Polytron Fox 350 Naik Tanjakan Bogor-Bandung 158 Km Tanpa Tumbang, Kuat Memang tapi Charging Tak Bisa Asal

Touring Polytron Fox 350 dari Bogor ke Bandung menunjukkan bahwa motor listrik ini tidak hanya cocok untuk komuter harian. Dalam pengujian rute antarkota sejauh 158,2 km, motor ini tetap mencapai tujuan dengan sisa baterai 36 persen.

Hasil itu menjadi catatan penting bagi calon pengguna motor listrik yang ingin menempuh perjalanan lebih jauh. Namun, rute ini juga memperlihatkan bahwa kemampuan jelajah Fox 350 sangat bergantung pada strategi pengisian daya dan pengelolaan suhu saat menghadapi tanjakan panjang.

Rute perjalanan dimulai dari Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor menuju Arjasari, Kabupaten Bandung. Jalur yang dipilih tidak ringan karena melewati kawasan Puncak, Cianjur, lalu masuk ke wilayah Bandung dengan kontur jalan menanjak di beberapa titik.

Motor berangkat dengan baterai penuh 100 persen. Beban yang dibawa juga tidak ringan karena totalnya lebih dari 100 kg, termasuk pengendara dan barang bawaan.

Ujian utama datang di jalur menanjak

Bagian awal perjalanan menjadi pengujian paling berat. Jalan menuju Puncak didominasi tanjakan sehingga performa motor listrik benar-benar dipaksa bekerja lebih keras.

Setelah menempuh sekitar 41 km, sisa baterai tercatat tinggal 35 persen. Pada fase ini, indikator suhu dinamo mulai menyala dengan temperatur yang disebut sudah menembus lebih dari 140 derajat Celcius.

Meski suhu meningkat tinggi, tenaga motor dilaporkan tetap stabil. Tidak ada penurunan performa yang disebut signifikan selama motor terus digunakan di rute tersebut.

Kondisi itu tetap menjadi catatan penting. Saat suhu terus naik, pengendara disarankan berhenti sejenak agar sistem dapat mendingin sebelum perjalanan dilanjutkan.

Strategi charging jadi penentu

Perjalanan berikutnya membawa motor ke SPKLU PLN UP3 Cianjur. Saat tiba di titik pengisian pertama itu, total jarak yang sudah ditempuh sekitar 68 km dengan sisa baterai 22 persen.

Dalam kondisi baterai seperti itu, mode sport mulai dibatasi. Motor hanya bisa digunakan dalam mode D, yang menunjukkan pentingnya membaca kondisi baterai sebelum memasuki etape berikutnya.

Pengisian daya lalu dilakukan hingga penuh 100 persen. Langkah ini menjadi kunci agar perjalanan antarkota bisa berlanjut dengan aman tanpa memaksa motor bekerja dalam kondisi baterai terlalu rendah.

Fakta tersebut menegaskan bahwa touring dengan motor listrik bukan hanya soal kapasitas baterai. Penentuan lokasi SPKLU dan waktu berhenti mengisi daya menjadi bagian dari strategi perjalanan.

Efisiensi membaik setelah isi ulang

Dari Cianjur, perjalanan dilanjutkan menuju Soreang, Kabupaten Bandung. Jarak etape ini sekitar 70 km dengan kondisi lalu lintas yang disebut cukup padat.

Walau melewati kepadatan kendaraan, Fox 350 tetap melaju stabil. Saat tiba di Padalarang, total jarak tempuh sudah mencapai 114 km dan sisa baterai masih 53 persen.

Angka ini menunjukkan efisiensi energi yang lebih baik setelah pengisian penuh di Cianjur. Artinya, konsumsi daya tidak selalu sama di setiap etape karena sangat dipengaruhi kondisi jalan, tanjakan, dan pola berkendara.

Setibanya di Soreang, total perjalanan telah menyentuh 133 km. Di titik ini, baterai tersisa sekitar 32 persen.

Pengisian singkat lalu dilakukan selama 25 menit. Hasilnya, kapasitas baterai naik menjadi 62 persen untuk menyelesaikan rute akhir menuju tujuan.

Bukti kuat, tapi bukan tanpa batas

Etape terakhir menuju Arjasari menempuh jarak sekitar 18 km. Karakter jalannya berupa jalan pedesaan dengan tanjakan ringan yang masih menuntut suplai daya stabil.

Motor akhirnya tiba di tujuan dengan total jarak 158,2 km. Sisa baterai 36 persen menjadi bukti bahwa Fox 350 masih memiliki cadangan energi yang cukup aman setelah menyelesaikan perjalanan lintas kota ini.

Dari hasil pengujian tersebut, Polytron Fox 350 dinilai cukup andal untuk perjalanan jarak menengah hingga jauh. Namun, ada batas teknis yang juga terlihat jelas selama touring berlangsung.

Sistem penggerak hub drive disebut kurang ideal untuk tanjakan panjang jika dibandingkan dengan sistem mid drive. Karena itu, medan berat tetap menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan sebelum memulai perjalanan.

Manajemen suhu juga muncul sebagai faktor penting. Saat motor dipakai terus-menerus di jalur menanjak, suhu dinamo dapat naik tinggi meski performa masih terasa stabil.

Bagi pengguna yang mempertimbangkan motor listrik untuk touring, hasil perjalanan ini memberi gambaran yang cukup nyata. Fox 350 terbukti mampu dipakai lintas kota, tetapi rencana perjalanan harus disusun dengan cermat, terutama dalam menentukan titik SPKLU, menjaga mode berkendara, dan mengantisipasi tanjakan panjang agar performa tetap optimal sampai tujuan.

Exit mobile version