Aprilia Menggila, Ducati Ternyata Rapuh Saat Ban Mulai Aus

Di awal musim MotoGP yang kompetitif, Ducati justru terlihat rapuh saat berhadapan dengan Aprilia. Fabio Di Giannantonio mengungkap bahwa kelemahan utama Desmosedici ada pada cara motor itu mengelola ban, dan masalah itu membuat Ducati tertinggal dalam tiga seri pembuka.

Pernyataan pebalap Pertamina Enduro VR46 itu muncul usai MotoGP Amerika, ketika Ducati kembali kesulitan menjaga performa hingga akhir balapan. Dalam situasi saat Aprilia tampil konsisten lewat Marco Bezzecchi, Ducati belum menemukan jawaban yang cukup kuat untuk membalikkan keadaan.

Masalah utama Ducati ada di ban belakang

Di Giannantonio menjelaskan bahwa Desmosedici punya batas ketika cengkeraman ban belakang mulai turun. Saat ban masih baru, motor Ducati bisa tampil sangat cepat, tetapi performanya berubah saat grip menurun dan motor kehilangan dukungan untuk menjaga keseimbangan di tikungan.

“Dengan ban baru, motornya sempurna, tapi begitu cengkeraman ban belakang mulai sedikit menurun, maka ban belakang tidak lagi mampu menopang ban depan, dan semuanya menjadi lebih rumit,” kata Di Giannantonio, dikutip dari Crash.

Kondisi itu membuat Ducati tidak bisa memaksimalkan gaya balap agresif secara konsisten. Motor memang terasa lincah di awal, tetapi saat balapan berjalan lebih lama, pengendalian menjadi lebih sulit dan pebalap harus bekerja lebih keras untuk menjaga ritme.

Kenapa Aprilia bisa lebih unggul

Aprilia tampak lebih stabil karena motor mereka tidak terlalu bergantung pada kondisi ban untuk tetap kompetitif. Bezzecchi berhasil mencatat tiga kemenangan beruntun, sementara Jorge Martin juga ikut memberi tekanan dengan finis kedua di Brasil dan Amerika.

Performa itu menunjukkan bahwa Aprilia mampu menjaga kecepatan lebih baik saat jarak balap bertambah. Dalam konteks ini, keunggulan bukan hanya soal kecepatan puncak, tetapi juga efisiensi saat ban mulai aus dan kondisi trek berubah.

Ducati masih cepat, tetapi tidak cukup tahan lama

Di Giannantonio menjadi pebalap Ducati terbaik sejauh ini dalam tiga seri pertama MotoGP. Dia finis keenam di Thailand, naik podium ketiga di Brasil, lalu finis keempat di Amerika, hasil yang menunjukkan bahwa motor Ducati masih kompetitif namun belum stabil di semua fase balapan.

Sebaliknya, dua pebalap utama Ducati, Marc Marquez dan Francesco Bagnaia, belum naik podium pada balapan utama di tiga seri tersebut. Situasi ini memperkuat indikasi bahwa masalah Ducati bukan semata pada kualitas pebalap, melainkan pada karakter motor yang belum sepenuhnya cocok untuk kondisi balap yang berubah-ubah.

Apa yang perlu dibenahi Ducati

Berikut beberapa titik lemah Ducati yang terlihat dari pengakuan Di Giannantonio:

  1. Ketergantungan tinggi pada ban belakang untuk menjaga keseimbangan motor.
  2. Performa menurun saat grip ban mulai habis.
  3. Kesulitan saat harus mengerem lebih lambat dan masuk tikungan dengan kontrol yang presisi.
  4. Motor lebih efektif saat kondisi ban masih segar, tetapi kurang konsisten setelah lap berjalan panjang.

Masalah ini penting karena MotoGP modern sangat ditentukan oleh manajemen ban dan kemampuan motor mempertahankan kecepatan sampai garis finis. Tim yang mampu menjaga performa ban biasanya lebih diuntungkan dibanding tim yang hanya cepat di awal.

Ducati perlu mencari solusi teknis

Pernyataan Di Giannantonio memberi gambaran yang cukup jelas bahwa Ducati masih punya pekerjaan rumah di sisi teknis. Jika kelemahan pada ban belakang tidak segera diatasi, Aprilia bisa terus memanfaatkan celah itu untuk mempertahankan dominasi.

Dengan kompetisi yang semakin ketat, Ducati harus menemukan setelan yang membuat Desmosedici tetap kuat bukan hanya saat grip tinggi, tetapi juga ketika ban mulai turun performanya. Jika tidak, pola yang sama berpotensi kembali terulang di seri-seri berikutnya.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com

Berita Terkait

Back to top button