Mobil China Ambil Nyaris 1 Dari 5 Pasar Baru Indonesia, Jepang Mulai Tertekan

Penjualan mobil asal China di Indonesia kini bergerak cepat dan mulai mengubah peta persaingan pasar. Dalam tiga bulan pertama 2026, hampir satu dari lima mobil baru yang terjual di Indonesia berasal dari merek China.

Data Gaikindo yang dirilis pada Selasa (14/4/2026) menunjukkan total penjualan wholesales mencapai 209.021 unit pada kuartal I-2026. Dari jumlah itu, merek China secara kolektif menyumbang 37.115 unit atau sekitar 17,76 persen pangsa pasar, sementara penjualan ritel mereka mencapai 34.803 unit atau setara 16,42 persen.

Merek China makin kuat di pasar nasional

Kenaikan ini menunjukkan bahwa merek China tidak lagi hadir sebagai pemain pelengkap. Mereka kini masuk ke kelompok merek yang paling diperhitungkan, terutama karena strategi produk yang agresif dan pilihan model yang semakin beragam.

BYD masih menjadi penggerak utama di kelompok merek China. Dengan lini produk seperti Atto 1, Atto 3, Dolphin, dan Seal, BYD mencatat wholesales 12.473 unit, lalu ritel 10.265 unit pada Januari-Maret 2026.

Jaecoo juga mencuri perhatian dengan capaian 8.065 unit wholesales dan 7.927 unit ritel. Brand premium di bawah naungan Chery itu disebut mendapat dorongan kuat dari Jaecoo J5 EV yang mulai mengalir ke konsumen sejak akhir tahun lalu.

Peta penjualan merek China di Indonesia

Di bawah BYD dan Jaecoo, Wuling tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain penting di pasar Indonesia. Merek ini membukukan 3.594 unit wholesales dan 4.643 unit ritel, diikuti Chery dengan 3.211 unit wholesales dan 3.433 unit ritel.

Geely juga menorehkan angka yang cukup mencolok dengan 2.965 unit wholesales dan 2.693 unit ritel. AION menyusul dengan 2.148 unit wholesales dan 1.940 unit ritel, sedangkan Denza mencatat 1.117 unit wholesales dan 867 unit ritel.

Di kelompok berikutnya ada GWM, Jetour, dan XPeng yang juga mulai menambah warna persaingan. Meski volumenya masih terbatas, kehadiran merek-merek itu menunjukkan penetrasi pabrikan Tiongkok terus meluas di berbagai segmen pasar.

Penilaian Gaikindo soal tren ini

Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, menilai lonjakan merek China tidak terjadi tanpa alasan. Ia menyebut kombinasi harga yang kompetitif, fitur yang semakin canggih, dan kualitas yang kian membaik menjadi faktor utama.

“Peningkatan penetrasi merek China tak lepas dari kombinasi harga yang kompetitif, fitur yang semakin canggih, serta kualitas yang kian membaik,” ujar Jongkie melansir Kontan, Rabu (15/04/2026).

Ia juga menilai tren ini dapat memberi dampak positif bagi industri otomotif nasional. Menurutnya, merek yang berhasil di Indonesia biasanya akan melanjutkan langkah dengan investasi yang lebih serius, termasuk pembangunan pabrik lokal.

Toyota masih memimpin, tetapi tekanan makin nyata

Meski merek China naik cepat, dominasi pasar nasional belum berpindah tangan. Toyota masih memimpin penjualan mobil penumpang dengan 64.416 unit atau 30,4 persen pangsa pasar pada periode Januari-Maret 2026.

Di belakang Toyota, Daihatsu membukukan 34.653 unit, Suzuki 19.026 unit, Mitsubishi Motors 18.469 unit, dan Honda 13.001 unit. Komposisi ini menunjukkan bahwa merek Jepang tetap memegang kendali, meski tekanan dari pemain baru semakin terasa.

Pada tingkat wholesales, Toyota juga masih menguasai pasar dengan sekitar 60 ribuan unit dan pangsa pasar 29 persen. Data ini menegaskan bahwa pertumbuhan merek China belum cukup untuk menyalip pemimpin lama, tetapi laju kenaikannya sudah sulit diabaikan.

Elektrifikasi ikut mendorong perubahan pasar

Perubahan preferensi konsumen juga terlihat dari lonjakan kendaraan listrik. Penjualan mobil listrik secara wholesales mencapai 33.150 unit pada kuartal pertama 2026, naik 95,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan itu didorong oleh semakin banyaknya pilihan model baru dengan fitur modern dan harga yang kompetitif. Insentif pajak serta pembebasan aturan ganjil-genap di kota besar juga ikut mempercepat minat konsumen terhadap kendaraan listrik.

Segmen plug-in hybrid atau PHEV pun mengalami kenaikan tajam menjadi 1.510 unit, dari hanya puluhan unit pada periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, mobil berbahan bakar konvensional tetap mengalami tekanan, meski masih menjadi tulang punggung pasar nasional.

Dengan penetrasi merek China yang terus naik, elektrifikasi yang berkembang cepat, dan pemain lama yang masih mempertahankan volume besar, pasar otomotif Indonesia kini berada dalam fase persaingan baru yang lebih dinamis. Jika pola ini berlanjut, merek China berpeluang makin dalam menanamkan pengaruhnya di pasar mobil baru dalam beberapa periode mendatang.

Terkait