Penjualan mobil Low Cost Green Car atau LCGC di Indonesia kembali tertekan pada kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dirilis pada April 2026, total pengiriman hanya mencapai 28.831 unit, atau turun 29,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa segmen mobil murah tidak lagi sesederhana slogan awalnya. Harga yang makin mendekati Rp180 juta hingga Rp200 juta, ditambah tekanan daya beli dan persaingan dari mobil listrik berharga kompetitif, membuat pasar LCGC kehilangan sebagian daya tariknya.
Harga yang Bergeser dari Target Awal
LCGC dulu hadir dengan janji mobil terjangkau untuk kelas menengah bawah. Namun, perkembangan biaya produksi, tambahan fitur, dan tuntutan regulasi emisi mendorong banderol mobil-mobil di segmen ini naik jauh dari target semula di bawah Rp150 juta.
Perubahan harga itu berdampak langsung pada minat beli konsumen. Saat harga mobil masuk ke kisaran yang lebih tinggi, limbah psikologis “mobil murah” ikut memudar dan membuat pembeli mulai membandingkan LCGC dengan model lain yang menawarkan teknologi lebih modern.
Tekanan Ekonomi Menekan Konsumen
Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menilai penurunan penjualan LCGC sangat dipengaruhi faktor ekonomi makro. Ia menyoroti inflasi, suku bunga tinggi, dan melemahnya daya beli sebagai kombinasi yang menekan keputusan pembelian masyarakat.
"Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil, selain itu, kenaikan harga segmen terbesar LCGC juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen," ujar Yannes Pasaribu.
Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan penyusutan kelompok kelas menengah di Indonesia, dari 21,45 persen pada 2019 menjadi 17,13 persen pada Oktober 2024. Perubahan komposisi ini penting karena kelas menengah selama ini menjadi basis utama pembeli mobil LCGC.
Daya Beli Naik Lebih Lambat dari Harga Mobil
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, melihat ada ketimpangan yang semakin besar antara kenaikan pendapatan dan kenaikan harga kendaraan. Menurut dia, upah kelas menengah rata-rata tumbuh sekitar 3,5 persen per tahun, sedangkan harga mobil bisa naik 5 persen hingga 7 persen dalam periode yang sama.
"Pendapatannya itu memang kalau kelas menengah itu, rata-rata setiap tahunnya mungkin naiknya 3,5 persen setiap tahun. Nah tapi kalau kita lihat harga mobil misalkan naiknya 5-7 persen," ujar Josua Pardede.
Kondisi tersebut membuat konsumen menengah bawah makin berhati-hati dalam mengalokasikan dana. Pembelian mobil kini tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan yang bisa dipenuhi dengan mudah, melainkan keputusan besar yang harus ditimbang bersama biaya hidup lain.
EV Mulai Menyita Perhatian
Selain faktor ekonomi, segmen LCGC juga menghadapi tekanan baru dari kendaraan listrik. Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menyebut mobil listrik dengan harga sekitar Rp200 jutaan kini mulai menjadi alternatif serius bagi konsumen yang sebelumnya melirik mobil murah berbahan bakar bensin.
"Karena sekarang dengan Rp 200 jutaan orang sudah bisa dapat mobil listrik dengan desain bagus dan fitur lengkap," kata Jongkie Sugiarto.
Perubahan preferensi ini menunjukkan bahwa konsumen mulai melihat nilai lebih dari sebuah kendaraan, bukan hanya harga beli awal. Selisih harga yang tipis antara LCGC dan EV membuat sebagian pembeli memilih teknologi yang dianggap lebih maju, terutama jika fitur dan biaya pajaknya dinilai lebih menarik.
Berikut beberapa faktor utama yang menekan pasar LCGC saat ini:
- Harga mobil naik ke kisaran Rp180 juta hingga Rp200 juta.
- Daya beli masyarakat menurun akibat inflasi dan suku bunga tinggi.
- Porsi kelas menengah menyusut dalam beberapa tahun terakhir.
- Mobil listrik berharga kompetitif mempersempit ruang pasar.
Pasar Masih Ada, tetapi Persaingan Makin Ketat
Meski tertekan, segmen LCGC belum sepenuhnya kehilangan pasar. Kebutuhan akan kendaraan pribadi tetap ada, terutama di daerah dengan mobilitas tinggi dan akses transportasi umum yang terbatas.
Namun, konsumen kini jauh lebih kritis saat membandingkan harga, efisiensi, fitur keselamatan, dan teknologi. Dalam situasi seperti ini, LCGC tidak lagi hanya bersaing dengan mobil sekelasnya, tetapi juga dengan model lain yang menawarkan nilai tambah lebih besar di kisaran harga yang tidak terlalu jauh berbeda.







