Harga Plastik Naik 30-70 Persen, Purbaya Bilang Hanya Sementara

Harga plastik di dalam negeri tengah mengalami kenaikan tajam setelah gangguan impor bahan baku memukul rantai pasok industri. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, lonjakan itu bersifat sementara karena dipicu naiknya harga bahan baku global dan tekanan logistik akibat ketegangan geopolitik.

Purbaya mengatakan hingga kini belum ada permintaan resmi pembebasan relaksasi tarif bea masuk untuk bahan baku plastik dari pelaku industri. Ia menyebut perusahaan perlu lebih dulu berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian sebelum mengajukan kebutuhan keringanan fiskal kepada Kementerian Keuangan.

Kenaikan dipicu bahan baku dan logistik

Purbaya menjelaskan harga plastik ikut terangkat karena bahan baku seperti nafta dan LPG juga naik di pasar internasional. Kondisi itu tidak lepas dari konflik Iran dan Amerika Serikat serta memanasnya situasi di Timur Tengah yang menekan jalur perdagangan dan biaya distribusi.

Ia menekankan bahwa ketika harga bahan baku turun, harga produk plastik juga berpeluang ikut terkoreksi. Karena itu, pemerintah menilai gejolak harga saat ini belum mencerminkan perubahan permanen pada struktur industri, melainkan dampak jangka pendek dari pasar global.

Pemerintah diminta menempuh jalur koordinasi

Menurut Purbaya, pembahasan soal keringanan bea masuk sebaiknya dilakukan melalui Kementerian Perindustrian yang berhubungan langsung dengan pelaku industri. Hingga saat ini, belum ada komunikasi formal antara Kemenkeu dan Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita terkait isu harga plastik.

Purbaya menyatakan setiap usulan kebijakan akan dipertimbangkan jika memang masuk melalui saluran yang tepat. Namun, tanpa permintaan resmi dari industri, pemerintah belum bisa mengambil langkah tambahan untuk bahan baku plastik.

Berikut poin yang menjadi perhatian utama pemerintah dan pelaku usaha:

  1. Harga bahan baku naik di pasar global.
  2. Ongkos logistik terganggu akibat ketegangan geopolitik.
  3. Industri meminta kepastian pasokan untuk menjaga produksi.
  4. Pemerintah menunggu pembahasan teknis melalui Kemenperin.

Industri plastik hadapi tekanan biaya

Kenaikan harga bijih plastik disebut menjadi pukulan besar bagi pelaku UMKM dan industri pengemasan. Pada periode ini, harga bijih plastik di pasar domestik dilaporkan melonjak sekitar 30-70 persen, angka yang cukup tinggi untuk industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

Tekanan itu muncul saat sekitar 22 persen pasokan petrokimia global berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Jalur yang sensitif secara geopolitik ini membuat arus impor ke Indonesia ikut terganggu ketika tensi kawasan meningkat.

Langkah substitusi mulai ditempuh

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri petrokimia hulu telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga produksi tetap berjalan. Upaya itu mencakup perluasan sumber pasokan bahan baku agar industri tidak terlalu bergantung pada satu kawasan.

Selain itu, optimalisasi penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga juga mulai didorong. Pemerintah dan pelaku usaha turut mendorong peningkatan penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi bahan baku agar tekanan pada bahan baku primer bisa berkurang.

Impor masih besar meski kapasitas domestik naik

Meski kapasitas produksi dalam negeri meningkat, Indonesia masih mencatat nilai impor plastik yang besar. Per Februari, nilai impor plastik tercatat sekitar Rp 14,84 triliun, dengan pemasok utama dari China, Thailand, dan Korea Selatan.

Data itu menunjukkan bahwa industri plastik nasional masih bergantung pada pasokan luar negeri untuk menopang kebutuhan produksi. Selama ketergantungan itu belum berkurang, setiap gangguan geopolitik dan lonjakan harga energi akan mudah merembet ke harga produk plastik di pasar domestik.

Kondisi ini membuat pelaku industri menunggu arah kebijakan lanjutan dari pemerintah, terutama yang berkaitan dengan keringanan bahan baku dan stabilitas pasokan. Selama harga bahan baku dunia masih bergejolak, harga plastik di dalam negeri diperkirakan tetap sensitif dan berpotensi berubah mengikuti dinamika pasar global.

Exit mobile version