Detroit Protes Eropa Menutup Pintu Truk Amerika, Padahal AS Sudah Lama Mengunci Pasarnya Sendiri

Komplain industri otomotif Detroit soal sulitnya truk Amerika masuk ke Eropa kembali memantik perdebatan lama tentang perdagangan yang timpang. Namun data dari laporan terbaru menunjukkan bahwa isu ini tidak sesederhana tudingan “Eropa menutup pintu”, karena Amerika Serikat selama puluhan tahun justru lebih dulu membangun pembatas yang sangat kuat terhadap truk impor.

Laporan Financial Times yang dikutip Carscoops menyebutkan bahwa keluhan itu bertumpu pada komentar seorang eksekutif tanpa nama dari sebuah produsen mobil di Detroit, pernyataan Duta Besar AS Andrew Puzder, dan surat dari American Automotive Policy Council yang mewakili Ford, GM, dan Stellantis. Tidak ada satu pun produsen yang secara terbuka menuduh Uni Eropa memblokir truk mereka, sementara Ram, Ford, dan GM juga menolak memberi komentar.

Apa yang sebenarnya dipersoalkan

Masalah utama ada pada sistem Individual Vehicle Approval atau IVA di Uni Eropa. Skema ini memberi peluang terbatas bagi kendaraan yang dibuat untuk pasar lain agar tetap bisa masuk ke Eropa tanpa harus memenuhi seluruh regulasi teknis blok tersebut.

Skema itu pada dasarnya berfungsi sebagai celah bagi kendaraan ber-volume rendah atau model khusus, mirip dengan pengecualian “Show and Display” di pasar Amerika. Dengan kata lain, sistem ini tidak mencerminkan larangan total, melainkan pembatasan untuk kendaraan yang tidak sepenuhnya sesuai standar keselamatan dan emisi Eropa.

Menurut Transport & Environment, sekitar 7.000 kendaraan masuk lewat jalur ini pada 2024, dan jumlah itu kurang dari 0,1 persen pasar Eropa. Dari angka tersebut, hampir 5.200 unit merupakan truk Ram, sehingga dampaknya tetap sangat kecil dibanding ukuran pasar otomotif Eropa secara keseluruhan.

Skala pasar yang sangat timpang

Perbandingan penjualan menunjukkan alasan mengapa narasi “Eropa menutup pasar” terdengar berlebihan. Ford menjual 801.525 unit F-Series di Amerika Serikat pada tahun lalu, sementara Ram mencatat 374.059 unit penjualan.

Itu berarti Ford menjual sekitar 2.196 truk per hari di AS, sedangkan Ram sekitar 1.025 unit per hari. Dengan laju seperti itu, Ford bisa menyamai 7.000 unit hanya dalam sedikit lebih dari tiga hari, dan Ram dalam waktu kurang dari seminggu.

Sebaliknya, angka 7.000 unit di Eropa tersebar di pasar besar dengan aturan keselamatan yang berbeda. Karena itu, rencana pengetatan IVA yang sedang dipertimbangkan Uni Eropa mulai 2027 lebih tepat dibaca sebagai upaya menutup celah regulasi, bukan pelarangan penuh terhadap truk buatan Amerika.

Alasan keamanan ikut masuk dalam debat

Kelompok penentang pickup besar menilai kendaraan seperti Ram 1500 membawa risiko lebih tinggi bagi pejalan kaki dan pesepeda. Transport & Environment bahkan menyebut kap mesin Ram cukup tinggi sehingga anak kecil yang berdiri tepat di depan kendaraan bisa tidak terlihat oleh pengemudi.

Argumen itu memang memicu perdebatan, tetapi tetap berada dalam ranah kebijakan keselamatan jalan. Itu berbeda dari tudingan bahwa Uni Eropa sekadar ingin mengusir produk Amerika dari pasar mereka.

Tabel singkat gambaran kebijakan

Wilayah Kebijakan utama Dampak ke truk impor
Uni Eropa IVA untuk impor terbatas Membuka celah bagi kendaraan tertentu
Amerika Serikat Chicken tax 25% untuk light trucks Menjadikan impor truk sangat mahal
Amerika Serikat Standar keselamatan federal Kendaraan yang tidak sesuai tidak bisa masuk bebas

Masalah lama yang belum selesai

Pernyataan Puzder bahwa “Anda tidak bisa punya tarif rendah dan penghalang non-tarif besar-besaran lalu mengklaim relasi yang berfungsi” mencerminkan frustrasi industri Detroit. Tetapi kritik itu juga memunculkan pertanyaan balik, karena Amerika Serikat sendiri telah menutup pasar truknya selama lebih dari setengah abad melalui chicken tax.

Tarif 25 persen untuk light trucks yang diberlakukan sejak 1964 itu membentuk pasar pickup Amerika hingga sekarang. Karena beban tarif tersebut, Toyota, Nissan, Honda, dan Mercedes akhirnya memilih memproduksi model mereka di Amerika Utara ketimbang mengirimnya dari luar negeri.

Beberapa perusahaan juga pernah mencari jalan lain untuk menghindari tarif. Ford, misalnya, pernah mengimpor Transit Connect sebagai kendaraan penumpang lalu mencopot kursi belakang setelah tiba di Amerika untuk menghindari beban pajak impor.

Situasi ini membuat keluhan terhadap Uni Eropa terlihat kurang seimbang jika dibandingkan dengan praktik proteksionis Amerika sendiri. Bahkan, warga Amerika saat ini juga tidak bebas memasukkan kendaraan pilihan mereka ke pasar domestik jika kendaraan itu tidak memenuhi Federal Safety Standards, sehingga hambatan impor tetap berlaku di kedua sisi Atlantik.

Source: www.carscoops.com

Berita Terkait

Back to top button