Penjualan Motor Turun, MPMX Bertahan Lewat Aftermarket dan Asuransi

Penjualan motor yang melambat memberi tekanan nyata pada PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk atau MPMX. Namun, emiten ini masih punya penopang utama dari sektor suku cadang, asuransi, rental, dan lelang kendaraan untuk menjaga kinerja di tengah pasar otomotif yang belum pulih sepenuhnya.

Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, MPMX membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 16,2 triliun. Angka itu turun sekitar 1 persen dibandingkan periode sebelumnya, sementara laba bersih tercatat Rp 462 miliar atau melemah 19 persen secara tahunan.

Tekanan berasal dari pasar roda dua

Kinerja MPMX ikut terpengaruh oleh pelemahan industri otomotif roda dua dan pembiayaan konsumen. Group Chief Executive Officer MPMX, Suwito Mawarwati, menyebut tekanan datang dari sejumlah faktor makroekonomi yang masih berat bagi daya beli masyarakat.

“Dinamika pasar dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi, termasuk tekanan daya beli masyarakat, suku bunga yang masih relatif tinggi, serta moderasi konsumsi domestik,” kata Suwito.

Kondisi tersebut membuat bisnis distribusi dan ritel sepeda motor ikut terkoreksi. Melalui unit MPMulia, segmen ini membukukan pendapatan Rp 15,2 triliun atau turun 2 persen secara tahunan.

Mesin utama masih keluar dari distribusi motor

Volume penjualan di lini distribusi tercatat 699 ribu unit, sedangkan penjualan ritel melalui MPMotor mencapai 187 ribu unit. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih bergerak lambat, terutama di segmen kendaraan baru yang sangat bergantung pada konsumsi masyarakat.

Di tengah tekanan tersebut, MPMX tidak hanya bertumpu pada penjualan motor baru. Perseroan justru menguatkan bisnis yang lebih tahan siklus, terutama jasa purnajual dan layanan non-otomotif yang memberi margin lebih stabil.

Sektor yang jadi andalan MPMX

Ada beberapa lini yang menopang perusahaan saat pasar motor melemah.

  1. Segmen aftermarket di ritel tumbuh 24 persen.
  2. MPMInsurance mencatat pendapatan Rp 927,8 miliar, naik 1,6 persen.
  3. Laba bersih MPMInsurance melonjak 69,7 persen.
  4. MPMRent mempertahankan armada sekitar 15.000 unit dengan utilisasi 92 persen.
  5. AUKSI mencatat kenaikan penjualan 6 persen menjadi 4.000 unit.

Kenaikan pada aftermarket menjadi sorotan utama karena permintaan suku cadang cenderung lebih stabil dibanding penjualan motor baru. Di sisi lain, bisnis asuransi juga tampil solid berkat kenaikan hasil investasi sebesar 45 persen.

MPMInsurance mendapat dorongan dari produk engineering dan properti, meski segmen kendaraan bermotor masih tertekan. Kombinasi ini menunjukkan bahwa portofolio MPMX punya sumber pendapatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada siklus penjualan otomotif.

Pembiayaan masih jadi titik lemah

Berbeda dengan asuransi dan aftermarket, sektor pembiayaan masih berada di bawah tekanan. Jaccs MPM Finance Indonesia membukukan rugi bersih Rp 437 miliar, memburuk 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tekanan di lini ini mempertegas bahwa pelemahan konsumsi belum hanya menekan penjualan unit, tetapi juga memengaruhi permintaan kredit kendaraan. Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan risiko dan kualitas aset menjadi faktor yang sangat menentukan bagi pemulihan.

Rental dan lelang ikut menjaga stabilitas

MPMRent tetap mempertahankan tingkat utilisasi armada di 92 persen, dengan jumlah sekitar 15.000 unit. Pelanggan utamanya berasal dari sektor keuangan, perdagangan, dan distribusi, yang membuat bisnis rental relatif lebih stabil saat pasar ritel melemah.

Sementara itu, AUKSI memanfaatkan pasar kendaraan bekas dan kendaraan niaga yang masih aktif bergerak. Perseroan juga berencana mengintegrasikan hingga 10 cabang MPMRent untuk memperluas bisnis lelang dan memperkuat efisiensi jaringan.

Arah 2026 tetap bertumpu pada diversifikasi

MPMX menilai peluang pemulihan masih terbuka jika konsumsi domestik membaik dan aktivitas ekonomi meningkat. Karena itu, strategi perusahaan akan diarahkan pada penguatan bisnis inti, diversifikasi portofolio, peningkatan profitabilitas, dan efisiensi struktur biaya.

Langkah tersebut penting karena pasar motor baru belum memberi sinyal pemulihan yang kuat. Dalam situasi seperti ini, kontribusi dari suku cadang, asuransi, rental, dan lelang dapat menjadi penyangga utama bagi MPMX untuk menjaga pertumbuhan dan menahan tekanan dari sektor otomotif yang masih lesu.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.liputan6.com

Berita Terkait

Back to top button