Fabio Quartararo menilai Yamaha sedang berada di titik yang sangat sulit setelah paket motor baru berbasis V4 belum juga membuat YZR-M1 kompetitif. Pebalap Prancis itu menilai timnya seperti menemui jalan buntu karena masalah yang muncul di lintasan belum punya solusi yang jelas.
Situasi Yamaha terlihat dari hasil awal musim yang jauh dari harapan. Di seri pembuka MotoGP Thailand, Quartararo hanya finis ke-14 dan tidak ada pebalap Yamaha yang mampu menembus 10 besar.
Performa yang belum membaik
Masalah berlanjut di seri berikutnya, MotoGP Brasil. Quartararo bahkan gagal meraih poin setelah finis ke-16, sedangkan Alex Rins menutup balapan di posisi ke-14.
Hasil itu menunjukkan bahwa perubahan besar pada sisi mesin belum otomatis membuat Yamaha lebih cepat. Justru, perombakan yang dilakukan tampak belum menemukan arah pengembangan yang tepat.
Kondisi tersebut kemudian memicu komentar jujur dari Quartararo. Ia menegaskan bahwa timnya belum memahami cara mengatasi seluruh persoalan yang membelit motor mereka.
“Tim sama sekali tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semua masalah yang kami hadapi pada motor ini,” ujar Quartararo kepada Canal+.
Jarak dengan pesaing makin jauh
Situasi Yamaha makin buruk saat MotoGP Amerika Serikat berlangsung. Quartararo finis ke-17 dan tertinggal 25,549 detik dari pemenang balapan, Marco Bezzecchi.
Catatan itu menjadi sinyal keras bahwa Yamaha tidak hanya kalah cepat, tetapi juga tertinggal cukup jauh dalam konsistensi balap. Dalam situasi seperti ini, satu-satunya poin Yamaha di seri tersebut justru datang dari Toprak Razgatlioglu, yang membuat gambaran performa tim terasa semakin kontras.
Berikut ringkasan hasil Quartararo di tiga seri awal yang menjadi sorotan:
| Seri | Hasil Quartararo | Catatan |
|---|---|---|
| Thailand | 14 | Tidak ada pebalap Yamaha di 10 besar |
| Brasil | 16 | Gagal meraih poin |
| Amerika Serikat | 17 | Tertinggal 25,549 detik dari pemenang |
Data itu memperlihatkan bahwa masalah Yamaha bukan sekadar hasil yang buruk dalam satu balapan. Polanya berulang, dan itu membuat evaluasi teknis menjadi semakin mendesak.
Eksperimen di lintasan belum membuahkan hasil
Quartararo juga mengakui bahwa dirinya mencoba beberapa pendekatan berbeda saat balapan berlangsung. Namun, berbagai eksperimen itu tidak memberi dampak berarti karena Yamaha tetap tertinggal jauh dari para rival.
“Jujur, saya rasa tidak ada yang bisa dipetik dari balapan seperti ini. Kami menjalani waktu yang sangat buruk hari Minggu ini; motornya banyak berubah. Saya mencoba melakukan hal yang sedikit berbeda, bereksperimen saat balapan, karena pada akhirnya kami tertinggal sangat jauh… tapi jelas itu tidak berhasil,” kata Quartararo.
Pernyataan itu menegaskan bahwa masalah Yamaha tidak selesai hanya dengan perubahan setelan biasa. Tim tampaknya membutuhkan evaluasi yang lebih mendalam pada karakter motor, paket aerodinamika, dan arah pengembangan mesin V4 yang kini menjadi tumpuan.
Jeda balapan jadi momen penting
Setelah hasil mengecewakan di Amerika Serikat, Yamaha mendapat jeda sekitar satu bulan sebelum seri berikutnya di Sirkuit Jerez, Spanyol, pada 26 April. Periode ini menjadi kesempatan penting untuk meninjau ulang banyak aspek, mulai dari data performa hingga arah teknis motor.
Quartararo menilai jeda tersebut bisa membantu tim menenangkan situasi. Ia menyebut rehat balapan sebagai kesempatan untuk benar-benar berjarak sejenak dari tekanan kompetisi dan kembali dengan pikiran yang lebih segar.
“Secara mental, kami harus tetap tenang. Kami sudah melewati satu balapan – itu satu beban berkurang – dan kami punya jeda satu bulan, jadi itu akan bagus bagi kami untuk benar-benar disconnect,” ujar Quartararo.
Bagi Yamaha, tantangan berikutnya bukan hanya memperbaiki kecepatan, tetapi juga menemukan arah pengembangan yang bisa memberi rasa percaya diri bagi pebalap. Jika masalah dasar motor belum terpecahkan, setiap seri berpotensi kembali menghadirkan kesulitan serupa bagi Quartararo dan tim pabrikan asal Jepang itu.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com






