Toyota Terseret Penurunan Produksi Global 3,9 Persen, China Dan Jepang Menekan

Produksi global Toyota kembali melemah dan mencatat penurunan 3,9 persen pada periode Februari. Berdasarkan laporan Kyodo News, Toyota Motor Corp. membukukan produksi 749.673 unit, atau turun dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Penurunan ini menjadi yang keempat secara beruntun dan menunjukkan tekanan yang masih kuat di sejumlah pasar utama. Di saat yang sama, penjualan global Toyota juga turun 3,3 persen menjadi 737.134 unit, sehingga menunjukkan pelemahan tidak hanya terjadi di sisi produksi, tetapi juga pada permintaan di beberapa negara.

Tekanan terbesar datang dari China dan Jepang

China menjadi salah satu pasar dengan penurunan paling tajam. Produksi Toyota di negara itu turun 11,5 persen menjadi 78.457 unit, seiring persaingan yang makin ketat dan berkurangnya hari kerja saat libur Tahun Baru Imlek.

Di Jepang, produksi Toyota juga menurun 2,6 persen menjadi 278.916 unit. Faktor utamanya adalah jumlah hari operasi yang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga kapasitas produksi ikut tertekan.

Kinerja luar negeri ikut melemah

Produksi Toyota di luar Jepang turun 4,6 persen menjadi 470.757 unit. Angka ini memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terkonsentrasi di pasar domestik, tetapi juga muncul di wilayah internasional.

Di Amerika Utara, produksi turun 9,1 persen menjadi 159.237 unit. Penurunan paling dalam terjadi di Kanada, yang anjlok 46,2 persen menjadi 23.173 unit karena pengurangan produksi menjelang pembaruan model RAV4.

Amerika Serikat masih jadi penopang

Sinyal berbeda justru datang dari Amerika Serikat. Produksi Toyota di negara itu naik 3,4 persen menjadi 110.978 unit, didorong permintaan kendaraan hibrida yang masih kuat.

Penjualan Toyota di AS juga tumbuh 3,2 persen menjadi 180.950 unit. Di tengah pelemahan total penjualan luar negeri sebesar 2,2 persen menjadi 614.870 unit, pasar AS tetap menjadi salah satu penopang penting bagi kinerja Toyota.

Daftar pergerakan produksi dan penjualan Toyota di pasar utama

  1. Produksi global: 749.673 unit, turun 3,9 persen.
  2. Penjualan global: 737.134 unit, turun 3,3 persen.
  3. Produksi di China: 78.457 unit, turun 11,5 persen.
  4. Produksi di Jepang: 278.916 unit, turun 2,6 persen.
  5. Produksi di Amerika Utara: 159.237 unit, turun 9,1 persen.
  6. Produksi di Amerika Serikat: 110.978 unit, naik 3,4 persen.

Penjualan domestik dan China ikut tertahan

Di Jepang, penjualan Toyota turun 8,3 persen menjadi 122.264 unit. Kyodo News menyebut, penurunan itu dipicu melemahnya registrasi kendaraan menjelang penghapusan pajak performa lingkungan pada akhir Maret.

China juga mencatat pelemahan penjualan yang cukup besar, yakni turun 13,9 persen menjadi 82.471 unit. Kondisi ini memperkuat gambaran bahwa pasar otomotif terbesar di dunia itu masih menyimpan tekanan kompetitif yang tinggi bagi produsen Jepang.

Dampaknya tidak hanya dirasakan Toyota

Tekanan yang dialami Toyota juga mencerminkan situasi yang lebih luas di industri otomotif Jepang. Produksi global delapan produsen mobil utama Jepang pada Februari turun 1,4 persen menjadi 1,94 juta unit.

Dalam kelompok itu, Honda turun 5 persen dan Nissan merosot 13,7 persen. Hanya Suzuki yang mencatat kenaikan 12,3 persen menjadi 320.617 unit, yang disebut sebagai rekor tertinggi untuk Februari berkat penjualan kuat di India.

Risiko lanjutan masih membayangi produksi

Kyodo News juga melaporkan bahwa dampak perang Amerika Serikat-Israel yang pecah pada akhir Februari diperkirakan baru akan terlihat dalam data mulai Maret. Toyota disebut berencana memangkas produksi domestik untuk pasar Timur Tengah sekitar 24.000 unit pada April, setelah lebih dulu memangkas sekitar 20.000 unit pada Maret.

Nissan juga menurunkan produksi akibat tertundanya pengiriman ke Timur Tengah, sehingga tekanan pasokan dan permintaan berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Dalam kondisi seperti ini, pergerakan produksi Toyota berikutnya akan sangat bergantung pada stabilitas pasar utama, jadwal produksi regional, dan kemampuan perusahaan menjaga permintaan kendaraan hibrida yang masih menjadi penopang utama.

Berita Terkait

Back to top button