Jaecoo J7 SHS-P menarik perhatian karena mampu menunjukkan efisiensi jarak jauh saat dipakai mudik Lebaran 2026. Dalam pengujian perjalanan Bogor, Jawa Barat, ke Purworejo, Jawa Tengah, mobil plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV ini tetap melaju tanpa perlu berhenti untuk mengisi bensin maupun daya di tengah perjalanan.
Pengalaman itu penting karena banyak calon pembeli masih ragu pada mobil PHEV untuk rute antarkota. Data perjalanan yang dicatat di lapangan justru memperlihatkan bahwa teknologi hybrid plug-in bisa tetap praktis untuk mudik, selama strategi pengisian daya dan pemakaiannya tepat.
Perjalanan jauh dengan modal awal penuh
Rute dimulai dari Bogor dengan tangki bahan bakar penuh berkapasitas 60 liter dan baterai terisi 100 persen. Dalam kondisi arus mudik yang padat, Jaecoo J7 SHS-P sanggup bertahan hingga Purworejo tanpa isi ulang bahan bakar atau listrik di jalan.
Kondisi ini menegaskan karakter utama mobil PHEV, yaitu menggabungkan motor listrik dan mesin bensin sebagai sistem penggerak yang saling mendukung. Saat lalu lintas tersendat atau kecepatan rendah, mobil lebih sering mengandalkan motor listrik, sedangkan mesin bensin bekerja sebagai penopang saat dibutuhkan.
Kinerja motor listrik dan mesin bensin
Jaecoo J7 SHS-P memakai motor listrik dengan tenaga 201 Tk dan torsi 310 Nm. Sementara itu, mesin bensin 1.500 cc turbo menghasilkan 140 Tk dan torsi 215 Nm.
Kombinasi ini memberi fleksibilitas saat menghadapi dua situasi khas perjalanan mudik, yakni macet panjang dan jalan luar kota yang lebih lancar. Pada kondisi dekat kota atau kecepatan rendah, sistem listrik membantu menjaga konsumsi bahan bakar tetap hemat.
Catatan konsumsi energi selama perjalanan
Berdasarkan informasi pada Multi Information Display atau MID, konsumsi bahan bakar rata-rata selama rute kombinasi luar kota dan dalam kota mencapai sekitar 25 km per liter. Konsumsi listriknya tercatat sekitar 2,0 Wh per km.
Angka tersebut dihitung dari perjalanan yang mencakup kemacetan parah hingga jalan yang lebih lengang. Setelah sampai di Purworejo, tangki bensin masih menyisakan sekitar setengah, dengan estimasi jarak tempuh sekitar 600 km.
Berikut ringkasan data penting dari perjalanan itu:
- Tangki bensin awal: 60 liter penuh.
- Baterai awal: 100 persen.
- Konsumsi BBM rata-rata: sekitar 25 km/liter.
- Konsumsi listrik: sekitar 2,0 Wh/km.
- Sisa bahan bakar setelah rute Bogor–Purworejo: sekitar setengah tangki.
- Perkiraan sisa jarak tempuh: sekitar 600 km.
- Kapasitas baterai: 18,3 kWh.
- Jarak mode listrik murni: sekitar 100 km.
Pemakaian SPKLU jadi kunci efisiensi
Selama berada di Purworejo, pengemudi memanfaatkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU sebanyak tujuh kali. Pengisian itu dipakai untuk menunjang mobilitas harian dan perjalanan pulang ke Bogor.
Strategi utamanya sederhana, yakni menjaga baterai tetap penuh saat berada di tujuan. Dengan begitu, mobil bisa lebih sering memakai mode EV untuk jarak pendek dan kondisi macet, sedangkan mesin bensin hanya aktif saat dibutuhkan secara optimal.
Hasil akhir perjalanan mudik
Efisiensi tersebut terasa saat perjalanan pulang. Total jarak yang tercatat hingga kembali ke rumah di Bogor mencapai 1.511,3 km, dan seluruh perjalanan hanya membutuhkan satu kali pengisian bahan bakar penuh sejak awal keberangkatan.
Data itu menunjukkan bahwa Jaecoo J7 SHS-P tidak hanya mengandalkan klaim teknologi, tetapi juga membuktikan efisiensi nyata di rute mudik yang menuntut daya tahan, kenyamanan, dan penghematan energi sekaligus. Efektivitas mobil ini tetap sangat bergantung pada kebiasaan pengguna dalam mengisi daya baterai dan memanfaatkan SPKLU secara konsisten.









