Royal Enfield Bear 650 2026 Tiba di IIMS, Scrambler Bertorsi Galak Ini Dibuka Rp241 Juta

Royal Enfield resmi membawa Bear 650 ke Indonesia melalui ajang IIMS. Model ini masuk sebagai scrambler bermesin besar yang dipasarkan mulai Rp241.000.000 OTR Jakarta.

Kehadiran Royal Enfield Bear 650 langsung menyasar pengendara yang mencari motor bergaya klasik dengan kemampuan lebih serbabisa. Motor ini juga menonjol karena membawa sentuhan inspirasi balap gurun Big Bear Run era 1960-an yang dipadukan dengan perangkat modern.

Harga dan posisi di pasar

Di pasar Indonesia, Bear 650 ditawarkan dalam lima pilihan warna. Varian termurah adalah Boardwalk White dengan harga Rp241.000.000 OTR Jakarta.

Untuk varian yang lebih premium, Royal Enfield menyiapkan pilihan seperti Two Four Nine. Varian tersebut dibanderol Rp247.700.000 OTR Jakarta.

Rentang harga itu menempatkan Bear 650 sebagai pilihan bagi konsumen yang menginginkan motor 650 cc dengan karakter khas scrambler. Fokusnya bukan hanya tampilan, tetapi juga ergonomi yang menunjang posisi duduk tegak dan penggunaan yang lebih santai.

Mesin masih satu basis, karakter dibuat berbeda

Secara teknis, Bear 650 memakai basis mesin yang sama dengan Interceptor 650. Jantung pacunya berupa mesin paralel-twin 648 cc berpendingin oli.

Mesin itu tetap menghasilkan tenaga maksimum 47 bhp. Penyaluran tenaga dilakukan melalui transmisi 6-percepatan.

Perbedaan penting muncul pada sisi torsi. Jika Interceptor 650 berada di angka 52,3 Nm, Bear 650 naik menjadi 56,5 Nm pada 5.150 rpm.

Kenaikan torsi ini membuat karakter motor berubah cukup jelas. Tarikan bawah disebut lebih responsif, sehingga lebih cocok untuk kebutuhan semi off-road atau jalan dengan permukaan yang tidak selalu mulus.

Royal Enfield juga memakai knalpot sistem 2-into-1. Konfigurasi ini ikut memberi identitas suara yang lebih kuat sekaligus membedakan Bear 650 dari saudara satu platformnya.

Kaki-kaki jadi pembeda utama

Sektor kaki-kaki menjadi sisi yang paling menegaskan identitas Bear 650 sebagai scrambler. Di bagian depan, Royal Enfield memasang suspensi upside down dari Showa Big Piston.

Bagian belakang menggunakan dual shock yang telah dikalibrasi ulang. Setelan ini ditujukan untuk meredam guncangan dengan lebih baik saat motor diajak melintasi kontur jalan yang bervariasi.

Karakter scrambler juga diperkuat oleh penggunaan ban radial tubeless berpola belang. Ukurannya 19 inci di depan dan 17 inci di belakang.

Kombinasi roda dan ban tersebut memberi tampilan yang lebih jangkung dan siap diajak keluar dari aspal halus. Pada saat yang sama, konfigurasi ini tetap menjaga keseimbangan untuk penggunaan harian.

Fitur modern di balik desain klasik

Meski tampil dengan nuansa retro, Bear 650 tidak meninggalkan teknologi modern. Panel instrumennya sudah menggunakan layar TFT bulat penuh.

Perangkat ini terintegrasi dengan Google Maps. Sistem itu disebut mirip dengan yang digunakan pada Himalayan 450, sehingga memberi nilai tambah bagi pengendara yang membutuhkan navigasi lebih praktis.

Pendekatan ini menunjukkan arah baru yang kian kuat di lini Royal Enfield. Desain klasik tetap dipertahankan, tetapi fitur digital mulai diberi porsi lebih besar agar motor terasa relevan untuk kebutuhan saat ini.

Bukan sekadar gaya, tetapi juga fungsi

Bear 650 hadir bukan hanya untuk menjual tampang scrambler. Spesifikasi yang dibawanya menunjukkan upaya Royal Enfield untuk menghadirkan motor yang nyaman dipakai setiap hari, tetapi tetap punya daya jelajah lebih luas.

Posisi berkendara tegak menjadi salah satu nilai pentingnya. Format seperti ini biasanya dicari oleh pengendara yang ingin motor terasa rileks di dalam kota, namun tetap siap ketika diajak melewati jalan rusak ringan atau jalur tanah tipis.

Di sisi lain, penggunaan mesin 648 cc memberi karakter yang tetap bertenaga tanpa meninggalkan ciri khas mesin dua silinder Royal Enfield. Dengan tambahan torsi, model ini menawarkan respons yang lebih sesuai untuk karakter scrambler ketimbang sekadar menjadi turunan bergaya dari Interceptor 650.

Peluncuran Bear 650 di IIMS menambah pilihan di segmen motor premium bergaya klasik di Indonesia. Dengan harga mulai Rp241 juta, suspensi Showa, layar TFT bulat dengan Google Maps, serta torsi yang lebih besar dari Interceptor 650, model ini diposisikan sebagai scrambler tangguh bagi pengendara yang menginginkan kombinasi gaya retro, kenyamanan harian, dan kemampuan melibas medan semi off-road.

Terkait