BBM Langka, Chery Tiggo 8 CSH Menjawab Tuntas Roadtrip 1.784 Km Tanpa Isi Bensin

Isu kelangkaan BBM dan kenaikan harga bahan bakar membuat banyak orang mulai menghitung ulang biaya perjalanan jauh. Di tengah situasi itu, Chery Tiggo 8 CSH muncul sebagai contoh bahwa roadtrip jarak panjang bisa tetap efisien, bahkan diklaim menempuh 1.784 km tanpa perlu isi bensin di tengah perjalanan.

Rute yang disorot adalah Jakarta–Surabaya pulang pergi. Data dari artikel referensi menyebut capaian tersebut bukan promosi semata, melainkan hasil pemanfaatan teknologi plug-in hybrid yang menggabungkan mesin bensin dan motor listrik secara bergantian sesuai kondisi berkendara.

Teknologi yang Jadi Kunci Efisiensi

Chery Tiggo 8 CSH mengandalkan sistem Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV. Sistem ini memadukan mesin 1.500 cc turbo, motor listrik, dan baterai berkapasitas sekitar 18,3 kWh.

Dalam skema kerja PHEV, mobil tidak selalu mengandalkan bensin sebagai sumber tenaga utama. Saat baterai cukup, kendaraan bisa melaju dalam mode listrik murni sehingga konsumsi bensin ditekan semaksimal mungkin.

Artikel referensi menyebut mode EV Plus dapat dipakai untuk memprioritaskan tenaga listrik hingga jarak sekitar 80 sampai 90 km. Setelah daya baterai menurun, mesin bensin akan bekerja sambil membantu mengisi ulang baterai secara otomatis.

Model seperti ini berbeda dari hybrid konvensional. Pada PHEV, baterai dapat diisi dari sumber listrik eksternal sehingga potensi penghematan lebih besar, terutama jika pengisian dilakukan rutin sebelum dan selama perjalanan.

Bagaimana Bisa Tembus 1.784 Km Tanpa Isi Bensin

Klaim 1.784 km tanpa isi bensin tidak berarti mobil bergerak tanpa energi tambahan sama sekali. Yang dimaksud adalah perjalanan jauh dapat diselesaikan tanpa perlu mampir ke SPBU untuk menambah bensin, karena kebutuhan energi ditopang oleh kombinasi bensin di tangki, baterai, dan pengisian listrik berkala.

Strategi penggunaan mobil menjadi faktor penentu. Sistem PHEV memang hemat, tetapi hasil optimal baru tercapai jika pengemudi disiplin memilih mode berkendara dan memanfaatkan titik pengisian saat beristirahat.

Berikut faktor yang disebut paling berpengaruh terhadap efisiensi:

  1. Mengaktifkan mode EV Plus saat baterai masih di atas 20 persen.
  2. Mengisi ulang baterai setiap sekitar 200 km di rest area.
  3. Memanfaatkan regenerative braking saat deselerasi.
  4. Menghindari mode Sport untuk perjalanan jarak jauh.

Regenerative braking berperan penting karena energi saat mobil melambat tidak terbuang percuma. Energi itu dikembalikan ke baterai dan membantu menambah cadangan daya untuk penggunaan berikutnya.

Pola Berkendara yang Menentukan

Efisiensi mobil elektrifikasi sangat dipengaruhi gaya mengemudi. Akselerasi agresif, kecepatan tinggi yang tidak stabil, dan penggunaan mode performa akan membuat konsumsi energi naik lebih cepat.

Karena itu, mode Eco menjadi pilihan yang lebih masuk akal untuk roadtrip. Mode ini menjaga respons kendaraan tetap cukup, tetapi lebih menahan penggunaan tenaga berlebih agar baterai dan bensin dipakai secara lebih hemat.

Pengisian baterai saat jeda perjalanan juga memberi manfaat ganda. Selain menjaga performa sistem hybrid tetap optimal, pengemudi juga mendapat waktu istirahat yang penting untuk keselamatan selama perjalanan antarkota.

Biaya Energi Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu sorotan utama dari perjalanan ini adalah total biaya energi yang disebut tidak sampai Rp2 juta untuk jarak hampir 1.800 km. Angka itu mencakup kombinasi penggunaan bensin dan listrik, sehingga beban biaya perjalanan disebut lebih rendah dibanding mobil bermesin konvensional pada rute serupa.

Artikel referensi juga menyebut bahwa bahkan jika ditambah biaya tol, total pengeluarannya masih tergolong ekonomis untuk perjalanan lintas kota sejauh itu. Ini menjadi poin penting karena pengguna biasanya tidak hanya mempertimbangkan konsumsi BBM, tetapi juga total biaya mobilitas selama mudik atau liburan panjang.

Namun, efisiensi biaya tetap akan bergantung pada beberapa faktor. Kondisi lalu lintas, kepadatan jalan tol, muatan penumpang, penggunaan AC, hingga ketersediaan stasiun pengisian akan memengaruhi hasil akhir di lapangan.

Relevan untuk Mudik dan Perjalanan Keluarga

Mobil PHEV seperti Tiggo 8 CSH mulai dilihat sebagai opsi realistis untuk kebutuhan keluarga. Saat kebutuhan perjalanan meningkat menjelang musim mudik, kombinasi kabin lapang dan efisiensi energi menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan.

Di sisi lain, teknologi ini juga menjawab kekhawatiran saat pasokan BBM terbatas atau harga bahan bakar naik. Pengguna tidak sepenuhnya bergantung pada bensin karena masih punya dukungan tenaga listrik yang bisa diisi ulang di titik charging.

Bagi calon pengguna, ada satu hal yang perlu dicermati sebelum meniru pola perjalanan tersebut. Keberhasilan menempuh 1.784 km tanpa isi bensin sangat bergantung pada manajemen energi, kedisiplinan pengisian daya, dan pemahaman terhadap karakter kerja sistem PHEV, bukan semata karena kapasitas tangki atau baterai yang besar.

Berita Terkait

Back to top button