Konversi motor bensin ke listrik kini makin sering dibicarakan karena pemerintah mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik dan menyiapkan skema subsidi untuk konversi. Namun, keputusan beralih ke motor listrik tidak cukup hanya dihitung dari biaya awal, karena ada kebutuhan penggunaan, karakter motor, serta kesiapan teknis yang harus dipastikan sejak awal.
Ferry S Budiyanto, pengelola bengkel spesialis motor listrik Tics EV di Depok, menegaskan bahwa pertanyaan pertama bukan soal harga, melainkan kebutuhan pemakaian. Menurut dia, pemilik kendaraan perlu tahu dulu motor akan dipakai untuk apa, apakah untuk perjalanan harian di kota, jarak menengah, atau kebutuhan lain yang memengaruhi spesifikasi konversi.
Tentukan kebutuhan sebelum memilih basis motor
Langkah awal ini penting karena jenis motor donor sangat memengaruhi hasil akhir. Ferry menjelaskan bahwa untuk kebutuhan harian di perkotaan, motor matik dinilai paling ideal karena lebih ringkas, mudah dikendarai, dan posisi berkendaranya lebih nyaman.
Motor matik juga lebih fleksibel untuk penempatan komponen listrik. Ruang penyimpanan yang lebih lega memudahkan pemasangan baterai dan kontroler, sehingga teknisi bisa menyusun paket konversi dengan lebih efisien.
Berikut poin penting yang perlu dipahami sebelum konversi dilakukan:
- Menentukan kebutuhan pemakaian harian atau jarak jauh.
- Memilih basis motor yang paling sesuai, umumnya matik untuk penggunaan kota.
- Menyiapkan komponen utama seperti motor BLDC, kontroler, dan baterai.
- Memastikan struktur motor siap dibongkar dan dimodifikasi.
- Menyesuaikan anggaran dengan spesifikasi yang dibutuhkan.
Komponen utama tidak bisa diabaikan
Dalam konversi motor bensin ke listrik, komponen inti tidak hanya satu. Ferry menyebut motor BLDC, kontroler, dan baterai sebagai bagian utama yang harus disiapkan, dengan baterai menjadi salah satu elemen paling krusial.
Baterai menentukan daya jelajah dan karakter penggunaan motor listrik setelah konversi. Karena itu, pemilihan kapasitas baterai harus disesuaikan dengan kebutuhan harian agar motor tidak hanya bisa berjalan, tetapi juga nyaman dipakai dalam rutinitas.
Ia juga mengingatkan bahwa konversi akan mengubah konstruksi motor secara fisik. Mesin bensin harus dicabut, lalu dibuat bracket mounting dan dudukan baru untuk motor listrik serta komponen lain agar seluruh sistem terpasang aman.
Spesifikasi dan ruang pada motor sangat berpengaruh
Ketersediaan ruang pada motor donor sering kali menjadi faktor penentu hasil konversi. Motor dengan ruang lebih besar memberi keleluasaan untuk menata kontroler dan baterai, sekaligus membuka peluang jarak tempuh yang lebih baik.
Ferry menyebut konfigurasi dasar konversi bisa dimulai dari motor listrik 2.000 watt dengan baterai 72V 20Ah. Pada paket tersebut, kontroler yang digunakan umumnya sekitar 100 ampere, dengan jarak tempuh berkisar 50 kilometer hingga 60 kilometer jika memakai ring 14.
| Komponen | Contoh spesifikasi | Catatan |
|---|---|---|
| Motor listrik | 2.000 watt | Menjadi penggerak utama |
| Baterai | 72V 20Ah | Sangat menentukan jarak tempuh |
| Kontroler | Sekitar 100 ampere | Mengatur aliran daya |
| Jarak tempuh | 50-60 kilometer | Tergantung konfigurasi dan penggunaan |
Biaya bukan satu-satunya ukuran
Dari sisi anggaran, Ferry menyebut konversi dasar bisa dimulai dari sekitar Rp 10 jutaan di luar harga motor. Namun, biaya tersebut hanya salah satu bagian dari persiapan, karena kualitas hasil akhir tetap bergantung pada kecocokan komponen, struktur motor, dan tujuan pemakaian.
Konversi yang dipilih tanpa perhitungan kebutuhan berisiko membuat motor kurang optimal, entah dari sisi kenyamanan, daya jelajah, maupun ruang penyimpanan komponen. Karena itu, banyak teknisi menekankan perlunya konsultasi sebelum memutuskan paket konversi yang akan dipasang.
Kesiapan teknis menentukan hasil akhir
Proses konversi motor bensin ke listrik pada dasarnya menuntut perubahan desain dan penyesuaian sistem kelistrikan. Motor yang tadinya mengandalkan mesin pembakaran harus dirombak agar dapat bekerja dengan sumber tenaga baru, sehingga ketelitian teknisi menjadi faktor penting.
Di tengah dorongan pemerintah untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik, calon pengguna tetap perlu melihat konversi sebagai keputusan teknis yang menyeluruh. Dengan memilih basis motor yang tepat, memahami kebutuhan penggunaan, dan menyiapkan komponen secara proporsional, hasil konversi akan lebih aman, fungsional, dan sesuai harapan pemakaian harian.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com