
Garuda Indonesia resmi menghentikan operasional rute Bengkulu–Jakarta per Sabtu, dan penerbangan terakhir di Bandara Fatmawati Soekarno langsung memunculkan suasana haru di kalangan penumpang maupun warga yang selama ini mengandalkan layanan tersebut. Keputusan ini menandai berakhirnya salah satu rute penting dari dan menuju Bengkulu, yang selama bertahun-tahun melayani kebutuhan perjalanan bisnis, pendidikan, dan keluarga.
Penerbangan terakhir yang lepas landas dari Bengkulu pada akhir pekan lalu menjadi perhatian publik, terutama setelah sejumlah penumpang mengabadikan momen perpisahan itu di media sosial. Banyak unggahan menampilkan suasana emosional, karena Garuda Indonesia selama ini dikenal sebagai maskapai yang memberi layanan nyaman dan relatif tepat waktu bagi sebagian pelanggan.
Alasan penghentian rute
Berdasarkan keterangan yang dikutip dari Antara, penghentian rute ini merupakan bagian dari penyesuaian operasional perusahaan. Garuda Indonesia menilai keputusan tersebut perlu diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kinerja rute, termasuk tingkat keterisian kursi.
General Manager Garuda Indonesia perwakilan Bengkulu, Boby Pratama, menyebut rata-rata okupansi rute Bengkulu–Jakarta berada di kisaran 80 persen dari total kapasitas. Meski angka itu terlihat tinggi, perusahaan menilai level tersebut belum cukup untuk menopang efisiensi bisnis dalam jangka panjang.
Pertemuan dengan pemerintah daerah
Sebelum kebijakan penutupan dijalankan, Garuda Indonesia juga telah berdiskusi dengan pemerintah daerah, termasuk Gubernur Bengkulu, untuk mencari solusi terbaik. Boby menyampaikan bahwa pembahasan itu sempat dilakukan di Jakarta sebagai bagian dari upaya menimbang berbagai opsi sebelum keputusan final diambil.
Langkah ini menunjukkan bahwa penghentian rute tidak terjadi secara mendadak. Proses evaluasi dan komunikasi antara perusahaan serta pihak daerah sudah berlangsung, meski pada akhirnya efisiensi operasional tetap menjadi pertimbangan utama.
Respons masyarakat Bengkulu
Kabar berhentinya rute Garuda Indonesia memicu beragam respons di media sosial. Sebagian warganet menyayangkan keputusan itu karena Garuda dianggap punya nilai lebih, terutama bagi penumpang yang mencari kenyamanan dan pelayanan premium.
Ada juga yang menyoroti harga tiket yang dinilai relatif tinggi sehingga sebagian penumpang beralih ke maskapai lain. Satu komentar yang ramai dibagikan menyinggung kenyamanan perjalanan bersama anak kecil dan minimnya keterlambatan, yang selama ini menjadi alasan memilih Garuda.
- Penumpang setia kehilangan opsi layanan premium.
- Warga menilai harga tiket ikut memengaruhi minat pasar.
- Aktivitas bandara diperkirakan ikut beradaptasi dengan perubahan rute.
Dampak pada konektivitas udara Bengkulu
Meski Garuda Indonesia menghentikan rute langsung Bengkulu–Jakarta, akses penerbangan dari dan ke Bengkulu tidak terputus. Maskapai lain, termasuk Citilink sebagai anak usaha Garuda Indonesia, masih tetap melayani rute dari dan menuju Bengkulu.
Kondisi ini membuat mobilitas masyarakat tetap berjalan, walau pilihan penerbangan di rute tersebut kini menjadi lebih terbatas dibanding saat Garuda masih beroperasi. Bagi penumpang yang selama ini mengandalkan satu maskapai tertentu, perubahan ini kemungkinan membuat mereka menyesuaikan jadwal, harga, dan preferensi layanan.
Momen terakhir yang meninggalkan kesan
Penerbangan terakhir Garuda Indonesia dari Bengkulu bukan hanya soal penutupan rute, tetapi juga soal kedekatan emosional antara maskapai dan sebagian penumpangnya. Sejumlah unggahan menunjukkan ucapan terima kasih dan perpisahan, yang memperlihatkan bagaimana layanan penerbangan bisa membentuk ikatan tersendiri di masyarakat daerah.
Di sisi lain, ada pula yang memandang keputusan ini sebagai bagian dari dinamika bisnis penerbangan yang makin kompetitif. Biaya operasional, efisiensi armada, dan perubahan pola permintaan menjadi tantangan yang sering memaksa maskapai melakukan penyesuaian rute.
Bagi Bandara Fatmawati Soekarno, penghentian rute Garuda Indonesia turut menjadi penanda perubahan pola layanan yang selama ini berjalan. Di tengah penyesuaian tersebut, masyarakat Bengkulu kini menunggu bagaimana operator penerbangan lain mengisi kebutuhan perjalanan ke Jakarta dan menjaga konektivitas udara daerah tetap stabil.









