Dominasi produsen China di pasar otomotif listrik Indonesia semakin jelas terlihat dari penjualan, investasi, dan penguasaan rantai pasok. Dalam waktu singkat, merek-merek asal Negeri Tirai Bambu berhasil mengubah peta persaingan yang selama puluhan tahun dikuasai pabrikan Jepang.
Perubahan ini terjadi karena kendaraan listrik tumbuh jauh lebih cepat dibanding pasar mobil konvensional. Saat pasar kendaraan ringan total melemah, penjualan mobil listrik justru melonjak karena harga yang lebih kompetitif, model yang lebih beragam, dan strategi produksi lokal yang makin agresif.
Lonjakan Penjualan dan Pergeseran Kekuatan Pasar
Data industri menunjukkan penjualan wholesale mobil listrik berbasis baterai di Indonesia mencapai 43.104 unit pada tahun 2024. Angka itu naik sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dan sekitar 90 persen dari total penjualan tersebut dikuasai sembilan produsen asal China.
Momentum itu berlanjut hingga November 2025, ketika total penjualan mobil listrik nasional menembus 82.525 unit. Lima merek terlaris di segmen ini semuanya berasal dari China, sementara Hyundai dari Korea Selatan masih bertahan tetapi tidak lagi memimpin volume penjualan.
Salah satu contoh paling menonjol adalah BYD lewat model M6. MPV listrik itu mencatat pengiriman 6.142 unit dan menjadi mobil listrik terlaris, sesuai karakter pasar Indonesia yang masih sangat menyukai kendaraan keluarga berkapasitas besar.
Investasi Manufaktur Jadi Senjata Utama
Keberhasilan merek China tidak hanya bertumpu pada harga, tetapi juga pada keseriusan membangun basis produksi di Indonesia. Pemerintah memberi insentif impor kendaraan listrik utuh melalui regulasi yang mensyaratkan komitmen perakitan lokal, dan kebijakan itu mendorong produsen global mempercepat investasi.
Berikut beberapa langkah investasi penting yang memperkuat posisi produsen China di dalam negeri:
- Wuling membangun pabrik senilai 700 juta dolar AS di Cikarang.
- BYD menyiapkan pabrik senilai 1 miliar dolar AS di Subang, Jawa Barat.
- Chery menambah rencana investasi lebih dari Rp 5,2 triliun hingga 2030.
- Hampir seluruh pasar EV diperkirakan berbasis unit rakitan lokal menjelang akhir 2025.
Wuling menjadi salah satu pelopor karena masuk lebih awal dan membangun ekosistem produksi lebih matang. Perusahaan itu juga mengembangkan perakitan baterai lokal melalui skema MAGIC Battery, yang memperkuat daya saing harga dan pasokan.
Rantai Pasok Nikel dan Keunggulan Biaya
Dominasi China di Indonesia juga ditopang oleh penguasaan rantai pasok dari hulu sampai hilir. Indonesia adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, dan produksi nikel nasional mencapai 2,3 juta ton pada 2024, atau sekitar 70 persen dari pasokan global.
Investor China berperan besar dalam hilirisasi tersebut, termasuk melalui proyek di kawasan industri seperti IMIP dan IWIP. Nilai investasi kumulatif di kawasan itu telah menembus belasan miliar dolar AS, sementara perusahaan Tiongkok diperkirakan mengendalikan setidaknya 75 persen kapasitas penyulingan nikel di Indonesia.
Kekuatan ini memberi keuntungan biaya yang signifikan bagi produsen EV China. Dengan akses langsung ke material mentah, pengolahan, hingga perakitan baterai, mereka dapat menawarkan harga yang sulit disaingi pabrikan Jepang atau Eropa.
Persaingan dengan Jepang dan Korea Selatan
Jepang masih menjadi investor otomotif terbesar secara kumulatif di Indonesia dengan nilai Rp 75 triliun selama 2019-2024. Namun, fokus utama mereka masih ada pada kendaraan hibrida dan mesin pembakaran internal, sehingga respons terhadap ledakan EV berjalan lebih lambat.
Korea Selatan lewat Hyundai sudah menanamkan 1,3 miliar dolar AS untuk pabrik baterai dan perakitan EV. Meski begitu, tekanan harga dari merek China membuat persaingan di segmen kendaraan listrik semakin ketat, terutama di kelas menengah yang sensitif terhadap harga jual.
Risiko Ketergantungan dan Arah Teknologi Baru
Meski pasar berkembang pesat, dominasi produsen China juga memunculkan tantangan baru bagi Indonesia. Ketergantungan pada satu kelompok investor dapat mempersempit ruang negosiasi industri, terutama jika insentif fiskal berubah atau pasar ekspor belum berkembang secepat harapan.
Di sisi lain, sebagian produsen EV China mulai bergerak ke baterai Lithium Iron Phosphate atau LFP yang tidak memakai nikel. Pergeseran ini penting karena Indonesia selama ini menaruh harapan besar pada hilirisasi nikel sebagai fondasi industri kendaraan listrik, sehingga arah teknologi baterai global akan sangat menentukan peta persaingan berikutnya.
Standar lingkungan, sosial, dan tata kelola juga akan menjadi faktor penentu. Jika produsen dan pemasok tidak memperbaiki jejak emisi serta rantai produksi, kendaraan listrik rakitan Indonesia bisa menghadapi hambatan saat masuk ke pasar dengan aturan lingkungan yang lebih ketat.
