Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai pasar mobil Indonesia sedang bergerak menuju keseimbangan baru di tengah menguatnya merek-merek asal China. Pergeseran ini terlihat ketika dominasi pabrikan Jepang mulai mendapat tantangan yang semakin nyata, terutama lewat kendaraan listrik yang kian diminati konsumen.
Kukuh menyebut perubahan di industri otomotif bukan hal baru karena pasar nasional sudah beberapa kali mengalami peralihan dominasi. Dari kendaraan bermotor buatan Amerika Serikat, lalu masuk era Jepang yang menguasai pasar sejak sekitar 1970-an, kini tekanan baru datang dari produsen China.
Perubahan selera konsumen mendorong persaingan baru
Gaikindo menilai perubahan pilihan konsumen menjadi salah satu faktor yang paling kuat dalam pergeseran pasar. Kehadiran kendaraan listrik memicu minat baru karena teknologi ini menawarkan alternatif yang berbeda dari mobil konvensional.
Kukuh menggambarkan bahwa sejarah industri otomotif selalu bergerak mengikuti kemajuan teknologi dan preferensi masyarakat. Ia menekankan bahwa produsen Jepang dulu juga pernah dianggap sebelah mata, tetapi akhirnya diterima luas karena mampu menawarkan mobil yang lebih terjangkau dan sesuai kebutuhan pasar.
“Muncul produsen Jepang tahun 1970-an dan menawarkan mobil-mobil yang lebih affordable dan populer,” ujar Kukuh. Ia menambahkan bahwa anggapan awal yang meremehkan produk Jepang tidak bertahan lama karena mobil-mobil itu kemudian diterima di banyak negara.
China masuk dengan pola yang mirip, tetapi lewat EV
Menurut Kukuh, kehadiran merek China memiliki pola yang mirip dengan fase sebelumnya, namun dengan modal utama pada kendaraan listrik. Ia menyebut popularitas brand China terdorong oleh kapasitas produksi yang besar dan ekspansi yang agresif ke kawasan Asia serta Eropa.
Kukuh juga menyoroti skala industri China yang besar, dengan penyebutan total produksi sekitar 30 juta unit. Skala itu membuat mereka lebih mudah memperluas pengaruh dan memperkuat posisi di berbagai pasar, termasuk Indonesia.
“Lalu muncullah kendaraan-kendaraan China yang populer dengan EV-nya,” kata Kukuh. Ia menilai penetrasi ini menciptakan shifting yang tidak bisa diabaikan oleh pemain lama di industri otomotif.
Brand lama tidak hilang, tetapi harus beradaptasi
Meski tekanan dari merek China terus meningkat, Gaikindo tidak melihat skenario di mana pabrikan Jepang atau brand lama akan hilang dari pasar Indonesia. Kukuh memperkirakan yang terjadi justru keseimbangan brand, sehingga konsumen punya lebih banyak pilihan sesuai kebutuhan dan preferensi.
Ia menjelaskan bahwa brand konvensional masih akan bertahan, tetapi mereka harus mengadopsi teknologi modern agar tetap relevan. Dalam pandangannya, pasar tidak bergerak ke arah penggantian total, melainkan ke arah penyesuaian antarbrand yang sama-sama berusaha mempertahankan posisi.
“Mungkin nanti yang terjadi adalah keseimbangan brand. Jadi masyarakat punya pilihan,” ujarnya. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa kompetisi ke depan tidak hanya soal harga, tetapi juga soal kemampuan beradaptasi terhadap teknologi baru.
Kukuh juga menyoroti bahwa brand-brand China tidak benar-benar membangun reputasi dari nol ketika masuk ke pasar dunia. Menurut dia, banyak dari mereka melakukan adopsi dan merger untuk mempercepat penerimaan di tingkat global, sehingga langkah ekspansi mereka lebih matang dibanding sekadar masuk dengan produk baru.
“Tidak kemudian menggantikan dan brand lama hilang sama sekali,” kata Kukuh. Dengan dinamika seperti ini, pasar mobil Indonesia diperkirakan akan menjadi arena persaingan yang lebih seimbang antara Jepang dan China, sementara konsumen menikmati lebih banyak pilihan di tengah perubahan teknologi otomotif.






