BRIN mendorong standardisasi steker dan soket pengisian motor listrik untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Indonesia. Langkah ini dinilai penting karena ekosistem pengisian daya masih menghadapi hambatan besar, mulai dari keterbatasan infrastruktur, biaya baterai yang tinggi, hingga kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh.
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rahman Priandana, menyebut tantangan itu juga diperparah oleh masih terbatasnya investasi pada infrastruktur penukaran baterai dan pengisian cepat di dalam negeri. Menurut dia, tanpa standar plug dan socket yang seragam, pertumbuhan ekosistem pengisian daya akan berjalan lambat dan tidak efisien.
Mengapa standardisasi dianggap penting
BRIN menilai isu interoperabilitas menjadi kunci utama dalam pengembangan motor listrik. Perbedaan desain steker dan soket antarmerek dapat menyulitkan pengguna, memperlambat pembangunan stasiun pengisian, dan membuat investor ragu masuk ke sektor ini.
Berikut alasan utama standardisasi diperlukan:
- Meningkatkan kompatibilitas antarperangkat pengisian.
- Mempercepat pembangunan infrastruktur pengisian cepat.
- Mendorong investasi SPKLU dan layanan pendukung.
- Membuka ruang inovasi produsen tanpa harus menyeragamkan desain baterai.
- Memperkuat tingkat komponen dalam negeri atau TKDN.
Eka menjelaskan bahwa tren kendaraan listrik roda dua juga mulai bergeser ke model baterai tanam berkapasitas besar atau long range. Model seperti ini membutuhkan dukungan fast charging yang andal agar pengguna tetap merasa praktis dalam penggunaan harian.
Acuan standar dan penyesuaian lokal
Dalam pengembangan SNI, BRIN mengacu pada standar internasional IEC 62196-6. Namun, desain tersebut tidak ditelan mentah-mentah karena tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal, termasuk kebutuhan pasar Indonesia dan kondisi industri dalam negeri.
Pendekatan ini dinilai penting agar standar nasional tidak hanya kompatibel secara teknis, tetapi juga relevan untuk diterapkan oleh produsen, operator infrastruktur, dan pengguna. Jika standar ini berjalan baik, maka satu sistem pengisian dapat dipakai lebih luas tanpa memaksa semua produsen mengikuti format baterai yang sama.
Prototipe pengisian cepat SONIK R2
Sebagai langkah konkret, BRIN juga mengembangkan prototipe stasiun pengisian cepat roda dua bernama SONIK R2. Perangkat ini memiliki kapasitas hingga 6,6 kW dan diklaim mampu memangkas waktu pengisian secara signifikan.
Eka menyebut pengisian bisa berlangsung sekitar 20 menit untuk baterai berbasis LiFePO4. Angka ini menunjukkan bahwa pengisian cepat berpotensi menjadi solusi penting bagi konsumen yang membutuhkan efisiensi waktu dan kemudahan akses.
Fungsi EVCC dalam sistem pengisian
Sistem yang dikembangkan BRIN memanfaatkan electric vehicle charge controller atau EVCC. Perangkat ini berfungsi menjembatani berbagai protokol komunikasi baterai dari sejumlah manufaktur yang berbeda.
Dengan EVCC, sistem pengisian diharapkan bisa lebih fleksibel saat menghadapi variasi teknologi dari berbagai produsen. Hal ini penting karena pasar motor listrik tidak lagi bergerak pada satu model teknologi saja, melainkan pada banyak pendekatan yang berkembang secara paralel.
Tantangan adopsi motor listrik di Indonesia
Selain soal standar pengisian, BRIN menyoroti hambatan lain yang masih menahan adopsi motor listrik. Biaya baterai yang tinggi masih menjadi beban utama, sementara kekhawatiran terhadap jarak tempuh membuat sebagian konsumen menunda beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil.
Di sisi lain, fasilitas battery swapping juga belum berkembang maksimal. Model bisnis ini membutuhkan investasi besar, termasuk skema pembagian keuntungan dengan penyedia listrik yang tidak selalu sederhana untuk dijalankan.
Fokus pembahasan bersama BSN dan pemangku kepentingan
Usulan standar plug dan socket untuk motor listrik saat ini masih dibahas bersama Badan Standardisasi Nasional. BRIN juga terus berkoordinasi dengan kementerian, asosiasi industri, dan mitra swasta agar standar yang disusun benar-benar bisa diterapkan di lapangan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kendaraan listrik roda dua yang lebih matang, terutama di tengah kebutuhan Indonesia untuk memperluas adopsi teknologi yang efisien, kompatibel, dan siap didukung oleh infrastruktur pengisian yang seragam.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com








