Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan solar memicu perubahan cepat di pasar mobil bekas Jakarta. Di kawasan MGK Kemayoran, Jakarta Pusat, minat terhadap mobil listrik bekas terlihat meningkat karena konsumen mencari kendaraan dengan biaya operasional yang lebih efisien.
Pergerakan ini muncul sebagai reaksi spontan dari masyarakat setelah penyesuaian harga energi di dalam negeri. Meski begitu, pelaku showroom menilai lonjakan tersebut belum tentu bertahan lama karena pasar masih sangat dipengaruhi sentimen sesaat.
Minat naik di tengah pergeseran perilaku konsumen
Andi, pemilik showroom Jordy Motor di MGK Kemayoran, melihat perputaran mobil listrik bekas sedang lebih baik dari biasanya. Ia menyebut situasi itu lebih mirip efek panik daripada perubahan preferensi yang benar-benar permanen.
“Ya itu sih cuma kayak panik ini aja sih. Mereka ke mobil listrik, walaupun saya enggak stok, saya lihat memang perputarannya mobil listrik lagi bagus,” kata Andi.
Menurut pengamatannya, konsumen sekarang lebih sigap menghitung biaya harian saat harga BBM naik. Mobil listrik bekas lalu dipandang sebagai opsi praktis untuk menekan pengeluaran, terutama bagi pembeli yang ingin mobilitas lebih hemat.
Mobil listrik masih jadi pilihan kelompok tertentu
Andi menyebut mobil listrik saat ini lebih banyak diminati sebagai kendaraan pendamping oleh konsumen dengan daya beli lebih tinggi. Kelompok ini biasanya sudah memiliki mobil bensin, lalu menambah mobil listrik untuk kebutuhan perjalanan yang masih berada dalam jarak tempuh tertentu.
“Terus mobil sekarang gini tinggal mobil listrik kalau mereka yang jarak tempunya masih dalam pasti sih beli mobil listrik selain punya mobil bensin. Jadi udah seperti alternatif mobil kedua,” ujarnya.
Pola itu menunjukkan bahwa lonjakan minat belum merata ke semua lapisan pembeli. Di pasar, mobil listrik masih sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti penuh dari kendaraan konvensional yang sudah dimiliki.
Segmen menengah ke bawah masih berhitung
Di sisi lain, konsumen kelas menengah ke bawah belum banyak beralih ke kendaraan berbasis baterai. Andi menilai kelompok ini masih cenderung memilih mobil bensin berkapasitas mesin kecil karena dinilai lebih sesuai dengan kemampuan finansial dan kebutuhan harian.
“Mereka (akan) pilih mobil listrik. Kalau yang duitnya lumayan. Tapi kalau yang kelas menengah ke bawah mereka pasti belinya mobil bensin tapi yang cc (kubikasi) kecil gitu,” ungkapnya.
Gambaran ini menegaskan bahwa harga BBM memang mendorong pencarian alternatif, tetapi faktor harga beli tetap menjadi penentu utama. Artinya, mobil listrik bekas belum otomatis menjadi pilihan massal meski minatnya sedang naik.
Sentimen harga masih dominan di pasar
Fenomena di MGK Kemayoran memperlihatkan bahwa pasar kendaraan ramah lingkungan ikut sensitif terhadap perubahan harga energi. Saat BBM naik, konsumen langsung melirik opsi yang dianggap lebih hemat, termasuk mobil listrik bekas yang sebelumnya belum tentu masuk daftar utama.
Namun, Andi melihat adanya kemungkinan minat kembali normal saat kebijakan lain ikut memengaruhi pasar. Ia menyinggung potensi penerapan pajak pada kendaraan listrik yang dapat mengubah kembali pertimbangan pembeli di kemudian hari.
“Untuk (mobil listrik) bekas, gitu sih. Tapi kan itu sementara. Karena pemerintah juga bakal mengenakan pajak juga,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan minat terhadap mobil listrik bekas tidak berdiri sendiri. Perubahan harga BBM, daya beli konsumen, dan arah kebijakan pemerintah sama-sama membentuk dinamika pasar yang bergerak cepat di Jakarta.
