Honda Brio Modifikasi Bawa Fadil Wijaya Juara Kelas F.3, Target 20 Besar Berujung Puncak

Pereli asal Kalimantan Timur, Fadil Wijaya, berhasil mencuri perhatian pada seri perdana Kejurnas Sprint Rally 2026 di Sport Center Sumut, Deli Serdang, Sumatera Utara. Dengan Honda Brio modifikasi, ia bukan hanya mampu bertahan di persaingan nasional, tetapi juga tampil sebagai juara Kelas F.3.

Capaian itu terasa menarik karena kelas yang diikuti Fadil dihuni mobil-mobil berpenggerak roda depan dengan kapasitas mesin 1.601 hingga 2.500 cc atau 1.400 cc turbo. Meski Brio yang dipakai berstatus city car, performanya tetap bisa bersaing di tengah lawan-lawannya yang secara spek lebih besar.

Brio yang dipersiapkan matang

Fadil turun bersama navigator Awang Dedy dan langsung menunjukkan performa stabil sejak awal lomba. Dari total 51 peserta yang tampil, pasangan ini menuntaskan pertandingan di posisi ke-18 secara keseluruhan, sekaligus menegaskan bahwa mobil kecil pun bisa kompetitif jika set-up dan eksekusinya tepat.

Menariknya, ubahan pada mobil tidak disebut sangat ekstrem. Fadil mengungkapkan bahwa Brio miliknya masih mengandalkan set-up musim lalu yang dinilai sudah optimal untuk kebutuhan balap reli sprint.

“Mobil Brio ini perubahannya tidak banyak. Untuk mesin dan suspensi masih mengandalkan setup tahun lalu dan sudah optimal,” kata Fadil, menekankan bahwa evaluasi teknis menjadi kunci menjaga konsistensi mobil di lintasan.

Mesin Jazz dan suspensi khusus jadi andalan

Pada sektor mesin, Honda Brio tersebut sudah mengusung mesin 1.5 liter milik Honda Jazz. Kombinasi ini memberi peningkatan performa yang jauh lebih baik dibandingkan mesin standar Brio, sehingga mobil lebih siap menghadapi tuntutan lintasan sprint rally.

Di bagian kaki-kaki, mobil ini memakai suspensi Aragosta yang disetel oleh Whooosah Tuning di bawah komando Arce Meyer. Setelan suspensi ini membantu Brio tetap stabil saat dipacu di lintasan cepat dan harus melewati berbagai perubahan karakter permukaan jalan.

Konsisten di empat Special Stage

Performa Fadil juga terlihat dari catatan waktunya yang stabil di empat Special Stage. Ia mencatat 5 menit 28,8 detik pada SS1, lalu membaik menjadi 5 menit 24,1 detik di SS2.

Pada SS3, waktunya tercatat 5 menit 25,2 detik, sebelum menutup lomba dengan 5 menit 27,5 detik di SS4. Akumulasi empat SS itu menghasilkan total waktu 21 menit 45,6 detik.

Konsistensi ini menjadi modal penting bagi Fadil untuk menjaga posisi di klasemen dan membuktikan bahwa hasil akhirnya bukan kebetulan. Dalam reli sprint, selisih waktu kecil sering menentukan hasil akhir, sehingga stabilitas performa menjadi faktor yang sangat berpengaruh.

Target masuk 20 besar terlampaui

Fadil sebelumnya mengaku sudah menargetkan finis di 20 besar berdasarkan hasil latihan yang menunjukkan ritme balapnya cukup kuat. Target itu akhirnya tercapai, bahkan dengan tambahan kemenangan di kelas yang diikutinya.

“Kalau dari latihan, catatan waktu saya konsisten dan bisa memimpin. Jadi saat lomba, tugasnya tinggal mempertahankan performa,” ujarnya.

Pencapaian ini juga terasa spesial karena pada musim sebelumnya Fadil beberapa kali naik podium, tetapi belum berhasil meraih posisi teratas. Keberhasilan menjadi juara Kelas F.3 akhirnya menjadi pembuktian bahwa persiapan teknis, konsistensi waktu, dan pemahaman karakter mobil bisa membawa hasil maksimal.

Dengan hasil tersebut, Honda Brio modifikasi kembali menunjukkan bahwa mobil kompak pun punya peluang besar di arena reli nasional jika dibekali mesin yang tepat, suspensi yang pas, dan strategi balap yang rapi. Fadil pun menegaskan posisinya sebagai salah satu pereli yang patut diperhitungkan di persaingan Kejurnas Sprint Rally.

Source: www.liputan6.com
Terkait