Konversi motor bensin ke listrik kini makin dilihat sebagai opsi hemat sekaligus ramah lingkungan bagi pemilik kendaraan roda dua. Proses ini memberi kesempatan pada motor lama untuk terus digunakan dengan sistem penggerak yang lebih efisien dan emisi yang lebih rendah.
Minat terhadap konversi juga tumbuh karena banyak pengguna ingin tetap mempertahankan kendaraan yang sudah familiar, tetapi dengan biaya operasional harian yang lebih ringan. Di sisi lain, konversi tidak bisa diputuskan hanya karena tren, sebab ada kebutuhan teknis, biaya, dan standar keselamatan yang harus dipenuhi.
Konversi Bukan Sekadar Ganti Mesin
Abdullah dari Dolland Motor Electric menekankan bahwa hal pertama yang perlu dipikirkan calon pengguna adalah jarak tempuh harian. Ia menyebut kebutuhan mobilitas akan menentukan spesifikasi baterai yang tepat, sehingga motor hasil konversi benar-benar sesuai dengan pola pemakaian.
“Kalau tipsnya, kalau yang orang baru mau konversi, yang perlu dipikirkan selanjutnya itu kebutuhan jarak tempuhnya sih, sebenarnya lebih ke arah situ,” ujar Abdul seperti dikutip dari Otomotif. Ia juga menjelaskan bahwa komponen motor listrik umumnya tidak membutuhkan perawatan sesering motor berbahan bakar bensin.
Menurutnya, bagian-part motor listrik cenderung jarang mengalami kerusakan. Fakta ini menjadi salah satu alasan konversi dipandang menarik bagi pengguna yang ingin mengurangi repotnya perawatan berkala dan potensi kerusakan mesin.
Biaya Awal Masih Jadi Tantangan
Meski terlihat sederhana di permukaan, konversi motor listrik tetap memerlukan bengkel yang tersertifikasi dan peralatan khusus. Abdullah menyebut kebutuhan investasi untuk bengkel konversi resmi bisa mencapai sekitar Rp 800 juta hanya untuk alat dan perlengkapan keselamatan.
Ia menambahkan bahwa satu alat tes untuk pengujian instalasi saja bisa bernilai sekitar Rp 300 juta. Selain itu, bengkel juga harus memiliki minimal dua mekanik dengan latar belakang elektronik dan pemahaman kendaraan listrik.
Persyaratan itu menunjukkan bahwa konversi bukan layanan yang bisa dilakukan sembarangan. Standar teknis dan keselamatan menjadi kunci agar hasil akhir aman dipakai di jalan dan sesuai regulasi.
Regulasi Pemerintah ikut Mengatur
Ketentuan konversi motor bensin menjadi motor listrik di Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 65 Tahun 2020. Dalam aturan itu, bengkel konversi wajib memenuhi syarat teknis, kompetensi personel, peralatan instalasi, serta fasilitas keselamatan kerja.
Berikut gambaran ringkas faktor yang perlu diperhatikan sebelum melakukan konversi:
| Aspek | Catatan Penting |
|---|---|
| Jarak tempuh | Menentukan kapasitas baterai |
| Kondisi motor lama | Banyak komponen mekanis bisa perlu perbaikan |
| Bengkel tersertifikasi | Wajib memenuhi standar resmi |
| Biaya alat bengkel | Bisa mencapai sekitar Rp 800 juta |
| SDM teknis | Minimal dua mekanik berlatar elektronik |
Motor Konversi dan Motor Baru Punya Fungsi Berbeda
Training Analyst dan Technical Analyst PT Wahana Makmur Sejati, Wahyu Budhi, melihat konversi sebagai solusi transisi cepat untuk menekan emisi dari motor yang sudah beredar di jalan. Menurut dia, motor lama yang dikonversi dapat mengurangi limbah kendaraan dan tetap memberi manfaat ekonomi bagi pemiliknya.
Namun, Wahyu juga menilai motor listrik baru menawarkan integrasi sistem yang lebih optimal dan efisiensi yang lebih tinggi. “Konversi adalah solusi transisi cepat untuk mengurangi emisi dari populasi motor yang sudah ada, sementara motor listrik baru merupakan solusi jangka panjang,” katanya.
Pandangan itu menempatkan konversi dan pembelian motor listrik baru sebagai dua jalur yang berbeda tetapi sama-sama mendukung elektrifikasi. Konversi cocok untuk menekan emisi dari kendaraan yang sudah ada, sedangkan motor listrik baru mendukung pembaruan armada dengan teknologi yang lebih matang.
Trade-in Dinilai Lebih Praktis untuk Sebagian Konsumen
Di tengah biaya dan tantangan teknis konversi, skema tukar tambah atau trade-in muncul sebagai alternatif yang dianggap lebih realistis. Dengan metode ini, motor bensin lama diserahkan ke dealer resmi sebagai bagian pembayaran untuk motor listrik baru.
Skema tersebut memberi konsumen motor dengan BPKB bersih, garansi pabrikan, dan dukungan purna jual yang lebih jelas. Motor bensin bekasnya juga masuk jalur daur ulang resmi, sehingga proses transisi ke kendaraan listrik berlangsung lebih tertata dan tidak menambah populasi kendaraan di jalan.
Bagi banyak pemilik motor, pilihan antara konversi dan beli baru sangat bergantung pada kondisi kendaraan lama, besaran anggaran, dan kebutuhan harian. Konversi tetap menawarkan solusi hemat dan ramah lingkungan, tetapi keputusan paling tepat biasanya muncul setelah menghitung biaya total, kesiapan teknis, serta manfaat jangka panjang yang ingin dicapai.
