Isu kenaikan harga BBM kembali menjadi sorotan karena dinilai bisa mengubah pilihan konsumen di pasar otomotif. Di tengah perdebatan itu, Chery menilai dampaknya ke penjualan mobil listrik di Indonesia belum bisa dibaca secara pasti.
Vice Country Director Chery Business Unit, Budi Darmawan Jantania, mengatakan kondisi saat ini masih belum jelas meski ada dugaan permintaan EV akan naik. Ia menegaskan, lonjakan penjualan tidak otomatis terjadi hanya karena BBM berpotensi naik.
Harga BBM Bukan Satu-satunya Pemicu
Budi menyebut ada dua faktor utama yang lebih menentukan arah pasar kendaraan listrik, yakni kondisi ekonomi masyarakat dan kepastian insentif pemerintah. Keduanya dinilai masih menjadi penentu penting bagi konsumen sebelum memutuskan beralih ke mobil listrik.
“Dua faktor utama yaitu kondisi perekonomian dan skema insentif yang sampai saat ini belum difinalkan kelanjutannya,” ujarnya. Dengan demikian, kenaikan biaya bahan bakar memang bisa mendorong minat, tetapi keputusan pembelian tetap sangat dipengaruhi daya beli dan kebijakan yang berlaku.
Pandangan Chery ini menunjukkan bahwa pasar EV di Indonesia tidak bergerak hanya karena faktor harga energi. Konsumen juga menghitung biaya awal pembelian, ketersediaan dukungan pemerintah, hingga kepastian pasar dalam jangka menengah.
Pandangan Berbeda dari Kalangan Akademik
Berbeda dari Chery, pakar otomotif Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai tekanan BBM fosil yang makin mahal dapat menjadi pendorong alami perpindahan ke kendaraan listrik. Ia juga menyoroti ketidakpastian pasokan akibat konflik di Timur Tengah yang bisa memperkuat alasan konsumen mencari alternatif yang lebih efisien.
Yannes memproyeksikan pangsa pasar mobil listrik di Indonesia bisa mencapai 18 hingga 25 persen pada 2026. Menurut analisisnya, harga BBM yang mahal dan tidak stabil membuat masyarakat semakin tertarik pada BEV atau battery electric vehicle.
Perbedaan pandangan ini menggambarkan pasar EV yang masih sangat dipengaruhi oleh banyak variabel. Di satu sisi ada potensi dorongan dari faktor eksternal, namun di sisi lain ada realitas ekonomi rumah tangga dan kebijakan yang belum sepenuhnya pasti.
Penjualan EV Tunjukkan Pertumbuhan Kuat
Data Gaikindo menunjukkan pasar mobil listrik memang tumbuh cepat. Sepanjang 2025, penjualan mobil listrik menembus 103.931 unit dan menyumbang lebih dari 12 persen dari wholesales nasional.
Berikut data yang menjadi gambaran pertumbuhan EV di Indonesia:
- Wholesales mobil listrik 2024: 43.188 unit
- Penjualan mobil listrik 2025: 103.931 unit
- Kenaikan permintaan 2025: 141 persen
- Distribusi Januari-Februari 2026: 22.508 unit
- Kenaikan distribusi awal 2026: 189,2 persen dibanding periode sama 2025
Lonjakan tersebut memperlihatkan minat pasar yang terus menguat, meski belum seluruhnya bisa dikaitkan langsung dengan isu harga BBM. Pertumbuhan ini juga menandakan bahwa kendaraan listrik semakin masuk ke pertimbangan konsumen Indonesia, terutama di kota-kota besar.
Ekspektasi Pasar Masih Bergantung pada Kebijakan
Pemerintah sendiri memastikan belum akan menaikkan harga BBM dan meminta masyarakat tidak melakukan panic buying. Pernyataan ini penting karena isu harga energi kerap memicu spekulasi di pasar dan memengaruhi sentimen konsumen dalam waktu singkat.
Dalam situasi seperti ini, industri otomotif masih menunggu kejelasan arah kebijakan, terutama soal insentif kendaraan listrik. Selama skema dukungan belum benar-benar difinalkan, prediksi lonjakan penjualan EV akibat BBM mahal tetap sulit ditegaskan secara pasti.
Pasar mobil listrik kini berada di persimpangan antara tekanan biaya energi, daya beli masyarakat, dan kepastian regulasi. Jika faktor-faktor itu bergerak ke arah yang mendukung, pertumbuhan EV berpeluang tetap tinggi, namun laju penjualannya masih sangat bergantung pada respons konsumen terhadap kondisi ekonomi yang berubah cepat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnnindonesia.com