Skutik Maxi Kuasai Penjualan Yamaha di Sumatra, Nmax Neo Jadi Motor Paling Dicari

Dominasi skutik Maxi ikut mengangkat penjualan sepeda motor Yamaha di wilayah Sumatra, terutama pada kuartal pertama 2026. Di antara berbagai lini yang dipasarkan, Nmax Neo muncul sebagai penyumbang terbesar di segmen ini dan memperkuat posisi Yamaha di pasar setempat.

PT Alfa Scorpii selaku diler utama mencatat kategori AT Premium atau skutik bongsor menyumbang sekitar 60 persen dari total penjualan. Kontribusi tersebut jauh lebih besar dibandingkan kategori lain seperti Classy dan model entry level seperti Gear.

Minat pasar condong ke skutik premium

General Manager Marketing PT Alfa Scorpii, Joni Lie, menyebutkan bahwa konsumen di Sumatra masih memberi porsi besar pada motor matik kelas premium. Ia menjelaskan, “AT Premium kira-kira kontribusinya 50-60% lah. Baru disusul dengan classy, baru selanjutnya tipe-tipe seperti Gear.”

Pola ini menunjukkan bahwa skutik berukuran besar tidak hanya menjadi pilihan gaya, tetapi juga dianggap sesuai dengan kebutuhan mobilitas di wilayah tersebut. Produk di kelas premium dinilai masih menjadi penopang utama penjualan Yamaha di tengah dinamika pasar yang bergerak bertahap pulih.

Nmax Neo unggul atas varian Turbo

Di dalam keluarga Maxi, preferensi konsumen terbagi antara varian standar dan model dengan teknologi mesin terbaru. Joni Lie menyebut komposisi permintaan masih didominasi Nmax Neo dibandingkan varian Turbo yang juga beredar di pasar.

“So far (motor paling laris segmen Maxi) ya 60-40 (persen) lah. 60-nya yang Neo, yang 40-nya turbo,” ujarnya.

Data tersebut memperlihatkan bahwa konsumen di Sumatra belum sepenuhnya bergeser ke varian yang lebih baru. Pilihan terhadap Neo tetap kuat, sementara Turbo mulai ikut menyerap permintaan di segmen yang sama.

Daya beli ikut terbantu sektor komoditas

Kinerja penjualan Yamaha di Sumatra juga berkaitan dengan kondisi ekonomi wilayah yang masih bertumpu pada komoditas, terutama sawit. Joni Lie menyebut situasi harga sawit yang membaik memberi dampak langsung pada daya beli masyarakat di Sumatra Utara, Riau, dan sebagian Aceh.

“Iya betul, karena di Sumatera Utara kan perkebunan di sawit. Terus di Riau Daratan juga sama, sebagian di Aceh juga sama. Nah kondisi sekarang kan lagi baik ya, jadi otomatis salah satu faktor demand itu bisa lebih bagus daripada tahun lalu,” kata Joni Lie.

Pergerakan harga komoditas membuat minat pembelian kendaraan baru ikut membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam konteks pasar motor, dorongan daya beli menjadi faktor penting bagi segmen skutik premium yang nilainya relatif lebih tinggi.

Dampak bencana sempat menekan pasar

Meski pasar menunjukkan pemulihan, penjualan motor di Aceh sempat terdampak cukup berat akibat bencana alam. Joni Lie mengatakan situasi itu membuat konsumen menahan pembelian karena ketidakpastian kondisi di lapangan.

“Hampir 60-70 persen (penurunan). Kemarin waktu kondisi baru bencana ya, karena kan tunggu kemarin kalau kita isu di Pasar itu kan karena mau jadi bencana nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan pemerintah membuat proses pemulihan berlangsung lebih cepat sehingga aktivitas ekonomi kembali bergerak. Kondisi pasar yang sempat tertahan pun perlahan mencair setelah jalur distribusi dan operasional diler kembali mendekati normal.

“Kalau bencana kemarin yang terjadi di Aceh itu pengaruh sekali. Nah, tapi karena support dari pemerintah yang cukup cepat, sehingga untuk kembali normal itu cepat juga,” kata Joni Lie.

Skutik tetap menjadi tulang punggung pasar nasional

Gambaran di Sumatra sejalan dengan tren nasional yang masih sangat dikuasai skutik. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), skutik menguasai 91,7 persen pasar domestik tahun lalu.

Di bawah skutik, motor bebek atau underbone menyumbang 4,46 persen, tipe sport 3,51 persen, dan motor listrik masih berada di bawah satu persen. Dengan komposisi seperti itu, dominasi skutik Maxi di Sumatra menunjukkan bahwa segmen ini bukan hanya kuat secara nasional, tetapi juga sangat relevan di pasar regional yang dipengaruhi kondisi ekonomi, komoditas, dan pemulihan pascabencana.

Terkait