Kementerian Perindustrian mencatat subsektor industri logam dasar, termasuk baja, tumbuh 15,71 persen. Kinerja ini didorong kebutuhan dari proyek infrastruktur, manufaktur, dan industri hilir yang terus mencari pasokan material bernilai tambah.
Di tengah pertumbuhan itu, industri baja nasional masih menghadapi persoalan mendasar. Tingkat utilisasi pabrik baru berada di kisaran 52,7 persen, sehingga sebagian kapasitas produksi belum terpakai optimal meski permintaan menunjukkan arah yang lebih kuat.
Pertumbuhan yang ditopang kebutuhan domestik
Indonesia kini berada di peringkat ke-13 produsen baja dunia dengan volume sekitar 19 juta ton. Dalam enam tahun terakhir, produksi baja nasional juga tumbuh konsisten dengan rata-rata sekitar 14 persen per tahun, menandakan sektor ini masih memiliki ruang ekspansi yang besar.
Dorongan permintaan datang dari banyak sisi. Pembangunan infrastruktur, pertumbuhan industri manufaktur, dan kebutuhan sektor hilir membuat baja tetap menjadi bahan baku strategis dalam rantai industri nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai tren kenaikan produksi menunjukkan fondasi industri yang semakin kuat. Ia juga menyebut kondisi tersebut membuka peluang untuk memperbesar kapasitas dan memperdalam struktur industri baja di dalam negeri.
Tantangan utama: utilisasi rendah dan defisit produk
Masalah pertama yang paling terlihat adalah utilisasi yang belum maksimal. Dengan angka 52,7 persen, kapasitas terpasang industri baja masih jauh di atas realisasi produksi, sehingga efisiensi pabrik belum berjalan optimal.
Kondisi itu berhubungan dengan defisit pada produk antara dan hilir. Artinya, sebagian kebutuhan masih harus dipenuhi dari luar negeri karena industri dalam negeri belum sepenuhnya mampu memasok seluruh jenis produk yang dibutuhkan pasar.
Ketergantungan terhadap impor membuat industri baja nasional rentan terhadap gejolak eksternal. Jika pasokan global terganggu atau harga berubah tajam, produsen domestik dan pengguna baja sama-sama bisa terdampak.
Tekanan global ikut menekan pasar domestik
Pemerintah juga menyoroti kelebihan kapasitas produksi baja dunia. Saat produksi global berlebih, negara produsen biasanya mencari pasar baru yang lebih agresif, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Praktik dumping menjadi ancaman lain yang perlu diwaspadai. Produk impor yang dijual dengan harga sangat rendah dapat menekan harga domestik dan melemahkan daya saing produsen lokal, terutama bagi pelaku usaha yang masih terbatas dari sisi skala dan efisiensi.
Kondisi ini membuat industri baja nasional tidak hanya bersaing dalam hal kualitas, tetapi juga harus bertahan dalam tekanan harga yang ketat. Tanpa perlindungan pasar yang memadai, kapasitas produksi dalam negeri berisiko tetap tidak terserap maksimal.
Langkah penguatan yang disiapkan pemerintah
Untuk meredam tekanan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan penguatan industri. Langkah itu mencakup perlindungan pasar, penerapan SNI wajib, kebijakan energi melalui HGBT, penguatan hilirisasi, hingga peningkatan efektivitas kebijakan P3DN.
Berikut rangkaian langkah yang menjadi fokus penguatan industri baja nasional:
- Perlindungan pasar dari lonjakan impor dan praktik perdagangan tidak sehat.
- Penerapan SNI wajib untuk menjaga standar mutu produk.
- Kebijakan energi melalui HGBT agar biaya produksi lebih kompetitif.
- Penguatan hilirisasi agar produk bernilai tambah lebih banyak dihasilkan di dalam negeri.
- Optimalisasi P3DN untuk memperbesar serapan produk lokal.
- Pemberian insentif fiskal guna mendorong investasi baru.
Kombinasi kebijakan itu diperlukan karena tantangan industri baja tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal biaya, standar, dan akses pasar. Jika langkah-langkah tersebut berjalan konsisten, pemanfaatan kapasitas pabrik bisa naik dan substitusi impor menjadi lebih cepat.
Peran industri dan kebutuhan kolaborasi
Dari sisi pelaku usaha, The Indonesian Iron & Steel Industry Association atau IISIA menegaskan pentingnya kolaborasi yang lebih erat dengan pemerintah. Chairman IISIA Muhamad Akbar menyebut organisasi itu ingin menjadi rumah yang solid bagi seluruh pelaku industri baja sekaligus mitra strategis pemerintah.
Pernyataan tersebut mencerminkan kebutuhan akan koordinasi yang kuat di tengah persaingan global yang makin ketat. Industri baja disebut bukan hanya sektor ekonomi, tetapi juga fondasi pembangunan bangsa karena menopang hampir semua proyek besar, mulai dari konstruksi hingga manufaktur.
Jika kolaborasi pemerintah dan industri berjalan efektif, kapasitas produksi dalam negeri berpeluang lebih terserap. Pada saat yang sama, ketergantungan impor dapat ditekan dan struktur industri baja nasional bisa berkembang lebih kokoh.
