GAC Indonesia menilai kenaikan harga BBM dapat mempercepat minat masyarakat beralih ke kendaraan listrik. CEO GAC Indonesia Andry Ciu menyebut alasan utama perpindahan itu tetap soal efisiensi biaya, mulai dari konsumsi energi, perawatan, hingga pajak kendaraan.
Pandangan tersebut muncul di tengah ketidakpastian harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Dalam situasi seperti ini, kendaraan listrik dinilai makin relevan karena konsumen cenderung mencari opsi mobilitas yang lebih hemat dan lebih stabil dari sisi biaya operasional.
Efisiensi biaya masih jadi daya tarik utama
Andry Ciu mengatakan, penyesuaian aturan pajak tidak otomatis menghentikan minat konsumen terhadap kendaraan listrik. Ia menekankan bahwa penghematan tetap menjadi keunggulan utama EV dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE).
“Bisa (masyarakat akan tetap pindah ke kendaraan listrik), karena kan penggunaan kendaraan EV itu intinya adalah penghematan biaya. Baik secara biaya penggunaan bahan bakar, maupun biaya maintenance, termasuk juga biaya pajak kendaraan,” ujar Andry Ciu, CEO GAC Indonesia.
Menurut dia, untuk tiga aspek itu kendaraan listrik masih lebih unggul dibanding mobil berbasis teknologi ICE. Karena itu, perubahan regulasi pajak dinilai tidak cukup kuat untuk membalik arah tren yang sudah terbentuk di pasar.
Kenaikan BBM bisa dorong pasar EV
GAC Indonesia juga melihat peluang pertumbuhan kendaraan listrik terbuka lebar jika harga BBM terus bergerak naik. Andry menilai situasi geopolitik global dapat memengaruhi harga energi dan berimbas pada keputusan belanja konsumen di Indonesia.
“Ada peluang juga (kendaraan listrik di Indonesia akan terus tumbuh), karena kan memang harga BBM mau naik, juga kita belum tahu kelanjutan peperangan yang di Timur Tengah itu sampai kapan, dampaknya seperti apa di kita,” kata Andry Ciu.
Ia menambahkan, pasar masih mencermati kemungkinan dampak lebih jauh terhadap pasokan energi fosil di dalam negeri. Kekhawatiran soal kelangkaan BBM ikut memberi perhatian lebih pada kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih efisien.
Aturan pajak baru tidak hentikan minat konsumen
Di sisi lain, pemerintah telah mengubah kebijakan yang sebelumnya memberi keistimewaan bebas pajak bagi kendaraan listrik. Melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2026, kendaraan bermotor listrik kini memiliki dasar pengenaan pajak baru, termasuk untuk Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atau BBNKB, serta Pajak Alat Berat.
Meski begitu, GAC Indonesia menilai perubahan aturan tersebut tidak akan langsung menahan laju adopsi EV. Pasar dinilai tetap akan mempertimbangkan total biaya kepemilikan, terutama ketika selisih pengeluaran harian menjadi semakin terasa di tengah potensi kenaikan BBM.
Harga BBM nonsubsidi jadi sorotan pasar
Saat ini, penyesuaian harga BBM disebut baru menyasar jenis nonsubsidi tertentu. Andry mencontohkan kenaikan yang sudah terjadi pada Pertamax Turbo dan Pertamina Dex, sementara pasar masih menunggu kepastian apakah jenis lain seperti Pertamax dan Pertalite ikut naik.
“Apakah Pertamax dan Pertalite juga akan ada kenaikan, kita belum tahu. Tapi sementara ini, yang sudah pasti Pertamax Dex sama Pertamax Turbo yang sudah naik,” ujar Andry Ciu.
Kondisi tersebut membuat kendaraan listrik semakin sering dipandang sebagai opsi yang rasional bagi konsumen yang ingin menekan biaya harian. Selama harga BBM bergerak naik dan ketidakpastian energi belum reda, argumen efisiensi akan terus menjadi modal utama kendaraan listrik di Indonesia.
