Nissan memastikan nama GT-R belum akan hilang dari lini performa mereka, tetapi kehadiran penerus R35 ternyata memerlukan waktu lebih lama dari perkiraan. Ponz Pandikuthira, Senior Vice President and Chief Planning Officer for Nissan North America, mengatakan kepada Autoblog di ajang New York Auto Show bahwa “GT-R is part of our mythology. There will always be a GT-R.”
Keterangan itu memberi sinyal jelas bahwa proyek R36 masih berjalan, namun arah pengembangannya tidak sesederhana mengganti model lama dengan mobil listrik penuh. Nissan kini menempatkan GT-R di jalur transisi yang lebih rumit, karena mobil ini tetap harus memenuhi tuntutan performa tinggi sekaligus regulasi emisi yang makin ketat.
Elektrifikasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Formalitas
Pandikuthira menegaskan bahwa GT-R generasi berikutnya akan memakai tingkat elektrifikasi tertentu. Ia juga menolak pendekatan yang hanya mengejar kepatuhan regulasi tanpa mempertahankan karakter GT-R sebagai mobil performa serius.
Menurut dia, “It can’t just be electrification for the sake of electrification. It still needs to be a capable performer – Nürburgring, multiple laps, hold lap timing records.” Pernyataan itu menunjukkan tantangan utama Nissan bukan hanya membuat mobil yang lebih ramah emisi, tetapi juga menjaga daya tahan di lintasan balap.
Poin inilah yang disebut menjadi alasan utama keterlambatan. Nissan tampaknya ingin memastikan paket elektrifikasi tidak mengorbankan ketahanan, konsistensi performa, dan kemampuan menahan beban putaran cepat dalam sesi panjang di sirkuit.
Rumus Baru di Balik R36
Walau Nissan belum membuka detail teknisnya, indikasi kuat mengarah pada evolusi mesin VR38 V6 yang sudah dipakai di GT-R R35. Mesin 3,8 liter twin-turbo tersebut dikenal tangguh, mudah dikembangkan, dan menjadi dasar reputasi GT-R selama hampir dua dekade.
VR38 memakai blok aluminium closed-deck yang membantu kekakuan struktur mesin dan mendukung peningkatan tenaga besar. Selain itu, setiap unit dirakit manual oleh teknisi Takumi Nissan, sehingga mesin ini punya nilai teknis dan emosional yang sulit digantikan begitu saja.
Berikut sejumlah alasan mengapa VR38 dinilai masih relevan untuk penerus GT-R:
- Basisnya sudah terbukti kuat di penggunaan harian maupun ekstrem.
- Potensi tuning-nya tinggi dan telah teruji di banyak aplikasi performa.
- Karakter mesinnya cocok untuk dijadikan fondasi hibrida, bukan diganti total.
- Nissan bisa mengadaptasinya agar lebih sesuai dengan aturan emisi modern.
Dengan pendekatan tersebut, R36 kemungkinan tidak akan tampil sebagai GT-R yang sepenuhnya baru dari nol. Sebaliknya, mobil ini berpotensi menjadi penyempurnaan besar dari DNA lama yang dipadukan dengan teknologi elektrifikasi modern.
Target Waktu Masih Jauh, Tapi Sudah Ada Arah
Pandikuthira menyebut tim pengembangan di Jepang sudah memimpin proyek GT-R baru ini. Ia menekankan bahwa proyek tersebut bukan pertanyaan “apakah”, melainkan “kapan”.
Ia memberi gambaran waktu yang masih cukup jauh dengan mengatakan, “If everything goes the way we want, I’d like to see it by ’28. You should at least hear some very concrete news from us.” Artinya, publik mungkin perlu menunggu lebih lama sebelum melihat wujud final atau setidaknya mendengar pembaruan yang lebih konkret.
Penundaan ini juga sejalan dengan kondisi industri otomotif global yang sedang menyeimbangkan performa, efisiensi, dan kepatuhan emisi. Dalam konteks GT-R, tekanan itu bahkan lebih besar karena model ini membawa reputasi besar sebagai simbol teknologi performa Nissan.
Apa yang Paling Mungkin Terjadi pada GT-R Baru
Dari arah komentar Nissan, ada beberapa skenario yang paling masuk akal untuk R36. Semuanya masih spekulatif, tetapi tetap berangkat dari petunjuk resmi yang sudah disampaikan perusahaan.
Berikut kemungkinan yang paling menonjol:
- GT-R baru memakai mesin V6 turbo yang berevolusi dari VR38.
- Sistem hybrid ditambahkan untuk membantu performa sekaligus efisiensi.
- Fokus pengembangan tetap pada kemampuan trek, bukan sekadar angka tenaga.
- Nissan menjaga identitas GT-R agar tidak lepas dari warisan model sebelumnya.
Dengan strategi itu, Nissan tampaknya ingin memastikan GT-R berikutnya tetap layak menyandang nama besar yang sudah dibangun sejak lama. Tantangannya kini bukan hanya menciptakan supercar baru, tetapi menghadirkan GT-R yang masih terasa seperti GT-R di era elektrifikasi.









