
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan uji jalan biodiesel 50 persen atau B50 pada sektor otomotif berjalan aman hingga April 2026. Dari hasil pemantauan, tidak muncul kendala teknis yang signifikan pada mesin kendaraan diesel selama pengujian berlangsung.
Pengujian ini menjadi bagian penting dari persiapan mandatori B50 yang ditargetkan berlaku di seluruh Indonesia pada 1 Juli 2026. Pemerintah menempatkan kebijakan ini sebagai langkah untuk merespons dinamika harga energi global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Uji jalan dilakukan serentak di enam sektor
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan pengujian B50 dilakukan serentak di enam sektor sejak Desember 2025. Pada sektor otomotif, kendaraan kategori di atas 3,5 ton sudah menuntaskan target jarak tempuh 40.000 km.
Untuk kendaraan di bawah 3,5 ton, uji jalan juga menunjukkan perkembangan sesuai rencana. Eniya menyebut kendaraan di kelompok itu sudah mencapai 40.000 km dari target 50.000 km, dan sisa uji ditargetkan selesai pada Mei sebelum dilanjutkan dengan pengecekan mesin secara menyeluruh atau teardown.
Spesifikasi bahan bakar dinilai lebih ketat
Hasil teknis pengujian menunjukkan kualitas bahan bakar B100 yang digunakan dalam campuran B50 sudah memenuhi spesifikasi yang lebih ketat dibandingkan regulasi B40 sebelumnya. Pengetatan itu mencakup beberapa parameter utama yang dinilai penting bagi performa dan keandalan mesin.
Berikut parameter yang disebutkan dalam evaluasi teknis:
- Kadar air maksimum 300 ppm, turun dari 320 ppm.
- Monogliserida maksimum 0,47 %massa, turun dari 0,5 %massa.
- Kestabilan oksidasi minimal 900 menit, naik dari 720 menit.
Perubahan spesifikasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan pada aspek kualitas bahan baku campuran biodiesel. Pemerintah menilai penyesuaian ini dibutuhkan agar implementasi B50 dapat berjalan lebih stabil saat diterapkan secara luas.
Komponen mesin tetap dalam kondisi baik
Evaluasi sementara juga menunjukkan komponen mesin, pelumas, dan sistem bahan bakar masih berada dalam kondisi prima. Konsumsi bahan bakar pun dilaporkan tetap stabil dan masih berada dalam rentang standar pabrikan.
Dari sisi emisi, hasil pengujian memperlihatkan karbon monoksida atau CO serta opasitas berada di bawah ambang batas yang ditentukan. Temuan ini menjadi salah satu indikator penting bahwa penggunaan B50 sejauh ini tidak menimbulkan gangguan yang berarti pada performa kendaraan diesel yang diuji.
Industri otomotif beri respons positif
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menyambut baik hasil sementara tersebut. Anggota Gaikindo, Abdul Rochim, berharap spesifikasi bahan bakar yang dipakai selama uji jalan bisa menjadi acuan tetap ketika program ini masuk tahap implementasi resmi.
Menurut Rochim, kestabilan hasil uji akan sangat menentukan penerimaan pasar terhadap B50. Ia menegaskan harapan agar spek yang sedang diuji tidak berubah ketika bahan bakar ini dijalankan secara masif.
Dorongan menuju transisi energi yang lebih luas
Capaian uji jalan ini memberi sinyal bahwa transisi ke B50 punya peluang besar untuk diterapkan tanpa mengorbankan keandalan kendaraan diesel. Pemerintah juga menilai kebijakan ini berpotensi mengurangi impor solar dan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya domestik.
Dalam konteks energi nasional, B50 diposisikan bukan hanya sebagai campuran bahan bakar baru, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kemandirian energi. Hasil uji yang aman menjadi modal penting bagi tahap lanjutan sebelum mandatori B50 resmi berlaku pada 1 Juli 2026.
Source: kabaroto.com








