, mobil listrik kian dipandang sebagai pilihan rasional, terutama bagi pengguna dengan mobilitas harian tinggi dan kebutuhan efisiensi yang makin mendesak.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnnindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button