Badan Gizi Nasional (BGN) disebut telah membeli 25 ribu unit motor listrik EMMO untuk mendukung operasional program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Namun, perhatian publik justru tertuju pada satu hal lain, yakni desain EMMO JVH Max yang tampak sangat mirip dengan motor listrik buatan Tizhou Okla Automotive dari Zhejiang, China.
Kemiripan itu bukan hanya sekadar siluet umum. Dari lampu utama, windshield, spatbor, filter udara, hingga fairing dan lampu sein, bentuk EMMO JVH Max dan motor listrik Okla terlihat hampir identik, dengan perbedaan paling jelas hanya pada warna dan emblem.
Desain yang sangat dekat dengan model Okla
Jika dilihat dari sisi visual, EMMO JVH Max dan model motor listrik Okla memang sulit dibedakan. Bagian depan keduanya menampilkan lekuk headlamp yang serupa, posisi windshield yang sama, serta bentuk spatbor yang nyaris tidak berubah.
Kemiripan juga berlanjut ke area samping dan buritan. Model jok, knalpot, mudguard, hingga dudukan besi di bagian belakang tampak mengikuti pola desain yang sama, sehingga wajar jika publik mempertanyakan asal-usul rancangan motor tersebut.
Motor Okla dijual di platform global dengan label sederhana
Disitat dari laman made-in-china, produk motor listrik Okla tidak dipasarkan dengan nama model yang spesifik. Pada halaman produk, motor itu bahkan hanya tertulis sebagai “Motor Listrik Scrambler Biaya Rendah dengan Motor Samping” jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Harga yang tercantum mulai dari US$ 2.185 atau sekitar Rp 37 jutaan. Angka itu lebih rendah dibandingkan EMMO JVH Max yang dipasarkan seharga Rp 48 jutaan di Indonesia, meski belum ada penjelasan apakah harga tersebut berstatus on the road atau off the road.
Kemungkinan skema jual beli dan produksi
Laman produk Okla memang tidak memuat rincian spesifikasi teknis motor tersebut. Meski begitu, kendaraan itu disebut bisa dibeli melalui skema CBU atau CKD, yang lazim dipakai dalam perdagangan kendaraan lintas negara.
Skema CKD memungkinkan komponen dikirim dalam bentuk terurai untuk dirakit di negara tujuan. Sementara CBU berarti unit datang utuh dari pabrik asal, sehingga dua opsi ini sering dipakai oleh produsen yang ingin memperluas pasar tanpa harus membangun lini produksi penuh di negara tujuan.
Status desain industri EMMO ikut jadi sorotan
Di Indonesia, EMMO JVH Max disebut sebagai salah satu motor listrik yang akan dipakai untuk operasional MBG. Menariknya, model ini baru didaftarkan hak desain industrinya ke Pangkalan Data Kekayaan Intelektual pada akhir tahun lalu.
Data yang tercantum menunjukkan desain industri Emmo JVH Max diterima pada 17 Oktober 2025. Sementara itu, Emmo JVX GT tercatat diterima pada 22 Agustus 2025, dan keduanya didaftarkan atas nama pemohon PT Adlas Sarana Elektrik.
Tabel ringkas perbandingan yang memicu pertanyaan publik
| Aspek | EMMO JVH Max | Okla dari Tizhou Okla Automotive |
|---|---|---|
| Desain | Mirip dengan model Okla | Dijual sebagai motor listrik scrambler murah |
| Harga | Rp 48 jutaan | US$ 2.185 atau sekitar Rp 37 jutaan |
| Rincian spesifikasi | Tidak dijelaskan dalam sumber referensi | Tidak dicantumkan di laman produk |
| Skema pembelian | Dikaitkan dengan pengadaan MBG | Bisa CBU atau CKD |
Platform pengadaan dan dorongan produk lokal
Dalam laman resmi Inaproc, platform itu memungkinkan pembelian langsung tanpa tender panjang dan mengutamakan produk lokal. Di sana tercantum dua model motor listrik Emmo, yakni JVX GT dan JVH Max, yang memperlihatkan bahwa kendaraan ini sudah masuk dalam ekosistem pengadaan pemerintah.
Kondisi ini membuat publik bertanya lebih jauh, apakah motor yang dipakai untuk program MBG benar-benar hasil pengembangan lokal, atau justru merupakan model yang sangat dekat dengan produk OEM dari China. Pertanyaan itu semakin kuat karena tampilan luar kendaraan satu ini dinilai bukan hanya mirip, melainkan hampir identik di hampir semua sisi visual.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com