Foton resmi membawa pick up double cabin listrik eTunland ke ajang GIICOMVEC. Model ini langsung menarik perhatian karena masuk ke segmen yang selama ini didominasi kendaraan bermesin pembakaran internal, khususnya merek Jepang.
Kehadiran eTunland juga memperlihatkan arah baru pasar kendaraan niaga ringan di Indonesia. Foton menempatkan model ini sebagai solusi operasional bisnis yang efisien, tangguh, dan lebih ramah lingkungan untuk kebutuhan kerja harian maupun medan yang menantang.
Masuk ke segmen yang sangat kompetitif
Pick up double cabin dikenal sebagai kendaraan serbaguna yang dipakai untuk operasional proyek, industri, perkebunan, hingga kebutuhan angkutan di area campuran jalan aspal dan tanah. Karena itu, kehadiran versi listrik menjadi langkah yang cukup berani sekaligus strategis.
eTunland hadir dengan sistem penggerak 4×4. Konfigurasi ini penting karena memberi kemampuan lebih saat melewati medan sulit, terutama di area semi-industri dan lokasi kerja yang tidak selalu mulus.
Motor listriknya menghasilkan tenaga hingga 114 dk dengan torsi puncak 290 Nm. Angka ini menempatkan eTunland sebagai kendaraan niaga yang tidak hanya mengandalkan efisiensi, tetapi juga tetap menawarkan karakter kerja yang responsif.
Spesifikasi utama Foton eTunland
Berikut sejumlah data penting yang menjadi sorotan dari model ini:
- Motor listrik: 114 dk
- Torsi maksimum: 290 Nm
- Kapasitas baterai: 88 kWh
- Jarak tempuh klaim: hingga 400 km dalam sekali pengisian daya penuh
- Penggerak: 4×4
- Pengisian cepat DC: sekitar 42 menit hingga optimal
- Jenis baterai: LFP dengan liquid cooling
- Wheelbase: 3.110 mm
- Gross Vehicle Weight: 3.200 kg
- Harga: Rp780 juta OTR Jakarta
Daya jelajah menjadi nilai jual penting
Salah satu aspek yang paling relevan untuk kendaraan komersial adalah jarak tempuh. Foton mengklaim eTunland mampu melaju hingga 400 km dalam sekali isi daya penuh berdasarkan penggunaan riil.
Bagi pelaku usaha, angka ini berarti kendaraan bisa dipakai lebih lama tanpa sering berhenti untuk pengisian. Efeknya, produktivitas operasional dapat terjaga dan waktu henti bisa ditekan, terutama saat kendaraan dipakai untuk mobilitas rutin di dalam kota atau antar lokasi kerja.
Pengisian daya juga menjadi perhatian penting. Foton membekali eTunland dengan dukungan DC fast charging yang diklaim bisa mengisi daya hingga optimal dalam waktu sekitar 42 menit.
Fokus pada ketahanan baterai dan durabilitas
Untuk sektor komersial, ketahanan komponen menjadi faktor yang sama pentingnya dengan performa. Karena itu, Foton memakai baterai LFP atau Lithium Ferro Phosphate, yang dikenal stabil dan cocok untuk siklus pemakaian intensif.
Sistem pendingin cairan juga ikut dipakai untuk menjaga suhu baterai tetap terkendali. Kombinasi ini dimaksudkan agar performa baterai lebih konsisten dan umur pakai lebih panjang, terutama saat kendaraan dioperasikan secara terus-menerus di iklim tropis seperti Indonesia.
Ukuran bodi mendukung fungsi kerja
Dimensi eTunland juga dirancang untuk mendukung stabilitas saat membawa beban. Wheelbase 3.110 mm dan GVW 3.200 kg memberi gambaran bahwa kendaraan ini tidak sekadar fokus pada tenaga, tetapi juga pada kemampuan membawa muatan secara efektif.
Dalam konteks kendaraan kerja, stabilitas seperti ini penting karena berpengaruh pada rasa aman dan efisiensi operasional. Semakin matang rancangan platformnya, semakin luas pula potensi penggunaan kendaraan di sektor niaga.
Harga dan posisi di pasar listrik komersial
Foton memasang harga Rp780 juta OTR Jakarta untuk eTunland. Angka ini menempatkannya di kelas yang cukup spesifik, yaitu kendaraan niaga listrik dengan teknologi dan kemampuan yang ditujukan untuk kebutuhan profesional.
Dengan harga tersebut, eTunland hadir bukan sebagai kendaraan penumpang biasa, melainkan sebagai alat kerja yang menonjolkan efisiensi energi, kemampuan jelajah, dan kesiapan menghadapi kebutuhan operasional modern. Peluncuran ini juga memperkuat sinyal bahwa kendaraan listrik mulai bergerak lebih serius ke sektor komersial, bukan hanya pasar mobil penumpang.
