
Nissan memberi sinyal kuat bahwa generasi berikutnya dari GT-R tidak akan lahir sebagai mobil listrik murni. Berdasarkan laporan The Drive yang mengutip pernyataan pejabat Nissan North America, penerus R35 GT-R justru lebih mungkin hadir sebagai hybrid, bukan EV penuh seperti yang sempat ramai diperkirakan.
Kabar ini menarik karena GT-R selama ini dikenal sebagai ikon performa bermesin bensin. Jika arah pengembangannya benar-benar bergeser ke elektrifikasi parsial, Nissan tampaknya ingin menjaga karakter agresif GT-R sekaligus menyesuaikannya dengan aturan emisi masa depan.
Sinyal dari New York Auto Show
Informasi terbaru datang dari Ponz Pandikuthira, senior vice president dan planning officer Nissan North America. Dalam percakapan dengan The Drive di ajang New York Auto Show, ia mengatakan bahwa detail tentang penerus R35 GT-R akan muncul dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Pandikuthira menyebut, “I’d say by 2028 you’ll see some concrete announcements, and hopefully before the decade turns you’ll see an R36 GT-R.” Pernyataan ini memberi gambaran bahwa Nissan belum menutup kemungkinan untuk melanjutkan nama besar GT-R dalam waktu dekat.
Mesin lama, sasis baru
Meski arah elektrifikasi sudah mulai terlihat, Nissan belum memastikan seluruh paket teknisnya. Pandikuthira mengisyaratkan bahwa mobil ini akan menjadi “all-new car” dengan sasis baru, sehingga penerus GT-R tidak sekadar facelift besar dari generasi sebelumnya.
Sejumlah spekulasi juga menyebut mesin yang dipakai bisa tetap terasa familiar. Opsi yang paling sering dibicarakan adalah VR38 V6 twin-turbo, mesin yang menjadi jantung R35 selama 18 tahun. Jika benar dipertahankan, unit itu kemungkinan akan mendapat pembaruan internal dan dipadukan dengan teknologi baru.
Mengapa hybrid lebih masuk akal
Pernyataan Nissan soal kebutuhan elektrifikasi cukup jelas. Pandikuthira menegaskan, “The next generation GTR will need some level of electrification,” lalu menambahkan, “So, does it need to be a full EV? Probably not, but it does need to have some level of electrification to meet to future proof emissions compatibility.”
Kutipan itu memperlihatkan posisi Nissan yang pragmatis. Berikut alasan hybrid dinilai lebih realistis untuk GT-R baru:
- Menjaga performa tinggi tanpa sepenuhnya bergantung pada baterai.
- Membantu memenuhi standar emisi yang makin ketat.
- Mempertahankan identitas GT-R sebagai mobil sport bertenaga mesin pembakaran.
- Memberi ruang bagi teknologi baru tanpa mengorbankan karakter mekanis yang disukai penggemar.
Antara tradisi dan tuntutan zaman
Selama sejarahnya, GT-R selalu identik dengan mesin bensin dan reputasi sebagai model paling garang di lini Nissan. Karena itu, wacana hybrid memang berpotensi memunculkan perdebatan di kalangan penggemar, terutama mereka yang menganggap supercar dan sportscar harus tetap murni berbahan bakar fosil.
Namun, pasar otomotif global bergerak ke arah yang berbeda. Banyak pabrikan kini memilih jalur elektrifikasi bertahap untuk menjaga performa sekaligus menyesuaikan strategi produk jangka panjang. Dalam konteks itu, GT-R hybrid bisa menjadi jalan tengah yang paling masuk akal bagi Nissan.
Apa arti kabar ini bagi penggemar GT-R
Jika target waktunya sesuai, pengumuman konkret tentang GT-R generasi berikutnya bisa muncul sekitar 2028. Kehadiran model ini sebelum akhir dekade akan menjadi momen penting, karena Nissan perlu membuktikan bahwa nama GT-R masih relevan di era elektrifikasi.
Yang menarik, isu ini juga menunjukkan bahwa masa depan mobil sport belum sepenuhnya harus berwujud EV penuh. Bagi Nissan, mempertahankan mesin bensin dengan bantuan elektrifikasi bisa menjadi cara untuk menyatukan warisan performa dan tuntutan regulasi yang terus berubah.









