Ketegangan geopolitik global kembali menyoroti rapuhnya ketergantungan masyarakat terhadap harga BBM. Saat harga energi mudah terdorong naik oleh konflik dan gangguan pasokan, kendaraan listrik muncul sebagai opsi yang lebih stabil untuk menekan biaya transportasi harian.
Di Indonesia, tekanan ini terasa nyata pada pengguna jalan yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja. Motor listrik menawarkan biaya operasional yang lebih terukur karena kebutuhan energinya tidak mengikuti fluktuasi pasar minyak dunia secara langsung.
Tekanan geopolitik dan dampaknya ke transportasi
Naiknya tensi geopolitik kerap memicu lonjakan harga energi, termasuk BBM. Situasi itu bisa menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan ongkos logistik, distribusi barang, hingga mobilitas pekerja.
Bagi pengguna kendaraan harian, perubahan kecil pada harga BBM dapat berdampak besar dalam sebulan. Karena itu, efisiensi biaya menjadi alasan utama kendaraan listrik mulai dipertimbangkan sebagai alternatif yang lebih aman dari gejolak eksternal.
Motor listrik dinilai lebih hemat untuk kebutuhan harian
Davigo, produsen motor listrik lokal, menilai kendaraan listrik dapat membantu masyarakat memutus ketergantungan terhadap BBM. General Manajemen Davigo, Aprizal, mengatakan, “Ketika harga BBM sangat dipengaruhi dinamika global, maka masyarakat Indonesia berada dalam posisi rentan. Motor listrik menjadi solusi untuk memutus ketergantungan tersebut.”
Perusahaan itu menyebut biaya pengisian listrik sekitar Rp 6.000 untuk penggunaan harian. Angka tersebut membuat motor listrik terlihat lebih rasional, terutama bagi pengguna yang menempuh jarak rutin dan membutuhkan pengeluaran transportasi yang konsisten.
Kelompok yang paling merasakan manfaat
Manfaat penghematan paling terasa pada pekerja yang bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah. Pengemudi ojek online, kurir logistik, dan pekerja lapangan termasuk kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan BBM.
Jika biaya isi daya lebih rendah dan stabil, pendapatan bersih mereka berpeluang lebih terjaga. Dalam konteks ini, kendaraan listrik bukan hanya soal gaya hidup baru, tetapi juga alat untuk menjaga efisiensi ekonomi rumah tangga dan sektor informal.
Dukungan industri lokal dan ketahanan energi
Davigo juga menekankan pentingnya industri kendaraan listrik lokal dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Perusahaan itu menyebut sejumlah produknya memiliki tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN di atas 40 persen.
Aprizal menegaskan, “Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kemandirian energi nasional dan stabilitas ekonomi.” Pandangan ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk mengurangi kerentanan terhadap impor energi saat situasi global memanas.
Spesifikasi yang mendukung penggunaan harian
Dari sisi produk, motor listrik Davigo disebut memakai baterai lithium NMC dan LFP serta motor bertenaga 2000 watt. Dengan bekal itu, kendaraan tersebut diklaim mampu menempuh jarak lebih dari 160 km dalam sekali pengisian daya.
Jangkauan itu membuat motor listrik relevan bukan hanya untuk perjalanan pendek di perkotaan, tetapi juga untuk mobilitas antarkota tertentu. Klaim bahwa motor ini dapat dipakai untuk rute Jakarta–Bandung tanpa perlu pengisian ulang memperlihatkan bahwa teknologi kendaraan listrik terus bergerak ke arah yang lebih praktis.
Skema kepemilikan yang dibuat lebih mudah dijangkau
Selain spesifikasi, model kepemilikan juga ikut memengaruhi adopsi kendaraan listrik di masyarakat. Davigo menawarkan skema sewa milik atau rent-to-own agar konsumen bisa memiliki motor listrik dengan biaya harian yang lebih terjangkau.
Berikut ringkasan faktor yang membuat kendaraan listrik mulai dilihat sebagai pilihan hemat:
- Biaya energi lebih stabil dibanding BBM.
- Pengeluaran harian lebih mudah diprediksi.
- Cocok untuk pekerja dengan mobilitas tinggi.
- Dapat mendukung pengurangan ketergantungan energi impor.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar energi, kendaraan listrik makin relevan sebagai solusi transportasi yang efisien, stabil, dan lebih tahan terhadap guncangan harga. Kebijakan insentif, infrastruktur pengisian daya, serta dukungan pada industri lokal menjadi faktor penting agar manfaat efisiensi biaya ini benar-benar bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.liputan6.com








