Mongolia Menjadi Kuburan Mobil Hybrid Bekas Jepang, Baterai Rusak Menumpuk Tanpa Jalan Keluar

Mongolia kini menghadapi ironi di tengah dorongan kendaraan ramah lingkungan. Di negara itu, mobil hybrid bekas asal Jepang masuk dalam jumlah besar dan memang membantu menekan emisi, tetapi arus kendaraan tersebut juga memunculkan masalah limbah baterai yang belum tertangani.

Di ibu kota Ulaanbaatar, Toyota Prius menjadi pemandangan yang sangat umum. Mobil ini juga tersebar hingga ke wilayah pedesaan dan stepa, karena dinilai irit bahan bakar dan cukup tahan menghadapi cuaca ekstrem Mongolia.

Mobil hybrid bekas mendominasi pasar

Data pemerintah setempat menunjukkan kendaraan hybrid menyumbang sekitar 45 persen dari total 1,5 juta unit kendaraan di Mongolia. Sebagian besar kendaraan itu berasal dari Jepang, dan sekitar 80 persen kendaraan impor di negara tersebut datang dari negeri itu.

Popularitas mobil hybrid, terutama Prius, tidak hanya terkait efisiensi bahan bakar. Bagi masyarakat nomaden, kendaraan ini juga punya fungsi praktis sebagai alat kerja untuk menggiring ternak dan mengangkut barang.

Namun, banyak mobil yang masuk merupakan unit bekas dengan usia pakai yang telah jauh berjalan. Kendaraan-kendaraan ini sering dibeli dari lelang di Jepang setelah masa garansi baterai berakhir, lalu diimpor dengan harga murah ke Mongolia.

Masalah muncul saat baterai mulai aus

Persoalan utama tidak terlihat saat mobil masih dipakai, melainkan ketika baterainya mencapai akhir masa pakai. Dalam kondisi Mongolia yang memiliki musim dingin sangat ekstrem, degradasi baterai bisa terjadi lebih cepat dan memperburuk beban pengelolaan limbah.

Baterai hybrid memang tidak setoksik baterai timbal, tetapi tetap membawa risiko jika tidak dikelola dengan benar. Dalam sejumlah kasus, baterai bekas dilaporkan disimpan sembarangan di area terbuka, yang dapat meningkatkan risiko kebakaran dan paparan bahan berbahaya bagi warga sekitar.

Seorang pejabat di Kementerian Transportasi Mongolia mengatakan negaranya menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan limbah berbahaya. “Baterai kendaraan yang sudah tidak terpakai bisa saja berada di halaman rumah warga tanpa pengamanan yang layak. Ini situasi yang sangat berisiko,” ujarnya.

Infrastruktur daur ulang belum siap

Masalah limbah ini bertambah rumit karena fasilitas daur ulang di Mongolia masih terbatas. Saat ini, negara tersebut baru memiliki fasilitas daur ulang baterai timbal dengan kapasitas sekitar 7.000 ton per tahun.

Sementara itu, teknologi untuk mendaur ulang baterai hybrid maupun baterai listrik belum tersedia secara komersial. Kondisi ini membuat ribuan baterai bekas berpotensi menumpuk tanpa jalur pengolahan resmi yang jelas.

Situasi makin sulit setelah pemerintah melarang ekspor limbah baterai sejak 2025. Kebijakan tersebut membuat banyak baterai bekas tertahan di dalam negeri, sementara sejumlah pelaku industri disebut menyimpan puluhan ribu unit tanpa kepastian pengelolaan.

Dilema dari transisi kendaraan hijau

Mongolia kini dianggap menghadapi konsekuensi tak terduga dari transisi kendaraan rendah emisi. Saat mobil hybrid didatangkan, beban pengelolaan limbah tidak ikut berpindah, sehingga negara penerima harus menanggung persoalan baterai yang sudah habis pakai.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Mongolia bisa menjadi lokasi pembuangan teknologi hijau dari negara maju. Di satu sisi, kendaraan hybrid membantu mengurangi polusi, tetapi di sisi lain, tanpa sistem pengelolaan limbah yang matang, manfaat lingkungan itu bisa berubah menjadi beban baru.

Peringatan bagi negara berkembang lain

Fenomena di Mongolia juga memberi pelajaran bagi negara berkembang lain yang agresif mendorong adopsi kendaraan listrik dan hybrid. Tanpa infrastruktur pengelolaan limbah yang siap sejak awal, tren transportasi ramah lingkungan bisa menimbulkan persoalan lingkungan yang berbeda di masa depan.

International Energy Agency mencatat penjualan mobil listrik global telah melampaui 17 juta unit pada 2024, dengan pertumbuhan pesat di negara berkembang. Tren itu menunjukkan transisi menuju mobilitas bersih terus bergerak cepat, tetapi Mongolia memperlihatkan bahwa kesiapan pengelolaan limbah harus berjalan seiring dengan dorongan elektrifikasi kendaraan.

Exit mobile version