Pasar sepeda motor Indonesia tetap besar, tetapi tidak semua model bergerak cepat di showroom. Sejumlah motor justru mencatat penjualan yang lebih lambat pada awal tahun ini karena harganya relatif tinggi, segmennya sempit, atau kalah populer dari skutik yang lebih praktis.
Di tengah total penjualan domestik yang mencapai sekitar 6,41 juta unit sepanjang tahun lalu dengan pertumbuhan sekitar 1,3 persen, dominasi skutik masih sangat kuat. Porsi skutik disebut sudah melampaui 90 persen pasar, sedangkan motor sport dan bebek hanya mengambil bagian kecil, sehingga beberapa model di luar arus utama sulit mengejar volume penjualan besar.
Mengapa beberapa motor lebih lambat terjual
Perlambatan penjualan biasanya bukan karena produknya buruk, melainkan karena posisinya yang tidak selaras dengan kebutuhan mayoritas pembeli. Banyak konsumen Indonesia masih memprioritaskan motor yang hemat, praktis, mudah dipakai harian, serta punya biaya kepemilikan yang terjangkau.
Faktor lain juga ikut menekan minat beli, seperti jaringan layanan yang terbatas, harga yang cukup tinggi di kelasnya, dan persepsi bahwa motor tertentu hanya cocok untuk penggemar segmen spesifik. Dalam pasar yang sensitif harga, karakter produk seperti ini sering membuat penjualan bergerak lebih pelan.
Daftar motor yang penjualannya relatif lambat
-
Kawasaki W175
Motor bergaya klasik ini punya identitas kuat lewat desain retro, tangki membulat, jok datar, dan velg jari-jari. Meski tampil menarik, W175 dinilai kurang kompetitif di pasar massal karena fitur yang sederhana, performa yang biasa saja dibanding motor sport 150 cc, dan harga yang relatif tinggi untuk motor bergaya klasik. -
Yamaha XSR155
Model neo-retro ini menawarkan teknologi modern dengan mesin 155 cc berteknologi Variable Valve Actuation atau VVA. Namun, posisi harganya membuat banyak pembeli berpikir dua kali, apalagi saat kebutuhan utama pasar masih condong ke skutik yang lebih praktis untuk mobilitas harian. -
Honda CB150 Verza
Motor ini dikenal irit, sederhana, dan mudah dirawat. Meski begitu, desainnya dianggap kurang modern oleh sebagian konsumen, sehingga penjualannya kalah bersaing dengan skutik populer dan motor sport lain yang tampil lebih agresif. -
Suzuki GSX-R150
Di segmen sport fairing 150 cc, GSX-R150 punya mesin DOHC 150 cc yang responsif dan ringan. Meski spesifikasinya menarik, pasar sport yang menyusut, persaingan ketat, dan harga yang tidak terlalu rendah membuat model ini tidak secepat kompetitornya dalam perputaran penjualan. - TVS Ronin
Motor modern klasik ini membawa mesin 225 cc, ABS, dan slipper clutch, sehingga secara fitur terbilang menarik. Tantangan utamanya ada pada brand awareness TVS yang masih kalah kuat dibanding merek Jepang, ditambah jaringan dealer yang belum luas dan nilai jual kembali yang belum sejelas rivalnya.
Faktor pasar yang ikut menahan laju penjualan
Secara umum, industri roda dua masih menghadapi tekanan dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Data yang beredar menunjukkan sekitar 65 persen pembelian motor di Indonesia dilakukan lewat pembiayaan kredit, sehingga minat beli sangat bergantung pada skema cicilan dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Di saat yang sama, tren kendaraan listrik mulai mencuri perhatian, meski adopsinya masih relatif kecil. Perubahan arah ini membuat produsen motor harus lebih cermat membaca perilaku konsumen, terutama pada segmen yang selama ini sudah ketat dan sangat sensitif terhadap harga.
Perbandingan singkat motor yang relatif lambat terjual
| Motor | Karakter utama | Alasan penjualan melambat |
|---|---|---|
| Kawasaki W175 | Klasik-retro | Fitur sederhana, harga relatif tinggi |
| Yamaha XSR155 | Neo-retro modern | Harga tinggi, segmen terbatas |
| Honda CB150 Verza | Sport entry-level | Desain kurang modern, kalah dari skutik |
| Suzuki GSX-R150 | Sport fairing 150 cc | Pasar sport mengecil, persaingan ketat |
| TVS Ronin | Modern klasik | Brand awareness dan jaringan dealer terbatas |
Pada akhirnya, motor yang penjualannya paling lambat di awal tahun ini bukan berarti tidak diminati sama sekali. Pasarnya tetap ada, tetapi cenderung lebih sempit dan bergantung pada profil pembeli yang spesifik, sehingga volumenya tidak bisa menandingi skutik yang masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.
