CATL kembali menarik perhatian industri kendaraan listrik lewat enam paket baterai baru yang dirancang untuk mempercepat pengisian daya sekaligus memperpanjang jarak tempuh mobil listrik. Dalam ajang Super Technology Day di Beijing, perusahaan asal Tiongkok itu memperkenalkan sejumlah solusi yang diklaim bisa membantu kendaraan melaju hingga 1.000 kilometer.
Di antara enam baterai tersebut, Shenxing Superfast Charging generasi ketiga menjadi sorotan utama karena menawarkan pengisian sangat cepat. CATL menyebut baterai ini dapat mengisi daya dari 10 persen ke 90 persen dalam 6 menit 27 detik, sebuah capaian yang menegaskan persaingan teknologi baterai kini tidak lagi hanya soal kapasitas, tetapi juga efisiensi waktu isi ulang.
Enam baterai yang diperkenalkan CATL
CATL merilis enam paket baterai, yaitu Shenxing Superfast Charging generasi ketiga, Qilin generasi ketiga, Qilin Condensed, Freevoy Super Hybrid generasi kedua, Naxtra Sodium-ion, serta solusi terintegrasi yang mencakup supercharging dan penukaran baterai. Keenamnya menunjukkan pendekatan berbeda untuk menjawab kebutuhan pasar kendaraan listrik yang makin beragam.
Perusahaan menempatkan Shenxing sebagai produk andalan karena fokus pada pengisian daya ekstrem. CATL juga memaparkan bahwa pengisian dari 10 persen ke 35 persen hanya perlu sekitar satu menit, sementara dari 10 persen ke 88 persen memakan waktu 3 menit 44 detik.
Jarak tempuh 1.000 km jadi target utama
Kombinasi kecepatan isi daya dan efisiensi energi menjadi alasan mengapa paket baterai baru ini disebut mampu mendukung jarak tempuh sangat jauh. Dalam penjelasan yang dikutip dari PR Newswire, rangkaian teknologi CATL dirancang untuk menopang mobil listrik yang bisa melaju hingga 1.000 kilometer.
Salah satu sorotan lain datang dari Qilin Condensed. Menurut keterangan yang disampaikan CATL, baterai ini memiliki bobot 650 kilogram dan bisa memberi jarak tempuh sekitar 1.500 kilometer jika dipasang pada sedan, sedangkan pada SUV jaraknya dapat mencapai 1.000 kilometer.
Fokus pada fast charging tanpa mengorbankan umur baterai
Chief Scientist CATL, Wu Kai, menilai baterai LFP sudah mendekati batas densitas energi secara teoretis. Karena itu, pengembangan berikutnya dinilai lebih efektif jika diarahkan pada fast charging ekstrem agar performa tetap seimbang.
Wu Kai juga menjelaskan bahwa baterai NCM masih unggul dalam densitas energi dan tetap menjadi acuan penting dalam persaingan global. Sementara itu, baterai natrium-ion dinilai sangat potensial untuk penggunaan di suhu ekstrem dan sistem penyimpanan energi.
Menurut CATL, tantangan utama dalam mempercepat pengisian daya bukan sekadar arus, tetapi kenaikan suhu yang bisa mempercepat degradasi baterai. Berdasarkan prinsip Arrhenius, kenaikan suhu 10 derajat Celsius dapat menggandakan reaksi samping di dalam baterai.
Teknologi pendinginan dan kontrol jadi kunci
Untuk mengatasi masalah itu, Shenxing Superfast Charging generasi ketiga mengandalkan tiga pendekatan utama. CATL menyebut baterai itu dirancang untuk mengurangi panas saat bekerja, meningkatkan manajemen penyebaran panas, dan menyempurnakan kontrol sistem.
Hasil pengujian internal menunjukkan baterai tetap mempertahankan kapasitas di atas 90 persen setelah 1.000 siklus pengisian daya. Bahkan dalam kondisi suhu minus 30 derajat Celsius, pengisian dari 20 persen ke 98 persen masih bisa dilakukan dalam waktu sekitar 9 menit.
Persaingan baterai makin ketat di industri EV
Peluncuran enam baterai baru ini menunjukkan bahwa kompetisi produsen baterai Tiongkok semakin mengarah ke dua kebutuhan utama konsumen, yaitu waktu pengisian yang singkat dan jarak tempuh yang lebih panjang. CATL mencoba menjawab keduanya lewat pendekatan kimia baterai yang berbeda, mulai dari LFP, NCM, hingga natrium-ion.
Di tengah perkembangan kendaraan listrik yang terus bergerak cepat, langkah CATL memperlihatkan bahwa industri baterai tidak hanya mengejar angka kapasitas di atas kertas, tetapi juga keandalan, ketahanan, dan kemampuan bekerja di berbagai kondisi ekstrem.
