
Penjualan Jeep Wagoneer S di Amerika Serikat anjlok tajam pada awal tahun ini. Dalam tiga bulan pertama, Jeep hanya menjual 175 unit Wagoneer S, turun dari 2.595 unit pada periode yang sama setahun sebelumnya, atau setara penurunan lebih dari 90 persen.
Di sisi lain, Dodge Charger versi bensin justru melaju jauh lebih cepat daripada varian listriknya. Pada periode yang sama, Charger BEV hanya terjual 240 unit, sementara versi enam silinder mencapai 1.672 unit, sehingga mobil bensin itu laku sekitar 7 banding 1 terhadap twin elektriknya.
Wagoneer S kehilangan daya tarik di pasar EV
Wagoneer S hadir dengan desain yang lebih modern, performa yang cepat, dan jarak tempuh yang dinilai kompetitif. Namun harga awalnya yang mencapai $65,200 membuat posisinya berat di segmen SUV listrik premium yang kini semakin padat pesaing.
Faktor harga bukan satu-satunya masalah. Ulasan pasar juga menyoroti beberapa material interior yang belum sepenuhnya meyakinkan untuk kelas harga tersebut, sehingga nilai jualnya tidak terasa sekuat yang diharapkan.
Data penjualan itu memperlihatkan tantangan yang lebih besar bagi Jeep. Di tengah penurunan minat terhadap kendaraan listrik di Amerika Serikat sejak kuartal ketiga tahun lalu, banyak pembeli tampaknya belum melihat alasan kuat untuk beralih ke SUV listrik mahal yang tidak punya pembeda sangat jelas dibanding rivalnya.
Angka penjualan yang memperlihatkan jurang besar
Berikut perbandingan penjualan yang paling menonjol dari laporan tersebut:
| Model | Penjualan Q1 | Perubahan dari Q1 tahun sebelumnya |
|---|---|---|
| Jeep Wagoneer S | 175 | -93% lebih |
| Jeep Wagoneer S Q1 tahun lalu | 2.595 | – |
| Dodge Charger BEV | 240 | -88% |
| Dodge Charger enam silinder | 1.672 | Baru tersedia, lebih laku 7:1 |
Perbandingan ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pada satu model. Saat pilihan tersedia, pembeli justru lebih banyak memilih mesin pembakaran internal daripada versi listrik.
Dodge Charger membuktikan preferensi pasar masih kuat ke bensin
Charger BEV sebenarnya membawa nama besar dan citra performa khas Dodge. Namun angka penjualan 240 unit menunjukkan minat pasar belum sekuat ekspektasi, apalagi ketika varian bensin baru dengan mesin enam silinder langsung terjual 1.672 unit dalam waktu yang sama.
Selisih itu penting karena memberi gambaran nyata tentang perilaku konsumen. Banyak pembeli tampaknya masih mengaitkan nama Charger dengan karakter mesin konvensional, suara mesin, dan sensasi berkendara yang lebih akrab dibanding kendaraan listrik penuh.
Dalam konteks industri, hasil ini juga menegaskan bahwa elektrifikasi tidak selalu otomatis mengungguli model bermesin bensin. Saat harga, identitas produk, dan kebiasaan konsumen belum selaras, pasar bisa memberi respons yang sangat berbeda dari proyeksi awal.
Stellantis tetap tumbuh, tetapi EV menjadi titik lemah
Meski dua model listriknya melemah, Stellantis justru mencatat kenaikan penjualan keseluruhan sebesar 4 persen menjadi 305.902 unit pada kuartal tersebut. Pabrikan asal grup Detroit itu menjadi satu-satunya dari tiga besar yang masih tumbuh, saat GM turun 9,7 persen dan Ford turun 8,7 persen.
Jeep juga naik 3 persen menjadi 144.552 unit, didorong oleh Wrangler yang tumbuh 17 persen menjadi 44.461 unit serta Grand Cherokee yang naik 10 persen ke 53.482 unit. Grand Wagoneer mencatat 14.174 unit, meski lonjakan 667 persen itu dipengaruhi oleh perubahan penggabungan nama Wagoneer dan Grand Wagoneer menjadi satu model.
Kinerja merek lain ikut memperlihatkan pasar yang terbelah. Ram naik 20 persen ke 112.160 unit berkat permintaan truk pikap, sedangkan Dodge naik 4 persen ke 22.693 unit dengan dorongan besar dari Durango yang melonjak 48 persen menjadi 20.300 unit. Chrysler justru turun 28 persen menjadi 25.423 unit, sementara Alfa Romeo merosot 53 persen hanya ke 919 kendaraan dan bahkan berpotensi kalah dari Ferrari di pasar Amerika Serikat pada periode yang sama.
Di tengah pergeseran selera konsumen itu, Wagoneer S dan Charger BEV menjadi contoh paling jelas bahwa label EV saja belum cukup untuk menjamin penjualan, terutama ketika harga tinggi dan alternatif bensin masih terasa lebih meyakinkan bagi banyak pembeli.
Source: www.carscoops.com








