F-150 Dibangun Di Amerika, Nasibnya Kini Ditentukan Aluminium Impor Dan Tarif 25%

Ford tengah menghadapi persoalan suplai yang bisa mengganggu salah satu produk terpentingnya, F-150. Truk ini dirakit di Amerika Serikat, tetapi kekurangan aluminium dari pemasok dalam negeri membuat Ford harus mencari bahan baku dari luar negeri dan menanggung biaya tarif yang jauh lebih tinggi.

Kondisi ini penting karena F-150 adalah tulang punggung penjualan Ford di pasar Amerika. Saat produksi terganggu, dampaknya tidak hanya terasa pada pabrik, tetapi juga pada pengiriman, stok dealer, dan hasil penjualan kuartalan.

Gangguan pasokan berawal dari kebakaran pabrik

Masalah Ford bermula dari kebakaran yang melanda pemasok aluminium besar di New York. Menurut laporan Carscoops yang mengutip Wall Street Journal, dua insiden terpisah pada tahun lalu membuat fasilitas itu berhenti beroperasi dan memutus salah satu sumber penting aluminium ringan yang dipakai Ford untuk bodi truknya.

Gangguan ini tidak berdiri sendiri. Stellantis dan General Motors juga disebut ikut terdampak karena sama-sama bergantung pada rantai pasok aluminium yang serupa.

Aluminium impor memicu biaya tambahan

Saat suplai domestik terganggu, Ford terpaksa mengandalkan aluminium dari luar negeri. Masalahnya, bahan baku pengganti tersebut dikenai bea masuk yang besar, yakni 50 persen, sehingga biaya produksi ikut naik.

Dalam laporan yang sama, perubahan sistem tarif di AS juga disebut berpotensi memunculkan bea 25 persen pada F-150 yang selesai dirakit di Amerika tetapi memakai aluminium impor. Artinya, beban tarif tidak hanya menekan bahan mentah, tetapi juga bisa merembet ke kendaraan akhirnya.

Mengapa ini penting bagi Ford

F-150 adalah salah satu model paling strategis bagi Ford karena volume penjualannya besar dan kontribusinya terhadap pendapatan juga tinggi. Jika biaya produksi naik sementara pasokan terganggu, margin keuntungan bisa tertekan dalam waktu yang relatif cepat.

Dalam konteks industri otomotif, aluminium menjadi bahan penting karena bobotnya ringan dan membantu efisiensi kendaraan. Namun ketika rantai pasoknya terganggu, keunggulan teknis itu berubah menjadi risiko finansial yang nyata.

Dampak yang sudah terlihat pada produksi dan penjualan

Kondisi di pabrik Ford dilaporkan belum stabil. Produksi F-Series berjalan tidak merata karena kendala pasokan memaksa perusahaan mengatur ulang jadwal kerja dan menunda sejumlah pengiriman.

Berikut ringkasan dampaknya berdasarkan laporan referensi:

  1. Produksi F-Series tidak konsisten akibat gangguan pasokan.
  2. Sebagian pengiriman tertunda karena stok terbatas.
  3. Penjualan lini truk turun 16 persen pada kuartal pertama.
  4. Penjualan Ford secara keseluruhan di AS turun 8 persen pada kuartal pertama.
  5. Dampak suplai diperkirakan masih berlangsung sepanjang tahun.

Ford meminta kelonggaran tarif

Ford disebut sudah meminta ruang bernapas kepada pemerintah AS agar tarif impor aluminium bisa dilonggarkan sementara sampai fasilitas pemasok kembali beroperasi. Hingga kini, permintaan itu belum membuahkan hasil.

Pemerintah AS menilai industri otomotif sudah mendapat keringanan di area lain, termasuk pada beberapa komponen mobil impor. Namun Ford menilai kondisi aluminium ini berbeda karena gangguannya datang dari hilangnya kapasitas produksi yang krusial, bukan sekadar persoalan perdagangan biasa.

Upaya menutup kekurangan produksi

Untuk mengejar ketertinggalan, Ford berencana menaikkan produksi di paruh kedua periode ini dan mengurangi waktu henti pabrik yang biasanya terjadi pada musim panas. Strategi itu dimaksudkan untuk menutup kekurangan output dan menjaga pasokan F-150 tetap mengalir ke dealer.

Meski demikian, langkah tersebut tidak langsung menghapus dampak yang sudah terjadi. Laporan Wall Street Journal yang dikutip Carscoops menyebut gangguan ini telah menelan biaya sekitar $2 miliar pada tahun lalu dan berpotensi menambah kerugian sekitar $1 miliar pada tahun ini.

Situasi ini menunjukkan bagaimana satu gangguan pada pemasok aluminium bisa menjalar ke biaya produksi, output pabrik, penjualan, hingga kebijakan tarif. Bagi Ford, persoalannya bukan lagi sekadar membangun F-150 di Amerika, melainkan memastikan bahan bakunya tetap aman digunakan tanpa memicu beban tarif yang bisa menggerus daya saing truk terlarisnya.

Source: www.carscoops.com
Exit mobile version