Penjualan mobil Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV di Indonesia turun tajam pada periode distribusi terbaru. Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, volume pengiriman pada Maret tercatat 345 unit, turun 47,96 persen dibandingkan Februari yang mencapai 663 unit.
Pelemahan ini terjadi saat pasar otomotif nasional menghadapi tekanan musiman dari libur panjang dan berkurangnya hari kerja efektif. Kondisi tersebut membuat pengiriman unit dari pabrikan ke diler melambat, meski minat terhadap kendaraan elektrifikasi masih tetap ada di segmen tertentu.
Penurunan pasar terjadi setelah performa sempat menguat
Data Gaikindo menunjukkan distribusi PHEV pada Januari berada di angka 502 unit sebelum naik ke 663 unit pada bulan berikutnya. Namun, tren itu berbalik tajam pada Maret dan membuat pasar menyusut hampir separuh dari capaian bulan sebelumnya.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar PHEV masih sangat sensitif terhadap faktor kalender dan aktivitas logistik. Saat periode libur keagamaan datang, pengiriman kendaraan cenderung menurun karena jadwal operasional diler dan pabrik tidak berlangsung normal.
Merek China tetap mendominasi pasar PHEV
Di tengah pelemahan total pasar, pabrikan asal China masih memegang kendali utama di segmen PHEV nasional. Chery mencatat distribusi terbesar dengan 160 unit, meski angka itu turun jauh dari 457 unit pada Februari.
Kontributor terbesar Chery datang dari Tiggo 8 CSH dengan 105 unit, disusul Tiggo 9 CSH sebanyak 55 unit. Posisi berikutnya ditempati Geely lewat model Starray EM-i Max dengan 62 unit, lalu Jaecoo J7 SHS yang mengirim 53 unit.
Wuling juga mengalami penurunan cukup dalam pada periode yang sama. Model Darion PHEV turun dari 109 unit pada Februari menjadi 38 unit pada Maret, menunjukkan bahwa kontraksi pasar tidak hanya terjadi pada satu merek, tetapi meluas ke beberapa pemain utama.
Rincian distribusi model PHEV yang menonjol
Berikut daftar model yang mencatat volume distribusi besar pada Maret:
- Tiggo 8 CSH: 105 unit
- Tiggo 9 CSH: 55 unit
- Geely Starray EM-i Max: 62 unit
- Jaecoo J7 SHS: 53 unit
- Jaecoo J8 SHS ARDIS: 21 unit
- Wuling Darion PHEV: 38 unit
Data tersebut memperlihatkan persaingan yang cukup ketat di antara merek-merek elektrifikasi baru di Indonesia. Meski volume masih kecil dibandingkan pasar mobil nasional secara keseluruhan, segmen PHEV mulai membentuk peta kompetisi yang lebih jelas.
Faktor libur panjang jadi penekan utama distribusi
Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto, menegaskan bahwa penurunan kali ini memang terkait dengan periode libur besar keagamaan. Ia menyebut ada penurunan dibandingkan Februari karena Hari Raya Idul Fitri jatuh pada bulan Maret.
Keterangan itu sejalan dengan pola distribusi industri otomotif yang biasanya melemah saat hari kerja efektif berkurang. Dalam praktiknya, pengiriman kendaraan bergantung pada kesiapan produksi, jadwal logistik, dan aktivitas diler yang harus menyesuaikan dengan libur nasional.
Pasar PHEV masih bergerak dalam fase awal
Meski turun tajam, data Maret tetap penting untuk membaca arah perkembangan pasar PHEV di Indonesia. Segmen ini masih berada dalam fase pertumbuhan awal, sehingga fluktuasi bulanan bisa sangat dipengaruhi oleh stok, promosi, jaringan diler, dan kesiapan model baru.
Ke depan, pergerakan pasar PHEV akan bergantung pada konsistensi pasokan, strategi harga, serta penerimaan konsumen terhadap teknologi plug-in hybrid. Dalam situasi saat ini, angka distribusi 345 unit pada Maret menjadi gambaran bahwa pasar masih punya ruang tumbuh, tetapi juga rentan terhadap gangguan musiman yang langsung memukul volume penjualan.







